Tampilkan postingan dengan label Budidaya Air Tawar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budidaya Air Tawar. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Juni 2019

PEMBESARAN IKAN KOI (Cyprinus Carpio)


Pada kegiatan pembesaran Ikan Koi penetasan telur dapat dilakukan dengan dua cara yaitu induk dipindahkan ke tempat lain atau telur dipindahkan ke kolam penetasan. Agar telur menetas dengan baik maka telur harus selalu terendam dan suhu air tetap konstan. Jika suhu terlalu dingin penetasan akan berlangsung lama, sedangkan jika suhu terlalu tinggi telur bisa mati dan membusuk (Putranto, 1995). Dalam keadaan normal  telur akan menetas dalam waktu 2-3 hari. Setelah menetas, kakaban kemudian diangkat dan dipindahkan ke tempat lain.                                                                                                                                                         
Budidaya Ikan Koi
                                                                                  
Perawatan Benih
Telur yang baru menetas masih membawa kuning telur sebagai persediaan makanan dan akan bertahan 2-3 hari. Setelah persediaan kuning telur habis maka benih membutuhkan pakan alami berupa udang renik atau kutu air (Hikmat, 2002). Dua atau tiga hari kemudian benih akan sudah mulai berenang dan bisa dipisahkan ke kolam pemeliharaan.
Sebelum digunakan kolam pemeliharaan benih harus dikeringkan dulu selama dua hari dan disemprot dengan pestisida agar hewan lain yang dapat mengganggu akan mati. Sebelum benih dipindahkan pada kolam sebaiknya seminggu sebelumnya sudah ditumbuhi pakan alami.

Seleksi Benih
Penyeleksian benih dilakukan setelah benih berumur satu sampai dengan tiga bulan, penyeleksian tersebut dapat dilakukan 3 atau 4 kali. Seleksi benih yang pertama yaitu benih dipisahkan berdasarkan ukurannya. Selanjutnya seleksi yang kedua dilakukan untuk menentukan pola warna dan kualitas secara keseluruhan (Susanto, 2000). Secara umum benih yang baik memiliki ciri-ciri sebagai berikut
a. Badan dan siripnya normal, tidak cacat.
b. warna badannya sudah nampak menonjol, sesuai dengan varietasnya.
c. Warna putih, merah hitam atau kuning nampak jernih tidak tercampur dengan warna lain.

Parameter Kualitas Air        
Air merupakan media paling penting bagi kehidupan ikan. Selain jumlahnya, kualitas air yang memenuhi syarat merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam budidaya. Beberapa parameter kualitas air yang perhatikan diantaranya adalah sebagai berikut :

a. Suhu
Ikan koi merupakan termasuk hewan berdarah dingin, sehingga temperatur tubuhnya tergantung pada suhu air sebagai lingkungan hidupnya. Ikan Koi dapat hidup pada kisaran suhu 0-350 C, tetapi pada suhu yang terlalu ekstrem (misalnya 00 C) ikan akan berhenti makan dan sistem kekebalan tubuhnya akan hilang. Sedangkan suhu yang ideal untuk Koi adalah 15-250C (Hikmat, 2002). Perubahan suhu yang terlalu drastis dapat menimbulkan gangguan terhadap laju respirasi, aktivitas jantung, aktivitas metabolisme dan aktivitas lainnya dan jika suhu terlalu tinggi ikan akan kekurangan oksigen dan sistem enzim tidak dapat berfungsi dengan baik yang dapat menyebabkan timbulnya stres (Afrianto dan Liviawaty, 1992).

Derajat Keasaman (pH)
Sebagian besar ikan dapat beradaptasi dengan baik pada lingkungan perairan yang mempunyai derajat keasaman (pH) berkisar antara 5-9 (Afrianto dan Liviawaty, 1992). Menurut Hikmat (2002), pH yang ideal untuk ikan Koi agar tumbuh sehat yaitu berkisar 6,5-8,5. Pada malam hari biota dalam air akan melakukan proses respirasi dan menghasilkan carbon monoksida (CO) yang dapat menurunkan pH, sedangkan pada siang hari alga akan melakukan fotosintesis yang akan menghasilkan oksigen dan menetralkan pH air oleh karena itu pH air pada pagi hari cenderung rendah sedangkan pada siang hari pH cenderung lebih stabil. Pengaruh pH terhadap pertumbuhan ikan Koi dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Pengaruh pH terhadap kehidupan ikan
Kisaran pH
Pengaruh terhadap ikan
4 – 5
5 - 6,5
6,5 - 9
> 11
Tingkat keasaman yang mematikan dan tidak ada reproduksi
Pertumbuhan lambat
Baik untuk reproduksi
Mematikan
Sumber : (Afrianto dan Liviawaty, 1992)

Kelarutan Oksigen (DO)
Oksigen adalah salah satu faktor pembatas yang penting dalam budidaya ikan. Kandungan oksigen yang baik untuk Ikan Koi adalah berkisar 5-7 ppm, pada kondisi tersebut koi akan merasa cukup mendapatkan oksigen sehingga koi dapat bergerak santai, tidak gelisah dan responsif terhadap pakan. Jika oksigen kurang dari 5 ppm akan menyebabkan ikan sulit bernafas, tidak mau makan dan mengakibatkan koi menjadi kurus dan sakit (Amri dan Khairuman, 2002).

Amonia
Konsentrasi amonia dapat terjadi karena pengeluaran hasil metabolisme, proses dekomposisi dari sisa pakan atau plankton yang mati. Konsentrasi amonia dibawah 0,02 ppm relatif aman, sedangkan jika di atas angka tersebut dapat menyebabkan timbulnya keracunan pada ikan. Konsentrasi amonia di atas 0,3 ppm akan mempercepat kerusakan insang sehingga akan kesulitan mengambil mengambil oksigen dari lingkungannya. Peningkatan konsentrasi amonia akan menjadi lebih berbahaya apabila terjadi pada pH tinggi atau konsentrasi oksigen rendah (Afrianto dan Liviawaty, 1992)    

Pengendalian Air Media Pemeliharaan
Dua puluh persen dari kegiatan budidaya ditentukan oleh kualitas air, dan selebihnya ditentukan oleh faktor lainnya. Ada empat cara untuk menjaga kualitas air  agar tetap dalam kondisi baik (Hikmat, 2002).
a. Mengganti Air Secara Rutin
Penggantian air dilakukan dua minggu sekali secara rutin. Penggantian air bertujuan untuk membuang zat-zat beracun dan sisa-sisa makanan yang terdekomposisi yang dapat membahayakan bagi ikan.
b. Membersihkan Kolam
Pembersihan kolam dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain dengan sifon, serok dan pompa. Penyiponan berfungsi untuk menyedot kotoran lembut atau lumpur yang mengendap di dasar kolam. Alat untuk penyiponan dengan menggunakan slang. Serok digunakan untuk membersihkan puing-puing dan dedaunan yang jatuh kedalam kolam, juga untuk membersihkan buih dan lumut yang mengambang di permukaan air. Serok yang baik terbuat dari kain trilin, karena bahan tersebut sedikit menyerap air. Sedangkan pompa digunakan untuk membersihkan kolam. Fungsi pompa selain untuk mengeluarkan air dan kotoran yang mengendap, juga untuk menambah aerasi kolam jika pompanya dilengkapi batu terjunan.  Jika pompa hanya digunakan untuk membersihkan kolam saja, sebaiknya dioperasikan pagi hari.
c. Menyaring Air
Kolam hendaknya dilengkapi dengan filter empat lapis yang dapat bekerja secara mekanis. Penyaring pertama berguna untuk menyaring sampah dan lumpur, bahan yang biasa digunakaan adalah kerikil, pasir dan ijuk. Penyaring kedua menggunakan karbon aktif berupa zeolit, yang berfungsi untuk menghilangkan racun, bau tidak sedap, dan membunuh bibit penyakit. Penyaring ketiga menggunakan bahan berupa pestisida yang tidak mematikan bakteri pengurai tapi dapat mengikat mengikat bakteri pengurai yang berperan dalam proses penjernihan air. Penyaring keempat menggunakan tanaman atau bebatuan yang dapat mengikat kotoran.
d. Pemberian Obat Pengikat Dalam Air
Pemberian obat pengikat pada kolam bertujuan untuk mengikat kotoran yang hancur sehingga akan menjadi gumpalan yang mudah disedot atau disifon dan untuk menetralisir air yang sudah terlalu basa. Bahan yang digunakan misalnya dengan Aquadien atau Aquavital.

Pengelolaan Pakan
Ikan Koi bersifat omnivor, artinya hewan pemakan segala jenis pakan. Pakan yang baik adalah pakan yang mampu meningkatkan kualitas warna, mempercepat pertumbuhan, dapat menangkal bibit penyakit dan dapat membantu pembentukan warna tubuhnya (Effendy, 1993). Pakan yang diberikan harus mempunyai kandungan gizi yang seimbang. Keseimbangan gizi diatur berdasarkan ukuran tubuh, usia, kematangan koi dan suhu air. Pemberian pakan yang berlebihan akan berpengaruh kurang baik, tubuh menjadi cepat gemuk dan mudah terserang penyakit. Begitu juga sebaliknya jika kekurangan pakan dapat menyebabkan tubuh menjadi kurus, kualitas warna kurang baik,  pertumbuhannya lambat dan mudah terserang penyakit.
Sebelum dilakukan pemberian pakan sebaiknya pakan direndam terlebih dahulu dalam air selama satu menit, sehingga akan memudahkan dalam proses pencernaan. Jumlah pakan yang diberikan harus sesuai dengan berat dan ukuran ikan. Frekuensi bemberian pakan dapat dilakukan sebanyak dua kali sehari pada pagi dan siang atau sore hari. Idealnya pakan diberikan tiga jam setelah matahari terbit dan tiga jam sebelum matahari terbenam. Sebaiknya pemberian pakan tidak terlalu pagi atau terlalu sore, karena kandungan oksigen dalam air sedikit sedangkan setiap setelah koi makan membutuhkan oksigen yang lebih banyak dari keadaan biasanya (Hikmat, 2002).
Tabel 3. Jumlah pemberian pakan
Ukuran ikan
Jumlah pakan per hari (% berat badan)
Baru menetas >2 cm
Anakan (berat 3gr, panjang 2-4 cm)
Sedang (berat 10 gr, panjang 5 cm)
Dewasa (berat 100gr, panjang 12 cm)
15-20 %
10-15 %
5 %
2 %
Sumber : Hikmat, 2002



DAFTAR PUSTAKA


Afrianto, D. dan E. Liviawati. 1990.  Budidaya Mas Koki dan Pemasarannya. Kanisius. Yogyakarta.  

Afrianto, D. dan E. Liviawati. 1992. Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan. Kanisius. Jakarta.  

Mudjiman, A. 2004. Makanan Ikan. Penebar Swadaya. Jakarta.

Amri, K. dan Khairuman. 2002. Menanggulangi Penyakit Pada Ikan Mas    dan      Koi. Agromedia. Jakarta.

Bachtiar, Y. 2004. Ikan Hias Air Tawar Untuk Ekspor.  Agromedia. Jakarta.

Ditjenkanbud (Direktorat Jendaral Perikanan Budidaya). 2006. Kebijakan dan       Program Prioritas Tahun 2007. Ditjen     Perikanan Budidaya. Departemen Kelautan dan Perikanan

Effendi, M.I. 1979.  Biologi Perikanan. Fakultas Perikanan. IPB. Bogor.

Effendy, H. 1993. Mengenal Bebeberapa jenis Koi. Kanisius. Jakarta.

Hikmat, K. 2002. Koi Siikan Panjang Umur. Agromedia. Jakarta.

Hardjo, B. 2004. Pemijahan Ikan Koi Secara Alami. http://www. Blitar koi. Info Pusat informasi dan penjualan.go.id.
\
Khairuman, Dodi Sutenda dan Bambang Gunadi. 2002. Budidya Ikan Mas Secara Intensif. Agro Media Pustaka. Jakarta.

Pasaribu, A. 1993. Analisa Budidaya Udang intensif dan Semi Intensif. Budidaya Pantai Maros Sulawesi Selatan.

Putranto, A. 1995. Budidaya Produktif Ikan Mas. Karya Anda. Surabaya.

Ria, A. 1995. Seleksi Induk Koi dari Tiga Tipe Pola. Pusat Informasi Pertanian (PIP).        DEPTAN.

Ryanto. 1995. Dasar Penyusunan Evaluasi Proyek. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta.

Rausin. 2003. Manajemen Pembesaran Kerapu Macan di Keramba Jaring  Apung.
Loka Budidaya Laut Batam. Batam. Hal 1-47.

Soeharto. 1999. Manajemen Proyek dari konseptual Sampai Operasional. Erlangga.
Sudarsono dan Sudjiharno. 1998. Analisa Usaha Skala Menengah. Pembenihan Ikan Kerapu macan. Ditjenkan. Balai Budidaya Laut Lampung.

Sukamajaya, Suharjo dan Aminudin. 2004. Pengembanagan Rekayasa    Reproduksi Benih Ikan Hias Koi (Cyprinus carpio). BBAT  Sukabumi.

Sutisna, D. H. dan Ratno Sudarmanto. 1995.  Pembenihan Ikan Air  Tawar.         
Kanisius. Jakarta.

Susanto, H. 2002 . KOI. Penebar Swadaya. Jakarta.

Suseno, D. 2002. Pengelolaan Usaha Pembenihan Ikan Mas. Penebar Swadaya. Jakarta.

Utami. 1995. Pembenihan Ikan Koi Juara. Pusat Informasi Pertanian (PIP).  DEPTAN


Firman Pra Setia Nugraha, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Kab. Banyuwangi


Jumat, 14 Juni 2019

MENGENAL IKAN PATIN JAMBAL (Pangasius djambal)


Ikan Patin Jambal (Pangasius djambal) merupakan salah satu jenis ikan asli dari perairan Indonesia termasuk ikan unggulan lokal dari Sungai Batanghari Provinsi Jambi yang merupakan sungai terpanjang di Sumatera, memiliki prospek sebagai komoditi ekspor karena dagingnya yang berwarna putih, hampir sama dengan Pangasius bocourti yang merupakan komoditas ekspor dari Taiwan. Populasi ikan Patin Jambal saat ini di alam semakin menurun sebagai akibat tingginya intensitas penangkapan.
Dewasa ini, permintaan pasar untuk ikan tersebut dari tahun ketahun selalu mengalami peningkatan baik di pasar  dalam negeri maupun di pasar luar negeri, bahkan Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) menempatkan ikan ini sebagai pilihan bagi mereka yang ingin hidup sehat. Selain sebagai ikan konsumsi, ikan ini pada saat ukuran kecil dapat digunakan sebagai ikan hias (Khairuman dan Sudenda, 2002).
Nilai ekonomis yang cukup tinggi  menyebabkan ikan ini mendapat perhatian dan diminati oleh para pengusaha untuk membudidayakannya. Selain itu ikan ini mempunyai beberapa kelebihan antara lain responsif terhadap pemberian makanan tambahan, mempunyai pertumbuhan relatif cepat karena dalam umur enam bulan ikan ini bisa mencapai  panjang 35-40 cm, dan sebagai keluarga Pangasidae, ikan ini tidak membutuhkan perairan yang mengalir untuk membesarkan tubuhnya, bahkan kandungan oksigen rendah pun sudah memenuhi syarat untuk membesarkannya (Siregar, 2002).
Tercatat pada tahun 2005 tingkat pemanfaatan budidaya di keramba sebesar 115.000 unit dengan tingkat pemanfaatan 7995 unit (6,9%). Hal tersebut membuka peluang yang sangat besar untuk melakukan budidaya ikan patin jambal. Ikan patin jambal merupakan ikan yang mempunyai peluang ekspor yang besar karena karakteristik dagingnya dan disukai oleh masyarakat luar negeri.

Gambar 1. Ikan Patin Jambal 


Menurut Cholik et al., (2005) klasifikasi Ikan Patin Jambal adalah sebagai   berikut  :
            Phyllum           : Chordata
            Kelas               : Pisces
            Ordo                : Silluriformes
            Famili              : Pangasiidae
            Genus             : Pangasius
            Spesies           : Pangasius djambal

Morfologi
Ikan ini mempunyai rasio panjang standar/panjang kepala 4,12, kepala relatif panjang, melebar ke arah punggung. Mata berukuran sedang pada sisi kepala. Mulut subterminal relatif kecil dan melebar ke samping. Mempunyai gigi tajam dan sungut mencapai belakang mata. Jarak antara ujung moncong dengan tepi mata lebih panjang. Rasio panjang standar/tinggi badan 3,0. Tubuh relatif memanjang. Warna punggung abu-abu kehitaman, pucat pada bagian perut dan sirip transparan. Perut lebih lebar dibandingkan panjang kepala. Jarak sirip perut ke ujung moncong relatif panjang (DKP Jambi, 2006).


Gambar 2. Morfologi Ikan Patin Jambal terdiri dari : Sungut (a), Sirip dada (b), Sirip punggung (c), Sirip perut (d), Sirip dubur (e), Sirip adifose dan Sirip Ekor (g).

Pakan dan Kebiasaan Makan
Ikan ini termasuk ikan omnivora. Makanan ikan ini diantaranya ikan-ikan kecil, cacing, detritus, serangga, biji-bijian, udang-udang kecil dan mollusca (Susanto dan Amri, 2002). Ikan ini memerlukan makanan sebagai sumber energi yang digunakan untuk  pertumbuhan dan kelangsungan hidupnya (Lubis, 2006).
Pemberian pakan tambahan pada proses pembesaran patin  sangat mutlak untuk memacu pertumbuhan. Pakan tambahan itu berupa pelet atau sisa-sisa kegiatan dapur. Jumlah pakan tambahan biasanya 3-4% dari bobot total ikan per hari. Pellet ini ada yang dibuat sendiri (pelet lokal) dan ada pula pelet buatan pabrik (pelet komersil). Pakan tambahan lainnya yang juga bisa diberikan adalah limbah ikan, udang-udangan, moluska dan bekicot. Pemberian pakan jenis ini sesuai dengan pakan ikan patin di alam (Susanto dan Amri, 2002).

Media Pembesaran Ikan Patin
Ikan Patin dapat dibesarkan secara intensif di beberapa media, seperti kolam, jaring apung atau keramba. Pembesaran ikan patin di jaring apung hanya dapat dilakukan di daerah-daerah yang memiliki waduk atau danau yang memenuhi syarat untuk budidaya perikanan. Pembesaran patin di keramba umumnya dilakukan para petani ikan di sungai-sungai yang terdapat di Jawa, Sumatera dan Kalimantan (Khairuman dan Sudenda, 2002).
Ada tiga jenis keramba yang biasa digunakan untuk pembesaran ikan patin. Pertama, keramba dasar yang terpasang di dasar perairan. Kedua, keramba di bawah permukaan air. Ketiga, keramba di permukaan air. Sebelum digunakan untuk pembesaran ikan patin, keramba perlu dipersiapkan terlebih dahulu. Pertama, tentukan terlebih dahulu tempat keramba tersebut akan dipasang. Kedua, perhatikan kondisi keramba sebagai wadah pemeliharaan ikan. Pastikan bahwa konstruksi keramba cukup kuat dan mampu menahan beban arus dan tekanan air. Periksa setiap sisi keramba dari kemungkinan bolong untuk mencegah ikan meloloskan diri. Jika tidak ada yang beres, sebaiknya segera diperbaiki sebelum keramba dioperasikan karena perbaikan di dalam air sulit dilakukan (Khairuman dan Sudenda, 2002).

Rakit
Rakit adalah kerangka yang mengapung di permukaan air dan berfungsi sebagai tempat menggantungkan keramba, kantong, dudukan bangunan dan jalan, serta sangkar. Kerangka rakit dapat dibuat dari bambu, balok kayu, kayu, pipa besi dan besi siku (Jangkaru, 1995).
Tinggi kerangka antara 20 – 30 cm di atas permukaan air dan lebar kerangka antara 30 - 50 cm. Kerangka berfungsi juga sebagai jalan kontrol atau jalan titian. Untuk memperpanjang umur pakai kerangka bambu, jalan kontrol dihampari tanaman air seperti enceng gondok dan apu-apu, agar bambu terlindungi dari panas sinar matahari secara langsung (Jangkaru, 1995).
Pelampung  balok kayu dapat merangkap fungsi sebagai kerangka rakit. Bagian  balok yang mencuat di atas permukaan air terbatas sehingga perlu dipasang tiang sebagai tempat mengikatkan kantong dan tiang tersebut dipakukan dibadan pelampung. Sama halnya dengan kerangka bambu, tiang tersebut tidak saja mencuat di atas permukaan air, tetapi sebagian besar tiang menjorok ke dalam air karena kedua ujungnya berfungsi sebagai peregang kantong. Pemakaian balok sebagai kerangka merangkap pelampung memberikan keuntungan bagi kehidupan ikan dalam kantong karena air bagian permukaan terlindungi dari gelombang. Dengan demikian, pakan tidak cepat keluar dari kantong. Keuntungan tersebut akan lebih terasa jika lokasi keramba jaring apung dalam arus atau gelombang air (Jangkaru, 1995).
Kerangka kayu dapat diikatkan pada pelampung drum, ban atau busa plastik. Kayu yang digunakan sebagai kerangka sebaiknya memiliki daya tahan tinggi terhadap sifat-sifat air. Ukuran kayu disesuaikan dengan beban yang dipikulnya (Jangkaru, 1995).

Kantong Jaring
Bahan kantong jaring harus bersifat tahan dalam air dan dapat menahan beban, terutama pada waktu panen. Salah satu bahan yang memenuhi persyaratan tersebut antara lain jaring polietilen yang umum dipakai untuk jaring trawl. Jaring tanpa simpul lebih baik digunakan daripada jaring bersimpul. Dalam air, simpul sering bergeser sehingga ukuran mata jaring berubah. Simpul juga menjadi tempat menempelnya organisme air seperti alga benang dan sponge. Kedua organisme air tersebut akan berkembang pesat sehingga dapat menutupi mata jaring dan selanjutnya menghalangi sirkulasi air. Selain itu adanya organisme air tersebut akan menambah beban pada jaring (Jangkaru, 1995).
Ukuran benang dan mata jaring ditentukan oleh ukuran dan jumlah ikan yang dipelihara di dalamnya. Untuk ikan ukuran kecil digunakan mata jaring dan benang yang berukuran kecil. Ukuran mata jaring merupakan jarak kedua simpul yang bersilangan pada sebuah mata yang diregangkan. Semakin besar mata jaring  maka semakin jauh jarak kedua simpul. Ukuran mata jaring yang akan dipakai harus disesuaikan dengan ukuran ikan yang dipelihara. Sebagai pedoman ukuran mata jaring harus sama dengan tinggi ikan. Namun dalam prakteknya perlu dikaji lagi ketepatannya karena badan ikan ada yang pipih dan membulat (Jangkaru, 1995).
Bahan berupa jaring polietilen yang tersedia di pasaran digulung dan dijual berdasarkan bobot. Jaring polietilen no. 380 D/9 dengan ukuran mata jaring (mesh size) sebesar 2 inci (5,08 cm) bisa digunakan sebagai keramba/kantong luar dan no. 380 D/1 dengan ukuran mata jaring 1 inci (2,5 cm) atau 1,5 inci (3,81 cm) digunakan sebagai keramba dalam (Kordi, 2005).

Pelampung
Pelampung berfungsi mengapungkan kantong, kerangka rakit, bangunan gudang, ruang jaga dan pelataran kerja. Bahan yang dapat digunakan sebagai pelampung antara lain bambu, balok kayu, drum, ban bekas dan busa plastik (styrofoam) (Jangkaru, 1995).
Menurut Cahyono (2001), bahan-bahan yang dapat digunakan sebagai pelampung dan daya tahannya dapat dilihat pada Tabel 1 :

Tabel 1. Bahan-bahan yang dapat digunakan untuk pelampung dan daya tahannya.
No
Nama Bahan
Daya Tahan
1
Drum Plastik
> 3 Tahun
2
Drum Besi
0,5 - 1 Tahun
3
Styrofoam
> 5 Tahun
4
Drum besi dibungkus plastik
0,8 - 1 Tahun
5
Fibre glass
> 5  Tahun
6
Bambu
1 - 1,5 Tahun
7
Gelondong Kayu
1 Tahun
Sumber : Cahyono (2001)

Penggunaan drum bekas, baik logam maupun plastik, semakin populer di kalangan petani ikan. Drum bekas dapat dengan mudah diperoleh di pedagang barang bekas dan harganya pun relatif murah. Daya apung drum ditentukan oleh volume udara di dalamnya. Untuk itu harus dipilih drum yang tidak bocor. Teknik pemasangan drum dalam air ditentukan oleh jenis bahan kerangka rakit tempat drum diikatkan. Untuk kerangka yang terbuat dari kayu, maka drum dipasang membujur. Jarak antar drum 2-3 m untuk pelampung dan 1 m untuk bangunan gudang, ruang jaga serta peralatan kerja. Tumpuan drum pada kerangka rakit, terutama untuk drum plastik, harus lebar. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah drum robek akibat gesekan (Jangkaru, 1995). 


DAFTAR PUSTAKA

Cahyono, B. Budidaya Ikan di Perairan Umum.Kanisius. Yogyakarta. 2001. Hal 16
Cholik F, A. G. Jagatraya, Poernomo, A. Jauzi. 2005. Akuakultur Tumpuan Harapan Masa Depan Bangsa, Masyarakat Perikanan Nusantara dan Taman Akuarium Air Tawar Taman Mini Indonesia Indah. Jakarta.Hal 154.
Departemen Kelautan dan Perikanan Provinsi Jambi. 2006. Profil Pengembangan Kawasan Budidaya Patin Ekspor di Provinsi Jambi. Jambi. Hal 6-7.
Direktorat Jendral Perikanan. 2001. Pembesaran Ikan Kerapu Macan di Keramba Jaring Apung. Departemen Kelautan Dan Perikanan Balai Budidaya Laut Lampung. Hal 10.
Djarijah, A. S. 2001. Budidaya Ikan Patin. Kanisius. Yogyakarta. Hal 23
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air. Kanisius. Yogyakarta.Hal 56-60
Effendi, MI. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama. Bogor. Hal 115
Hardjamulia, A. 2000. Teknologi Pembenihan Ikan Patin (Pangasius spp.). Makalah pada temu aplikasi paket teknologi pertanian IPPTP. Banjarbaru, tanggal 28-29 februari. Hal 6
Jangkaru, Z. 1993. Pengembangan Perikanan Kolam di Wilayah Beriklim Basah Tanpa Irigasi. Disampaikan pada Simposium Perikanan Indonesia I. Jakarta, 25-27 Agustus 1993. Hal 70
Jangkaru, Z.1995. Pembesaran Ikan Air Tawar di berbagai lingkungan Pemeliharaan. Penebar Swadaya. Jakarta. Hal 57-69
Khairuman dan D. Sudenda. 2002. Budidaya Ikan Patin Secara Intensif. Agromedia Pustaka. Hal 5 dan 58
Kordi K, M. G. H. 2005. Budidaya Ikan Patin. Yayasan Pustaka Nusatama. Yogyakarta. Hal 26, 88 dan 124
Lesmana. 2001. Kualitas Air untuk Ikan Hias Air Tawar. Penebar Swadaya. Jakarta. Hal 28 
Lubis, E. 2006. Teknik Pembenihan dan Analisa Finansial Ikan Patin Siam (Pangasius Hypophthalmus) di BBAT Jambi. Karya Ilmiah Praktek Akhir Sekolah Tinggi Perikanan. Jakarta. Hal  58
Nasution. Z, Dharyati. E dan Rupawan. 1997. Adopsi Teknologi Budidaya Ikan Patin Pada Masyarakat Tani Di Desa Mariana-Sumatera Selatan. Jurnal Penelitian dan Perikanan Volume III No. 2 Balai Riset Kelautan dan Perikanan. Jakarta.Hal 37
Purnamawati. J. 2002. Perananan Kualitas Air terhadap keberhasilan budidaya ikan di kolam. Warta penelitian perikanan Indonesia. Hal 14
Purnomo.K, Kartamihardja E.S, Koeshendradjana S.2003. Pertumbuhan, Mortalitas, dan Kebiasaaan Makan Ikan Patin Siam (Pangasius hypophthalmus) Introduksi Di Waduk Wonogiri.  Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Volume 9 No. 3. Balai Riset Perikanan dan Kelautan. Jakarta. Hal 17
Rangkuti, F. 2001. Buissness Plan Teknik Membuat Perencanaan Bisnis dan Analisis Kasus. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Hal 59-65
Rochdianto. 2002. Budidaya Ikan di Jaring Terapung. Swadaya. Jakarta. Hal 46
Schimittou H.R, M.C Cremer dan Jiang Zhang.2004. Beberapa Prinsip dan Praktek Budidaya Ikan Pada Kepadatan Tinggi Dalam Keramba Volume Rendah. American Soybean Association. Hal 17
Slembrouck J, Oman Komarudin, Maskur dan Marc Legendre. 2005. Petunjuk Teknis Pembenihan Ikan Patin Indonesia, Pangasius Djambal. Karya Pratama. Jakarta. Hal 14.
Suparman, M. 2006. Studi Tentang Usaha Pembesaran Udang Galah (Macrobium roseenbergi) Pada Pembudidaya Udang Galah di Minggir Sleman Yogyakarta Sekolah Tinggi Perikanan. Jakarta.Hal 35
Susanto, H dan K, Amri. 2002. Budidaya Ikan Patin. Penebar Swadaya. Jakarta. Hal 6 dan 37
Soeharto, I. 1997. Manajemen Proyek Dari Konseptual sampai Operasional. Erlangga. Jakarta.Hal 433-435
Umar, H. 2003. Studi Kelayakan Bisnis. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Hal 197-20


Firman Pra Setia Nugraha,S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Kab. Banyuwangi

Selasa, 07 Mei 2019

DISTRIBUSI HASIL PERIKANAN

Pengertian Distribusi Hasil Perikanan


Distribusi hasil perikanan adalah rangkaian kegiatan penyaluran hasil perikanan dari suatu tempat ke tempat lain sejak produksi, pengolahan sampai pemasaran. Hal yang paling prinsip dalam proses distribusi hasil perikanan adalah mempertahankan kondisi alat/wadah/sarana yang digunakan dalam proses distribusi agar produk yang didistribusikan sampai ke tempat tujuan dengan tetap mempertahankan mutu/kualitasnya. Oleh karena itu, distributor/penyalur hasil perikanan harus memahami persyaratan yang harus dipenuhi dalam proses distribusi hasil perikanan.


Distribusi Hasil Perikanan

Berikut ini adalah beberapa hal yang harus diperhatikan dalam distribusi ikan yang baik, diantaranya:
Distribusi hasil perikanan yang menggunakan sarana transportasi:
  • Harus bersih dan mampu menghindari kontaminasi;
  • Didesain  sedemikian  rupa  sehingga  tidak  merusak  produk,  di  mana permukaannya harus rata, mudah dibersihkan, dan disanitasi;
  • Apabila menggunakan  es sebagai pendingin, harus dilengkapi saluran pembuangan untuk menjamin lelehan es tidak menggenangi produk;
  • Dilengkapi  peralatan  untuk  menjaga  suhu  tetap  terjaga  selama pengangkutan; dan
  • Mampu melindungi produk dari resiko penurunan mutu
  • Sarana berupa kendaraan pengangkut tidak digunakan untuk tujuan lain secara bersamaan untuk menghindari terjadinya kontaminasi terhadap produk hasil perikanan;
  • Apabila kendaraan pengangkut digunakan untuk mengangkut produk lain secara  bersamaan,  harus  dipisahkan  dan  dijamin  kebersihannya  agar tidak mengkontaminasi produk hasil perikanan;
  • Pengangkutan  hasil  perikanan  tidak  boleh  dicampur  dengan  produk  lain yang  dapat  mengakibatkan  kontaminasi  atau  mempengaruhi  higiene, kecuali  produk  tersebut  dikemas  sedemikian  rupa,  sehingga  mampu melindungi produk tersebut; dan
  • Pengangkutan  hasil  perikanan  dalam  keadaan  hidup  harus  mampu mempertahankan  hasil  perikanan  tersebut  tetap  terjaga  kondisi  dan mutunya.
Teknik/cara distribusi produk hasil perikanan sangat dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya; jenis produk, jenis alat angkut, dan kondisi penyimpanan. Proses distribusi untuk produk kering berbeda dengan produk basah. Begitupun dengan jenis alat angkut yang digunakan, bila produk yang didistribusikan berupa produk basah, maka sarana transportasi yang digunakan harus dilengkapi dengan alat pendingin. Jenis produk yang didistribusikan juga akan berpengaruh terhadap kondisi penyimpanan, sehingga kondisi penyimpanan harus disesuaikan dengan jenis produk yang akan didistribusikan.

Cara Distribusi Ikan Yang Baik
Pada dasarnya distribusi produk hasil perikanan dapat dilakukan dengan model penerapan system rantai dingin. Dalam system ini suhu ikan hasil tangkapan/panen diupayakan selalu tetap rendah agar terjaga kesegarannya, yakni dengan mengoptimalkan penggunaan es dalam penyimpanannya.
Sistem rantai dingin yang diterapkan dalam distribusi dan transportasi ikan dipersyaratkan bahwa semua kendaraan yang digunakan untuk pengangkutan ikan harus mampu mempertahankan suhu dingin yang dibutuhkan baik untuk ikan segar maupun mengawetkan produk beku. Akan lebih baik dengan menggunakan pintu dalam yang dapat menutup sendiri dengan fleksibel untuk mengurangi kehilangan udara dingin waktu pintu kendaraan pengangkut dibuka. Pada pengangkutan jarak jauh sebaiknya suhu dipertahankan dan selalu dijaga pada -18oC atau lebih rendah dan ini bisa dicapai dengan pendinginan mekanis, pemakaian es kering, sirkulasi gas cair yang dingin. Untuk refrigerasi dan ketelitian dalam pemuatan, operasi dan pemeliharaannya, sewaktu-waktu harus diperiksa dengan mengukur suhu produk pada awal dan akhir perjalanan.Pengangkutan harus dilakukan dengan hati-hati agar produk perikanan tidak terkena suhu tinggi selama pemuatan dan pembongkaran kendaraan pengangkut. Model pengembangan system rantai dingin yang ditujukan bagi proses distribusi adalah dengan penyediaan sarana sebagai berikut:

1. Truk ber-refrigerasi (refrigerated truck)
Truk berefrigerasi merupakan alternative alat transportasi produk perikanan yang baik diterapkan untuk transport jarak jauh dan yang memakan waktu cukup lama.

2. Truk berinsulasi (insulated truck)
Kebutuhan refrigerasi untuk mengangkut ikan dapat ditekan sekecil mungkin dengan cara menginsulasi seluruh bagian sarana angkut sebaik mungkin, yakni atap, dinding, dan lantai. Hal ini dilakukan agar suhu ikan tidak cepat meningkat selama proses distribusi dan agar kapasitas ikan yang diangkut agar lebih besar. Penyusunan peti wadah ikan dalam truk berinsulasi disusun rapat sesamanya agar panas tidak menyelinap diantara peti, serta diberi lapisan alas es di bawah tumpukan peti dan lapisan es lagi di atas tumpukan.

3. Mobil angkut pick up
Fasilitas mobil pick up dalam suatu unit pengolahan ikan dapat digunakan untuk mengangkut kebutuhan proses pengolahan, serta untuk mendistribusikan produk olahan non beku yang sudah dikemas dengan baik untuk jarak tidak terlalu jauh.

4. Sepeda motor dilengkapi box berinsulasi
Alat ini dirancang dengan harga yang relative murah tetapi mempunyai daya guna yang maksimal.Alat tersebut berkapasitas 50 kg/wadah. Setiap motor yang digunakan mempunyai dua wadah. Usia produktif alat ini diperkirakan minimal sampai lima tahun.

5. Becak dilengkapi box berinsulasi
Fungsi becak berinsulasi sama dengan motor berinsulasi yakni untuk mendistribusikan produk perikanan, dengan tetap menjaga kesegarannya karena sudah didesain sedemikian rupa. Namun penggunaan becak ini terbatas dari segi wilayah karena hanya bisa digunakan dalam jarak dekat.

6. Cool box
Dalam proses distribusi, cool box terutama digunakan sebagai wadah penyimpanan produk hasil perikanan. Untuk keperluan penyimpanan, distribusi dan penjajaannya dilakukan dalam wadah cool box dengan menyelimuti seluruh badan ikan dengan es curia. Caranya adalh sebagai berikut:
Pertama-tama menempatkan es curia yang lebih tebal dibagian dasar wadah, kemudian menempatkan lapisan ikan dengan ketebalan tertentu diatasnya, selanjutnya ditempatkan lagi lapisan es diatas lapisan ikan, demikian seterusnya berselang-seling dengan yang terakhir (paling atas) adalah lapisan es yang lebih tebal.
Pada ikan-ikan yang ukurannya lebih kecil, proses seperti ini juga sekaligus merupakan proses meninginkannya. Efektifitas pendinginannya sangat tergantung kepada ketebalan lapisan ikan, ketebalan lapisan (kecukupan) es, dan kekedapan wadah (cool box) terhadap penetrasi panas.
Pada kondisi pengemasan hanya satu lapisan ikan dan lapisan tersebut dapat diselimuti dengan sempurna oleh es curia, maka dilihat jelas bahwa ketebalan lapisan dan suhu awal ikan sangat menentukan kecepatan pendinginan, dimana semakin tebal lapisan dan semakin tinggi suhu awal ikan maka waktu yang dibutuhkan untuk mendinginkannya akan semakin lama.
Dari sisi kebutuhan es, selain ditentukan oleh jumlah ikan yang didinginkan juga ditentukan oleh suhu awal ikan dan suhu udara luar disekitar wadah atau cool box, dimana semakin tinggi suhunya maka jumlah es yang dibutuhkan akan semakin banyak.

7. Trays/kranjang
Fungsi trays dan keranjang dalam proses distribusi adalah untuk menampung produk olahan ikan sebelum dikemas dan didistribusikan. Untuk produk segar/beku, ikan harus tetap dijaga kesegarannya dengan menambahkan es selama ditampung dalam trays.

8. Sarana sanitasi dan hygiene
Dalam proses distribusi, sarana sanitasi dan hygiene diperukan untuk menjaga kondisi sarana angkutan yang digunakan untuk mengangkut produk-produk perikanan agar tetap bersih, sehingga kesegaran ikan selama proses distribusi tetap terjaga.
Selain dalam bentuk fresh/segar dan beku, produk hasil perikanan juga dapat didistribusikan dalam bentuk ikan hidup. Biasanya ikan-ikan yang dipasarkan dalam keadaan hidup adalah ikan-ikan dari hasil budidaya atau ikan karang yang mempunyai nilai jual cukup tinggi.Pada dasarnya, ada dua metode transportasi ikan hidup, yaitu dengan menggunakan air sebagai media atau sistem basah, dan media tanpa air atau sistem kering.

9. Pengangkutan Sistem Basah
Transportasi sistem basah (menggunakan air sebagai media pengangkutan) terbagi menjadi dua, yaitu :

A. Sistem Terbuka
Pada sistem ini ikan diangkut dalam wadah terbuka atau tertutup tetapi secara terus menerus diberikan aerasi untuk mencukupi kebutuhan oksigen selama pengangkutan. Biasanya sistem ini hanya dilakukan dalam waktu pengangkutan yang tidak lama. Berat ikan yang aman diangkut dalam sistem ini tergantung dari efisiensi sistem aerasi, lama pengangkutan, suhu air, ukuran, serta jenis spesies ikan.

B. Sistem Tertutup
Dengan cara ini ikan diangkut dalam wadah tertutup dengan suplai oksigen secara terbatas yang telah diperhitungkan sesuai kebutuhan selama pengangkutan. Wadah dapat berupa kantong plastik atau kemasan lain yang tertutup. Faktor-faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan pengangkutan adalah kualitas ikan (harus sehat dan baik), oksigen, suhu (15 – 20oC untuk ikan didaerah tropis), pH (7 – 8), CO2, amoniak, kepadatan dan aktivitas ikan (perbandingan antara volume ikan dengan volume air adalah 1:3 sampai 1:2).
Beberapa permasalahan dalam pengangkutan sistem basah adalah selalu terbentuk buih yang disebabkan banyaknya lendir dan kotoran ikan yang dikeluarkan. Kematian diduga karena pada saat diangkutisi perut masih ada,sehingga pada saat diangkut masih ada kotoran yang mencemari media air yang digunakan untuk transportasi. Disamping itu, bobot air cukup tinggi, yaitu 1 : 3 atau 1 : 4 bagian ikan dengan air menjadi kendala tersendiri untuk dapat meningkatkan volume ikan yang diangkut. Oleh karena itu, untuk menghindari terjadinya metabolisme yang sangat tinggi pada saat pengangkutan, maka sebaiknya ikan diberok terlebih dahulu minimal 1 hari sebelum ikan diangkut dengan cara dipuasakan.


Pengangkutan Sistem Kering (Semi Basah)
Pada transportasi sistem kering, media angkut yang digunkan adalah bukan air, Oleh karena itu ikan harus dikondisikan dalam keadaan aktivitas biologis rendah sehingga konsumsi energi dan oksigen juga rendah. Makin rendah metabolisme ikan, makin rendah pula aktivitas dan konsumsi oksigennya sehingga ketahanan hidup ikan untuk diangkut diluar habitatnya makin besar.
Penggunaan transportasi sistem kering dirasakan merupakan cara yang efektif meskipun resiko mortalitasnya cukup besar. Untuk menurunkan aktivitas biologis ikan (pemingsanan ikan) dapat dilakukan dengan menggunkan suhu rendah, menggunakan bahan metabolik atau anestetik, dan arus listrik.
Pada kemasan tanpa air, suhu diatur sedemikian rupa sehingga kecepatan metabolisme ikan berada dalam taraf metabolisme basal, karena pada taraf tersebut, oksigen yang dikonsumsi ikan sangat sedikit sekedar untuk mempertahankan hidup saja. Secara anatomi, pada saat ikan dalam keadaan tanpa air, tutup insangnya masih mangandung air sehingga melalui lapisan inilah oksigen masih diserap.
Kondisi pingsan merupakan kondisi tidak sadar yang dihasilkan dari sistem saraf pusat yang mengakibatkan turunnya kepekaan terhadap rangsangan dari luar dan rendahnya respon gerak dari rangsangan tersebut. Pingsan atau mati rasa pada ikan berarti sistem saraf kurang berfungsi.
Cara pemingsanan ikan akan berbeda untuk setiap jenis ikan. Namun demikian, secara umum Pemingsanan ikan dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu melalui penggunaan suhu rendah, pembiusan menggunakan zat-zat kimia dan penyetruman menggunakan arus listrik.

1. Pemingsanan dengan menggunakan suhu rendah
Ini dapat dilakukan dengan cara, yakni (a) penurunan suhu secara langsung, dimana ikan langsung dimasukkan dalam air yang bersuhu 10o – 15oC , sehingga ikan pingsan; dan (b) penurunan suhu secara bertahap, dimana suhu air sebagai media ikan diturunkan secara bertahap sampai ikan pingsan.

2. Pemingsanan ikan dengan bahan anestasi (bahan pembius)
Beberapa bahan anestasi yang dapat digunakan dalam pembiusan ikan antara lain:

NO
BAHAN
DOSIS
1
MS-222
0.05 mg / l
2
Novacaine
50 mg / kg berat ikan
3
Barbitas sodium
50 mg / kg berat ikan
4
Ammobarbital sodium
85 mg / kg berat ikan
5
Methyl paraphynol (dormisol)
30 mg / l
6
Tertiary amyl alcohol
30 mg / l
7
Choral hydrate
3-3.5 g lt
8
Urethane
100 mg / l
9
Hydroksi quinaldine
1 mg / l
10
Thiouracil
10 mg / l
11
Quinaldine
0.025 mg / l
12
2-Thenoxy ethanol
30 – 40 ml / 100 lt
13
Sodium ammital
52 – 172 mg / l

Pembiusan ikan dikatakan berhasil bila memenuhi tiga kriteria, yaitu : (1) Induksi bahan pembius dalam tubuh ikan terjadi dalam waktu tiga menit atau kurang, sehingga ikan lebih mudah ditangani, (2) Kepulihan ikan sampai gerakan renangnya kembali normal membutuhkan waktu kurang dari 10 menit, dan (3) Tidak ditemukan adanya kematian ikan selama 15 menit setelah pembongkaran. Yang harus diperhatikan dalam penggunaan bahan anestasi ini adalah, apakah bahan-bahan tersebut dapat menimbulkan potensi bahaya bagi manusia atau tidak.

3. Pemingsanan ikan dengan arus listrik
Arus listrik yang aman digunakan untuk pemingsanan ikan adalah yang mempunyai daya 12 volt, karena pada 12 Volt ikan mengalami keadaan pingsan lebih cepat dan tingkat kesadaran setelah pingsan juga cepat.
Setelah ikan pingsan selanjutnya adalah pengemasan. Pada pengangkutan ikan hidup dengan system kering diperlukan media pengisi sebagai pengganti air. Yang dimaksud dengan bahan pengisi dalam pengangkutan ikan hidup adalah bahan yang dapat ditempatkan diantara ikan hidup dalam kemasan untuk menahan ikan dalam posisinya. Bahan pengisi memiliki fungsi antara lain mampu manahan ikan agar tidak bergeser dalam kemasan, menjaga lingkungan suhu rendah agar ikan tetap hidup serta memberi lingkungan udara dan kelembaban memadai untuk kelangsungan hidupnya.
Media pengisi yang sering digunakan dalam pengemasan adalah serbuk gergaji, serutan kayu, serta kertas koran atau bahan karung goni. Jenis serbuk gergaji atau serutan kayu yang digunakan tidak spesifik, tergantung bahan yang tersedia. Diantara beberapa jenis bahan pengisi, sekam padi dan serbuk gergaji merupakan bahan pengisi terbaik karena memiliki karakteristik, yaitu : berongga, mempunyai kapasitas dingin yang memadai, dan tidak beracun.Media serbuk gergaji memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan jenis media lainnya. Keunggulan tersebut terutama pada suhu. Serbuk gergaji mampu mempertahankan suhu rendah lebih lama yaitu 9 jam tanpa bantuan es dan tanpa beban di dalamnya.
Adapun cara pengemasannya adalah sama dengan cara pengemasan produk ikan segar/beku yang ditransportasikan dengan menggunakan cool box, dimana ikan disusun berlapis dengan serbuk gergaji. Wadah yang digunakan dalam proses pengangkutan ikan hidup dengan sistem kering dapat berupa sterefoam. Caranya pengemasannya adalah sebagai berikut:
  1. Pertama-tama tempatkan serbuk gergaji yang telah didinginkan (suhu 8 – 10oC) dibagian dasar wadah; 
  2. Kemudian tempatkan lapisan ikan dengan ketebalan tertentu diatasnya; 
  3. Selanjutnya ditempatkan lagi lapisan serbuk gergaji diatas lapisan ikan, demikian seterusnya berselang-seling dengan yang terakhir (paling atas) adalah lapisan serbuk gergaji; 
  4. Sebaiknya boks sterefoam ditutup sangat rapat untuk menghindari udara panas dari luar masuk ke dalam wadah. 
  5. Setelah dikemas, selanjutnya ikan siap didistribusikan. Boks-boks sterefoam yang berisi ikan dimasukkan kedalam alat angkut (mobil) yang telah dimodifikasi dengan menambahkan lapisan insulasi pada sekeliling dindingnya. Hal ini untuk menghambat udara panas dari luar yang akan masuk kedalam ruang penyimpanan. Selama dalam transportasi, pengontrolan suhu ruang perlu dilakukan secara rutin dan diupayakan untuk tetap stabil. 

Pada saat tiba ditempat tujuan, ikan segera disadarkan. Proses penyadaran adalah dengan mengembalikan ikan sesuai dengan suhu pada habitatnya. Caranya adalah sebagai berikut:
  1. Siapkan wadah (bak) yang telah dilengkapi dengan aerasi sehingga oksigen dalam air tercukupi dan sirkulasi dapat berjalan dengan baik. 
  2. Cuci ikan dengan bersih untuk menghilangkan lendir dan sisa-sisa serbuk gergaji yang masih menempel pada tubuh ikan. 
  3. Kemudian masukkan ikan kedalam bak. 
  4. Untuk mempercepat proses penyadaran perlu adanya sedikit rangsangan dengan cara menggerak-gerakkan badan ikan pada buih aerator. 
  5. Umumnya ikan akan sadar dalam waktu ±10 menit. 
Berbicara distribusi hasil perikanan di tingkat supplier/pedagang pengumpul dan pedagang pengecer, maka kita tidak hanya berbicara mengenai sarana distribusi seperti sarana transportasi saja namun juga berbicara mengenai sarana distribusi lainnya, salah satunya adalah pelabuhan perikanan.
Dalam Undang-Undang No 31 Tahun 2004 tentang Perikanan dinyatakan bahwa pelabuhan perikanan sebagai suatu lingkungan kerja salah satunya berfungsi sebagai pusat pemasaran dan distribui hasil perikanan. Sedangkan dalam pasal 15 ayat (3) huruf a Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No 10 Tahun 2004 menyatakan bahwa pelabuhan perikanan memiliki fasilitas funfsional salah satunya adalah fasilitas pemasaran hasil perikanan seperti tempat pelelangan ikan (TPI) dan pasar ikan.
Tempat pemasaran/distribusi hasil perikanan seperti TPI dan Pasar Ikan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
  • Terlindung dan mempunyai dinding yang mudah untuk dibersihkan; 
  • Mempunyai lantai yang kedap air yang mudah dibersihkan dan disanitasi, dilengkapi dengan saluran pembuangan air dan mempunyai sistem pembuangan limbah cair yang higiene; 
  • Dilengkapi dengan fasilitas sanitasi seperti tempat cuci tangan dan toilet dalam jumlah yang mencukupi. Tempat cuci tangan harus dilengkapi dengan bahan pencuci tangan dan pengering sekali pakai; 
  • Mempunyai penerangan yang cukup untuk memudahkan dalam pengawasan hasil perikanan; 
  • Kendaraan yang mengeluarkan asap dan binatang yang dapat mempengaruhi mutu hasil perikanan tidak diperbolehkan berada dalam tempat Pemasaran Ikan/pasar grosir; 
  • Dibersihkan secara teratur minimal setiap selesai penjualan; 
  • Dilengkapi dengan tanda peringatan dilarang merokok, meludah, makan dan minum, dan diletakkan di tempat yang mudah dilihat dengan jelas; 
  • Mempunyai fasilitas pasokan air bersih dan atau air laut bersih yang cukup; 
  • Mempunyai wadah penampungan produk yang bersih, tahan karat, kedap air dan mudah dibersihkan; dan 
  • Mempunyai penampungan pengolahan limbah. 
Selain persyaratan tersebut, tempat pemasaran hasil perikanan juga harus memenuhi persyaratan hygiene dan penerapan system rantai dingin.


SUMBER :

Anonim, 1989. Petunjuk Praktis Penanganan dan Transportasi Ikan Segar. Balai Bimbingan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan, Direktorat Jenderal Perikanan, Jakarta.
Anonim, 1992. Petunjuk Teknis Penanganan Tuna Loin Segar. Balai Bimbingan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan, Jakarta.
Anonim, 1992. Petunjuk Teknis Transportasi Ikan Hidup Dengan Cara Dipingsankan. Bimbingan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan. Direktorat Jenderal Perikanan, Jakarta
Anonim, 2007. Juknis Penerapan Sistem Rantai Dingin dan Sanitasi Higiene di Unit Pengolahan Ikan. Direktorat Pengolahan Hasil. Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan. Departemen Kelautan dan Perikanan, Jakarta.
http://www.academia.edu/5197583/PROSES_PENANGANAN_TUNA_DI_PELABUHAN
http://www.ppnsi.org/jurnal-mainmenu-9/perikanan-a-kelautan-mainmenu-43/139-strategi-pemasaran-produk-perikanan-dan-kelautan.
http://rafel896.wordpress.com/2011/10/16/standard-sanitation-operating-procedure-ssop.
http://teknologipascapanen.blogspot.com/2012/02/transportasi-ikan-hidup.html
http://fatih16.blogspot.com/2013/05/penanganan-ikan-di-pantai.html
http://oceanbrilliant.blogspot.com/2013/04/pennganan-ikan-di-pelabuhan-perikanan.html
http://nakbarsyah.blogspot.com/2014/01/distribusi-hasil-tangkapan-permasalah.html
Undang-Undang RI No 31 Tahun 2004 tentang Perikanan
Keputusan Menteri KP No 10 Tahun 2004 tentang Pelabuhan Perikanan
Keputusan MenterI KP No 52A Tahun 2013 tentang Persyaratan Jaminan Mutu dan Kemanana Hasil Perikanan Pada Proses Produksi, Pengolahan dan Distribusi


Firman Pra Setia Nugraha, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Kab. Banyuwangi