Tampilkan postingan dengan label Budidaya Air Payau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budidaya Air Payau. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Mei 2019

DISTRIBUSI HASIL PERIKANAN

Pengertian Distribusi Hasil Perikanan


Distribusi hasil perikanan adalah rangkaian kegiatan penyaluran hasil perikanan dari suatu tempat ke tempat lain sejak produksi, pengolahan sampai pemasaran. Hal yang paling prinsip dalam proses distribusi hasil perikanan adalah mempertahankan kondisi alat/wadah/sarana yang digunakan dalam proses distribusi agar produk yang didistribusikan sampai ke tempat tujuan dengan tetap mempertahankan mutu/kualitasnya. Oleh karena itu, distributor/penyalur hasil perikanan harus memahami persyaratan yang harus dipenuhi dalam proses distribusi hasil perikanan.


Distribusi Hasil Perikanan

Berikut ini adalah beberapa hal yang harus diperhatikan dalam distribusi ikan yang baik, diantaranya:
Distribusi hasil perikanan yang menggunakan sarana transportasi:
  • Harus bersih dan mampu menghindari kontaminasi;
  • Didesain  sedemikian  rupa  sehingga  tidak  merusak  produk,  di  mana permukaannya harus rata, mudah dibersihkan, dan disanitasi;
  • Apabila menggunakan  es sebagai pendingin, harus dilengkapi saluran pembuangan untuk menjamin lelehan es tidak menggenangi produk;
  • Dilengkapi  peralatan  untuk  menjaga  suhu  tetap  terjaga  selama pengangkutan; dan
  • Mampu melindungi produk dari resiko penurunan mutu
  • Sarana berupa kendaraan pengangkut tidak digunakan untuk tujuan lain secara bersamaan untuk menghindari terjadinya kontaminasi terhadap produk hasil perikanan;
  • Apabila kendaraan pengangkut digunakan untuk mengangkut produk lain secara  bersamaan,  harus  dipisahkan  dan  dijamin  kebersihannya  agar tidak mengkontaminasi produk hasil perikanan;
  • Pengangkutan  hasil  perikanan  tidak  boleh  dicampur  dengan  produk  lain yang  dapat  mengakibatkan  kontaminasi  atau  mempengaruhi  higiene, kecuali  produk  tersebut  dikemas  sedemikian  rupa,  sehingga  mampu melindungi produk tersebut; dan
  • Pengangkutan  hasil  perikanan  dalam  keadaan  hidup  harus  mampu mempertahankan  hasil  perikanan  tersebut  tetap  terjaga  kondisi  dan mutunya.
Teknik/cara distribusi produk hasil perikanan sangat dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya; jenis produk, jenis alat angkut, dan kondisi penyimpanan. Proses distribusi untuk produk kering berbeda dengan produk basah. Begitupun dengan jenis alat angkut yang digunakan, bila produk yang didistribusikan berupa produk basah, maka sarana transportasi yang digunakan harus dilengkapi dengan alat pendingin. Jenis produk yang didistribusikan juga akan berpengaruh terhadap kondisi penyimpanan, sehingga kondisi penyimpanan harus disesuaikan dengan jenis produk yang akan didistribusikan.

Cara Distribusi Ikan Yang Baik
Pada dasarnya distribusi produk hasil perikanan dapat dilakukan dengan model penerapan system rantai dingin. Dalam system ini suhu ikan hasil tangkapan/panen diupayakan selalu tetap rendah agar terjaga kesegarannya, yakni dengan mengoptimalkan penggunaan es dalam penyimpanannya.
Sistem rantai dingin yang diterapkan dalam distribusi dan transportasi ikan dipersyaratkan bahwa semua kendaraan yang digunakan untuk pengangkutan ikan harus mampu mempertahankan suhu dingin yang dibutuhkan baik untuk ikan segar maupun mengawetkan produk beku. Akan lebih baik dengan menggunakan pintu dalam yang dapat menutup sendiri dengan fleksibel untuk mengurangi kehilangan udara dingin waktu pintu kendaraan pengangkut dibuka. Pada pengangkutan jarak jauh sebaiknya suhu dipertahankan dan selalu dijaga pada -18oC atau lebih rendah dan ini bisa dicapai dengan pendinginan mekanis, pemakaian es kering, sirkulasi gas cair yang dingin. Untuk refrigerasi dan ketelitian dalam pemuatan, operasi dan pemeliharaannya, sewaktu-waktu harus diperiksa dengan mengukur suhu produk pada awal dan akhir perjalanan.Pengangkutan harus dilakukan dengan hati-hati agar produk perikanan tidak terkena suhu tinggi selama pemuatan dan pembongkaran kendaraan pengangkut. Model pengembangan system rantai dingin yang ditujukan bagi proses distribusi adalah dengan penyediaan sarana sebagai berikut:

1. Truk ber-refrigerasi (refrigerated truck)
Truk berefrigerasi merupakan alternative alat transportasi produk perikanan yang baik diterapkan untuk transport jarak jauh dan yang memakan waktu cukup lama.

2. Truk berinsulasi (insulated truck)
Kebutuhan refrigerasi untuk mengangkut ikan dapat ditekan sekecil mungkin dengan cara menginsulasi seluruh bagian sarana angkut sebaik mungkin, yakni atap, dinding, dan lantai. Hal ini dilakukan agar suhu ikan tidak cepat meningkat selama proses distribusi dan agar kapasitas ikan yang diangkut agar lebih besar. Penyusunan peti wadah ikan dalam truk berinsulasi disusun rapat sesamanya agar panas tidak menyelinap diantara peti, serta diberi lapisan alas es di bawah tumpukan peti dan lapisan es lagi di atas tumpukan.

3. Mobil angkut pick up
Fasilitas mobil pick up dalam suatu unit pengolahan ikan dapat digunakan untuk mengangkut kebutuhan proses pengolahan, serta untuk mendistribusikan produk olahan non beku yang sudah dikemas dengan baik untuk jarak tidak terlalu jauh.

4. Sepeda motor dilengkapi box berinsulasi
Alat ini dirancang dengan harga yang relative murah tetapi mempunyai daya guna yang maksimal.Alat tersebut berkapasitas 50 kg/wadah. Setiap motor yang digunakan mempunyai dua wadah. Usia produktif alat ini diperkirakan minimal sampai lima tahun.

5. Becak dilengkapi box berinsulasi
Fungsi becak berinsulasi sama dengan motor berinsulasi yakni untuk mendistribusikan produk perikanan, dengan tetap menjaga kesegarannya karena sudah didesain sedemikian rupa. Namun penggunaan becak ini terbatas dari segi wilayah karena hanya bisa digunakan dalam jarak dekat.

6. Cool box
Dalam proses distribusi, cool box terutama digunakan sebagai wadah penyimpanan produk hasil perikanan. Untuk keperluan penyimpanan, distribusi dan penjajaannya dilakukan dalam wadah cool box dengan menyelimuti seluruh badan ikan dengan es curia. Caranya adalh sebagai berikut:
Pertama-tama menempatkan es curia yang lebih tebal dibagian dasar wadah, kemudian menempatkan lapisan ikan dengan ketebalan tertentu diatasnya, selanjutnya ditempatkan lagi lapisan es diatas lapisan ikan, demikian seterusnya berselang-seling dengan yang terakhir (paling atas) adalah lapisan es yang lebih tebal.
Pada ikan-ikan yang ukurannya lebih kecil, proses seperti ini juga sekaligus merupakan proses meninginkannya. Efektifitas pendinginannya sangat tergantung kepada ketebalan lapisan ikan, ketebalan lapisan (kecukupan) es, dan kekedapan wadah (cool box) terhadap penetrasi panas.
Pada kondisi pengemasan hanya satu lapisan ikan dan lapisan tersebut dapat diselimuti dengan sempurna oleh es curia, maka dilihat jelas bahwa ketebalan lapisan dan suhu awal ikan sangat menentukan kecepatan pendinginan, dimana semakin tebal lapisan dan semakin tinggi suhu awal ikan maka waktu yang dibutuhkan untuk mendinginkannya akan semakin lama.
Dari sisi kebutuhan es, selain ditentukan oleh jumlah ikan yang didinginkan juga ditentukan oleh suhu awal ikan dan suhu udara luar disekitar wadah atau cool box, dimana semakin tinggi suhunya maka jumlah es yang dibutuhkan akan semakin banyak.

7. Trays/kranjang
Fungsi trays dan keranjang dalam proses distribusi adalah untuk menampung produk olahan ikan sebelum dikemas dan didistribusikan. Untuk produk segar/beku, ikan harus tetap dijaga kesegarannya dengan menambahkan es selama ditampung dalam trays.

8. Sarana sanitasi dan hygiene
Dalam proses distribusi, sarana sanitasi dan hygiene diperukan untuk menjaga kondisi sarana angkutan yang digunakan untuk mengangkut produk-produk perikanan agar tetap bersih, sehingga kesegaran ikan selama proses distribusi tetap terjaga.
Selain dalam bentuk fresh/segar dan beku, produk hasil perikanan juga dapat didistribusikan dalam bentuk ikan hidup. Biasanya ikan-ikan yang dipasarkan dalam keadaan hidup adalah ikan-ikan dari hasil budidaya atau ikan karang yang mempunyai nilai jual cukup tinggi.Pada dasarnya, ada dua metode transportasi ikan hidup, yaitu dengan menggunakan air sebagai media atau sistem basah, dan media tanpa air atau sistem kering.

9. Pengangkutan Sistem Basah
Transportasi sistem basah (menggunakan air sebagai media pengangkutan) terbagi menjadi dua, yaitu :

A. Sistem Terbuka
Pada sistem ini ikan diangkut dalam wadah terbuka atau tertutup tetapi secara terus menerus diberikan aerasi untuk mencukupi kebutuhan oksigen selama pengangkutan. Biasanya sistem ini hanya dilakukan dalam waktu pengangkutan yang tidak lama. Berat ikan yang aman diangkut dalam sistem ini tergantung dari efisiensi sistem aerasi, lama pengangkutan, suhu air, ukuran, serta jenis spesies ikan.

B. Sistem Tertutup
Dengan cara ini ikan diangkut dalam wadah tertutup dengan suplai oksigen secara terbatas yang telah diperhitungkan sesuai kebutuhan selama pengangkutan. Wadah dapat berupa kantong plastik atau kemasan lain yang tertutup. Faktor-faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan pengangkutan adalah kualitas ikan (harus sehat dan baik), oksigen, suhu (15 – 20oC untuk ikan didaerah tropis), pH (7 – 8), CO2, amoniak, kepadatan dan aktivitas ikan (perbandingan antara volume ikan dengan volume air adalah 1:3 sampai 1:2).
Beberapa permasalahan dalam pengangkutan sistem basah adalah selalu terbentuk buih yang disebabkan banyaknya lendir dan kotoran ikan yang dikeluarkan. Kematian diduga karena pada saat diangkutisi perut masih ada,sehingga pada saat diangkut masih ada kotoran yang mencemari media air yang digunakan untuk transportasi. Disamping itu, bobot air cukup tinggi, yaitu 1 : 3 atau 1 : 4 bagian ikan dengan air menjadi kendala tersendiri untuk dapat meningkatkan volume ikan yang diangkut. Oleh karena itu, untuk menghindari terjadinya metabolisme yang sangat tinggi pada saat pengangkutan, maka sebaiknya ikan diberok terlebih dahulu minimal 1 hari sebelum ikan diangkut dengan cara dipuasakan.


Pengangkutan Sistem Kering (Semi Basah)
Pada transportasi sistem kering, media angkut yang digunkan adalah bukan air, Oleh karena itu ikan harus dikondisikan dalam keadaan aktivitas biologis rendah sehingga konsumsi energi dan oksigen juga rendah. Makin rendah metabolisme ikan, makin rendah pula aktivitas dan konsumsi oksigennya sehingga ketahanan hidup ikan untuk diangkut diluar habitatnya makin besar.
Penggunaan transportasi sistem kering dirasakan merupakan cara yang efektif meskipun resiko mortalitasnya cukup besar. Untuk menurunkan aktivitas biologis ikan (pemingsanan ikan) dapat dilakukan dengan menggunkan suhu rendah, menggunakan bahan metabolik atau anestetik, dan arus listrik.
Pada kemasan tanpa air, suhu diatur sedemikian rupa sehingga kecepatan metabolisme ikan berada dalam taraf metabolisme basal, karena pada taraf tersebut, oksigen yang dikonsumsi ikan sangat sedikit sekedar untuk mempertahankan hidup saja. Secara anatomi, pada saat ikan dalam keadaan tanpa air, tutup insangnya masih mangandung air sehingga melalui lapisan inilah oksigen masih diserap.
Kondisi pingsan merupakan kondisi tidak sadar yang dihasilkan dari sistem saraf pusat yang mengakibatkan turunnya kepekaan terhadap rangsangan dari luar dan rendahnya respon gerak dari rangsangan tersebut. Pingsan atau mati rasa pada ikan berarti sistem saraf kurang berfungsi.
Cara pemingsanan ikan akan berbeda untuk setiap jenis ikan. Namun demikian, secara umum Pemingsanan ikan dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu melalui penggunaan suhu rendah, pembiusan menggunakan zat-zat kimia dan penyetruman menggunakan arus listrik.

1. Pemingsanan dengan menggunakan suhu rendah
Ini dapat dilakukan dengan cara, yakni (a) penurunan suhu secara langsung, dimana ikan langsung dimasukkan dalam air yang bersuhu 10o – 15oC , sehingga ikan pingsan; dan (b) penurunan suhu secara bertahap, dimana suhu air sebagai media ikan diturunkan secara bertahap sampai ikan pingsan.

2. Pemingsanan ikan dengan bahan anestasi (bahan pembius)
Beberapa bahan anestasi yang dapat digunakan dalam pembiusan ikan antara lain:

NO
BAHAN
DOSIS
1
MS-222
0.05 mg / l
2
Novacaine
50 mg / kg berat ikan
3
Barbitas sodium
50 mg / kg berat ikan
4
Ammobarbital sodium
85 mg / kg berat ikan
5
Methyl paraphynol (dormisol)
30 mg / l
6
Tertiary amyl alcohol
30 mg / l
7
Choral hydrate
3-3.5 g lt
8
Urethane
100 mg / l
9
Hydroksi quinaldine
1 mg / l
10
Thiouracil
10 mg / l
11
Quinaldine
0.025 mg / l
12
2-Thenoxy ethanol
30 – 40 ml / 100 lt
13
Sodium ammital
52 – 172 mg / l

Pembiusan ikan dikatakan berhasil bila memenuhi tiga kriteria, yaitu : (1) Induksi bahan pembius dalam tubuh ikan terjadi dalam waktu tiga menit atau kurang, sehingga ikan lebih mudah ditangani, (2) Kepulihan ikan sampai gerakan renangnya kembali normal membutuhkan waktu kurang dari 10 menit, dan (3) Tidak ditemukan adanya kematian ikan selama 15 menit setelah pembongkaran. Yang harus diperhatikan dalam penggunaan bahan anestasi ini adalah, apakah bahan-bahan tersebut dapat menimbulkan potensi bahaya bagi manusia atau tidak.

3. Pemingsanan ikan dengan arus listrik
Arus listrik yang aman digunakan untuk pemingsanan ikan adalah yang mempunyai daya 12 volt, karena pada 12 Volt ikan mengalami keadaan pingsan lebih cepat dan tingkat kesadaran setelah pingsan juga cepat.
Setelah ikan pingsan selanjutnya adalah pengemasan. Pada pengangkutan ikan hidup dengan system kering diperlukan media pengisi sebagai pengganti air. Yang dimaksud dengan bahan pengisi dalam pengangkutan ikan hidup adalah bahan yang dapat ditempatkan diantara ikan hidup dalam kemasan untuk menahan ikan dalam posisinya. Bahan pengisi memiliki fungsi antara lain mampu manahan ikan agar tidak bergeser dalam kemasan, menjaga lingkungan suhu rendah agar ikan tetap hidup serta memberi lingkungan udara dan kelembaban memadai untuk kelangsungan hidupnya.
Media pengisi yang sering digunakan dalam pengemasan adalah serbuk gergaji, serutan kayu, serta kertas koran atau bahan karung goni. Jenis serbuk gergaji atau serutan kayu yang digunakan tidak spesifik, tergantung bahan yang tersedia. Diantara beberapa jenis bahan pengisi, sekam padi dan serbuk gergaji merupakan bahan pengisi terbaik karena memiliki karakteristik, yaitu : berongga, mempunyai kapasitas dingin yang memadai, dan tidak beracun.Media serbuk gergaji memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan jenis media lainnya. Keunggulan tersebut terutama pada suhu. Serbuk gergaji mampu mempertahankan suhu rendah lebih lama yaitu 9 jam tanpa bantuan es dan tanpa beban di dalamnya.
Adapun cara pengemasannya adalah sama dengan cara pengemasan produk ikan segar/beku yang ditransportasikan dengan menggunakan cool box, dimana ikan disusun berlapis dengan serbuk gergaji. Wadah yang digunakan dalam proses pengangkutan ikan hidup dengan sistem kering dapat berupa sterefoam. Caranya pengemasannya adalah sebagai berikut:
  1. Pertama-tama tempatkan serbuk gergaji yang telah didinginkan (suhu 8 – 10oC) dibagian dasar wadah; 
  2. Kemudian tempatkan lapisan ikan dengan ketebalan tertentu diatasnya; 
  3. Selanjutnya ditempatkan lagi lapisan serbuk gergaji diatas lapisan ikan, demikian seterusnya berselang-seling dengan yang terakhir (paling atas) adalah lapisan serbuk gergaji; 
  4. Sebaiknya boks sterefoam ditutup sangat rapat untuk menghindari udara panas dari luar masuk ke dalam wadah. 
  5. Setelah dikemas, selanjutnya ikan siap didistribusikan. Boks-boks sterefoam yang berisi ikan dimasukkan kedalam alat angkut (mobil) yang telah dimodifikasi dengan menambahkan lapisan insulasi pada sekeliling dindingnya. Hal ini untuk menghambat udara panas dari luar yang akan masuk kedalam ruang penyimpanan. Selama dalam transportasi, pengontrolan suhu ruang perlu dilakukan secara rutin dan diupayakan untuk tetap stabil. 

Pada saat tiba ditempat tujuan, ikan segera disadarkan. Proses penyadaran adalah dengan mengembalikan ikan sesuai dengan suhu pada habitatnya. Caranya adalah sebagai berikut:
  1. Siapkan wadah (bak) yang telah dilengkapi dengan aerasi sehingga oksigen dalam air tercukupi dan sirkulasi dapat berjalan dengan baik. 
  2. Cuci ikan dengan bersih untuk menghilangkan lendir dan sisa-sisa serbuk gergaji yang masih menempel pada tubuh ikan. 
  3. Kemudian masukkan ikan kedalam bak. 
  4. Untuk mempercepat proses penyadaran perlu adanya sedikit rangsangan dengan cara menggerak-gerakkan badan ikan pada buih aerator. 
  5. Umumnya ikan akan sadar dalam waktu ±10 menit. 
Berbicara distribusi hasil perikanan di tingkat supplier/pedagang pengumpul dan pedagang pengecer, maka kita tidak hanya berbicara mengenai sarana distribusi seperti sarana transportasi saja namun juga berbicara mengenai sarana distribusi lainnya, salah satunya adalah pelabuhan perikanan.
Dalam Undang-Undang No 31 Tahun 2004 tentang Perikanan dinyatakan bahwa pelabuhan perikanan sebagai suatu lingkungan kerja salah satunya berfungsi sebagai pusat pemasaran dan distribui hasil perikanan. Sedangkan dalam pasal 15 ayat (3) huruf a Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No 10 Tahun 2004 menyatakan bahwa pelabuhan perikanan memiliki fasilitas funfsional salah satunya adalah fasilitas pemasaran hasil perikanan seperti tempat pelelangan ikan (TPI) dan pasar ikan.
Tempat pemasaran/distribusi hasil perikanan seperti TPI dan Pasar Ikan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
  • Terlindung dan mempunyai dinding yang mudah untuk dibersihkan; 
  • Mempunyai lantai yang kedap air yang mudah dibersihkan dan disanitasi, dilengkapi dengan saluran pembuangan air dan mempunyai sistem pembuangan limbah cair yang higiene; 
  • Dilengkapi dengan fasilitas sanitasi seperti tempat cuci tangan dan toilet dalam jumlah yang mencukupi. Tempat cuci tangan harus dilengkapi dengan bahan pencuci tangan dan pengering sekali pakai; 
  • Mempunyai penerangan yang cukup untuk memudahkan dalam pengawasan hasil perikanan; 
  • Kendaraan yang mengeluarkan asap dan binatang yang dapat mempengaruhi mutu hasil perikanan tidak diperbolehkan berada dalam tempat Pemasaran Ikan/pasar grosir; 
  • Dibersihkan secara teratur minimal setiap selesai penjualan; 
  • Dilengkapi dengan tanda peringatan dilarang merokok, meludah, makan dan minum, dan diletakkan di tempat yang mudah dilihat dengan jelas; 
  • Mempunyai fasilitas pasokan air bersih dan atau air laut bersih yang cukup; 
  • Mempunyai wadah penampungan produk yang bersih, tahan karat, kedap air dan mudah dibersihkan; dan 
  • Mempunyai penampungan pengolahan limbah. 
Selain persyaratan tersebut, tempat pemasaran hasil perikanan juga harus memenuhi persyaratan hygiene dan penerapan system rantai dingin.


SUMBER :

Anonim, 1989. Petunjuk Praktis Penanganan dan Transportasi Ikan Segar. Balai Bimbingan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan, Direktorat Jenderal Perikanan, Jakarta.
Anonim, 1992. Petunjuk Teknis Penanganan Tuna Loin Segar. Balai Bimbingan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan, Jakarta.
Anonim, 1992. Petunjuk Teknis Transportasi Ikan Hidup Dengan Cara Dipingsankan. Bimbingan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan. Direktorat Jenderal Perikanan, Jakarta
Anonim, 2007. Juknis Penerapan Sistem Rantai Dingin dan Sanitasi Higiene di Unit Pengolahan Ikan. Direktorat Pengolahan Hasil. Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan. Departemen Kelautan dan Perikanan, Jakarta.
http://www.academia.edu/5197583/PROSES_PENANGANAN_TUNA_DI_PELABUHAN
http://www.ppnsi.org/jurnal-mainmenu-9/perikanan-a-kelautan-mainmenu-43/139-strategi-pemasaran-produk-perikanan-dan-kelautan.
http://rafel896.wordpress.com/2011/10/16/standard-sanitation-operating-procedure-ssop.
http://teknologipascapanen.blogspot.com/2012/02/transportasi-ikan-hidup.html
http://fatih16.blogspot.com/2013/05/penanganan-ikan-di-pantai.html
http://oceanbrilliant.blogspot.com/2013/04/pennganan-ikan-di-pelabuhan-perikanan.html
http://nakbarsyah.blogspot.com/2014/01/distribusi-hasil-tangkapan-permasalah.html
Undang-Undang RI No 31 Tahun 2004 tentang Perikanan
Keputusan Menteri KP No 10 Tahun 2004 tentang Pelabuhan Perikanan
Keputusan MenterI KP No 52A Tahun 2013 tentang Persyaratan Jaminan Mutu dan Kemanana Hasil Perikanan Pada Proses Produksi, Pengolahan dan Distribusi


Firman Pra Setia Nugraha, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Kab. Banyuwangi


Rabu, 16 Januari 2019

TEKNIK PRODUKSI BENIH UDANG GALAH (PART 2)




Pakan Buatan
Pakan buatan sebagai pakan tambahan perlu diberikan untuk melengkapi kebutuhan gizi bagi larva udang, diberikan pada masa akhir stadia larva. Komposisi bahan pakan buatan dan analisis proksimatnya ditampilkan pada Tabel.

Komposisi bahan pakan buatan dan analisis proksimat (%)
Bahan Pakan
Prosentase (%)
Cumi-cumi
27,6
Udang
27,6
Telur ikan
6,9
Telur Ayam
6,9
Minyak ikan
14,0
Vitamin
1,0
Garam
1,0
Alginate
15,0
Analisis Proksimat
Prosentase
Protein
54,9
Lemak
19,7
Abu
7,7
Sumber : AQUACOP, 1977 dalam Hadie dan Hadie, 1993


Hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian pakan buatan adalah ukuran pakan dan dosisnya harus sesuai dengan umur larva. Untuk memperoleh ukuran pakan yang sesuai, dapat menggunakan saringan dengan ukuran tertentu. Ukuran pakan yang diberikan berdasarkan ukuran saringan menurut umur larva disajikan pada Tabel 5.


Ukuran saringan menurut umur larva (mesh/cm)


  Kualitas Air
Kualitas air  merupakan faktor  penting  selama pembenihan berlangsung. Baik  buruknya kualitas air akan sangat menentukan hasil yang akan dicapai. Air yang digunakan harus memenuhi kriteria fisik, kimia, dan biologi.

Beberapa parameter kualitas air yang perlu dipantau antara lain oksigen terlarut  (DO), salinitas, derajat keasaman (pH), dan suhu.


Oksigen Terlarut
Kandungan oksigen terlarut (Dissolved Oxygen) di dalam air merupakan sumber respirasi bagi larva, oleh karenanya harus selalu tersedia di dalam media. Keperluan organisme terhadap oksigen terlarut relatif bervariasi tergantung pada jenis, stadium dan aktifitasnya. Kisaran oksigen terlarut 5 ppm atau lebih merupakan kadar yang cukup baik untuk pertumbuhan larva udang galah.

Kandungan oksigen dalam air media budidaya dipengaruhi oleh :

  • Padat tebar udang atau biomas udang;
  • Banyak tidaknya kotoran atau senyawa-senyawa lain yang mengkonsumsi oksigen dalam air media budidaya;   
  • Tinggi rendahnya populasi organisme lain;
  • Tingkat aerasi serta efektivitas absorbsi oksigen ke dalam air media budidaya; serta
  • Tingkat pergantian air


Salinitas
Salinitas atau kadar garam yang terkandung dalam air merupakan salah satu parameter yang perlu diperhatikan dalam pembenihan. Udang galah memiliki toleransi salinitas berkisar 0-15 ppt. Pada fase larva udang galah mampu tumbuh dengan baik pada salinitas 10-15 ppt.   
Untuk kebutuhan kadar garam media pemeliharaan larva, dapat berasal dari air laut dan dari garam dapur, atau campuran dari keduanya.   Informasi terakhir adalah bahwa kombinasi air laut dengan garam dapat meningkatkan laju pertumbuhan larva udang galah (Khasani, 2010).

Derajat keasaman (pH)
Nilai derajat keasaman (pH) sangat terkait erat dengan ketersediaann CaCO3 dalam media budidaya.  Selain  sebagai  penyangga  atau  faktor  pendukung  kestabilan  pH,  senyawa tersebut merupakan faktor yang penting pada proses pergantian kulit (moulting). pH media pemeliharaan larva udang galah sebaiknya berkisar antara 7 – 8,5. Untuk mengukur pH dapat digunakan pH meter atau kertas lakmus.   Adanya pergantian air secara rutin menunjang ketrersediaan unsur tersebut.

Suhu
Suhu air dipengaruhi oleh musim, lintang (altitude), ketinggian dari permukaan laut (latitude), pergantian siang dan malam, sirkulasi udara, penutupan awan dan aliran serta kedalaman badan air (Effendi, 2003). Peningkatan suhu dapat mengakibatkan penurunan kelarutan gas dalam air, termasuk di dalamnya oksigen.

Suhu media perlu dipantau, karena memberi pengaruh cukup besar bagi kelangsungan hidup, pertumbuhan larva, serta konversi pakan. Suhu optimal untuk kehidupan larva udang galah adalah 28 – 30 ÂºC. Suhu apat diukur dengan menggunakan termometer alkohol/ air raksa, dll. Gambar ini terdapat beberapa alat untuk pengukuran kualitas air.
Alat Pengukur Kualitas Air

Monitoring pertumbuhan
Monitoring pertumbuhan larva secara berkala sangat penting dilakukan.  Maksud pekerjaan ini adalah guna mengetahui apakah perkembangan larva normal, ataukah ada kelainan (kurang baik).   Monitoring pertumbuhan adalah dengan mengukur panjang larva (panjang total atau total length / TL) paling tidak setiap 5 hari.  Gambar 17 memperlihatkan kegiatan pengukuran panjang larva.

Jumlah larva yang diambil sebagai contoh minimal 30 ekor.   Hasil pengukuran kemudian dianalisis apakah ada kecenderungan perbedaan yang mencolok. Bila kurang baik maka perlu diketahui faktor-faktor yang kiranya berpengaruh terhadap hal tersebut.

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap laju pertumbuhan larva/benih udang galah pada dasarnya meliputi empat golongan yaitu: (1) mutu telur/naupliii, (2) lingkungan/kualitas air media pemeliharaan, (3) pakan, serta (4) ada tidaknya serangan penyakit.

Pengukuran panjang udang (panjang total atau total length /TL)

Mutu telur bisa diketahui dari ukuran serta tingkat penetasannya (hatching rate).   Ukuran telur yang baik adalah 0,6-0,7 mm, dan tingkat penetasan di atas 80%.



Pemanenan
Panen seleksi dilakukan pada hari ke 28-30 dengan syarat larva yang sudah menjadi pasca larva (PL) atau ukuran 1-3 cm sekitar 30-75% jumlah total larva. Panen menggunakan serokan berukuran mesh size mesh 50 setelah air diturunkan hingga tersisa 30%.
Larva yang sudah ditampung selanjutnya diseleksi (grading) dengan cara merendam seser dalam air. Secara biologis udang galah yang sudah mencapai PL akan menempel pada seser tersebut. Selanjutnya larva dimasukkan dalam wadah yang telah disiapkan. Proses grading disajikan pada Gambar.

Proses grading benih udang galah ukuran PL dan yang belum PL

Pemanenan total dilakukan setelah larva menjadi pasca larva seluruhnya. Dari hasil panen kemudian dihitung tingkat kelangsungan hidupnya (sintasan).

Pentokolan
Kolam yang dipergunakan bisa dari tembok untuk ukuran kecil (volume kolam 5-10 ton), atau dengan kolam tanah dengan luasan 200-400 m2. Kondisi pemeliharaan secara umum mulai dari padat tebar juvenil, penggunaan bahan-bahan seperti kapur, pakan, obat-obatan, hingga panen, yang lazim disebut standar produksi disajikan pada Tabel.

No.
Parameter

Satuan

Juwana
Tokolan
Bak
Kolam
1.
Pupuk organik
g/m2
-
-
200-500
2.
Penebaran
-  padat tebar
-  ukuran

Ekor/m3 gr/ekor

80.000
0,0001

1.000
AS0,002

100
0,002
3.
Pakan
-   tingkat pemberian
-   frekuensi pemberian

%/hari
Kali/hari

30
8

20
4

20
4
4.
Waktu pemeliharaan
Hari
31-40
80
100
5.
Panen





-   sintasan
-   ukuran
%
gr
40
0,002
70
1
75
2

Secara ringkas, pentahapan pemeliharaan juvenil menjadi tokolan meliputi :
  •    Penyiapan kolam, dan air media pemeliharaan,
  •    Penebaran juvenil,
  •    Pemberian/Pengelolaan pakan,
  •    Pengelolaan kualitas air,
  •    Monitoring pertumbuhan,
  •    Monitoring kesehatan, dan
  •    Pemanenan dan pengemasan
Pengemasan (packing) benih udang galah yang dapat dilakukan dengan sistem terbuka dan sistem tertutup.   Sistem terbuka adalah larva dimasukkan dalam bak yang diaerasi atau dengan oksigen, sedang untuk sistim tertutup adalah pengemasan dengan menggunakan kantong plastik jenis PE (polyetilen) berukuran 70 x 30 cm.  Perbandingan air dan oksigen adalah = 1 : 2 untuk pengangkutan kurang dari 8 jam dengan kepadatan perkantong 1.000 ekor/kantong. Contoh pengemasan sistim tertutup disajikan pada Gambar.
Untuk pengangkutan, kantong berisi udang tersebut dimasukkan dalam boks styrofoam dan dimasukkan potongan es yang sudah dibungkus plastik guna menurunkan suhu ± 20 0C. Penurunan suhu bertujuan untuk menurunkan tingkat metabolisme yang berarti juga untuk menekan penggunaan oksigen, sehingga waktu pengangkutan dapat di perpanjang.  Suhu rendah dalam transportasi benih udang berfungsi :

  •    menurunkan tingkat metabolisme,
  •    menurunkan aktivitas benih,
  •    menekan pengeluaran kotoran, dan juga
  •    menekan konsumsi oksigen

Sumber : Pusluh KP-2011