Rabu, 20 Februari 2019

Wadah Untuk Budidaya Air Tawar


Wadah yang digunakan untuk budi daya ikan di air tawar berupa kolam air te-nang atau kolam air mengalir, kolam air deras, kolam tadah hujan, kolam terpal, keramba, keramba jaring apung, hampang, sekat, sawah, akuarium, drum, to­ren, dan tambak.
Pemilihan wadah yang digunakan untuk budi daya ikan air tawar disesuaikan de­ngan lokasi atau sumber air, jenis ikan, skala usaha, tahap kegiatan (pembenih­an, pendederan, pembesaran), dan modal usaha.

A. KOLAM AIR TENANG
Kolam air tenang (KAT) atau kolam air mengalir adalah kolam yang massa airnya mengalami penggantian karena badan air selalu mendapat pasokan air dengan debit minimum ю liter/detik/ hektar. KAT yang ideal adalah kolam yang mudah diairi dan dikeringkan. Karena kolam mendapat pasokan air secara terus-mene-rus, kualitas air di KAT selalu terjamin. Semua spesies ikan air tawar dapat di­pelihara di KAT. Demikian juga, semua proses budi daya ikan air tawar dapat di­lakukan di KAT: pembenihan, pendederan hingga pembesaran.
KAT biasanya dibangun di sekitar sungai, saluran irigasi, atau sumber air lainnya untuk memudahkan mengalirkan air tersebut ke dalam kolam. Untuk mengalir-kan air ke dalam kolam dibuat saluran, baik berupa saluran terbuka atau saluran tertutup berupa gorong-gorong atau pipa. Pada KAT ukuran kecil dapat meng­gunakan pipa atau selang plastik ukuran kecil.
KAT dapat berupa kolam tanah, kolam semi beton (pematang dan saluran di­buat beton, dasar kolam berupa tanah), kolam beton, dan kolam terpal. KAT da­pat berbentuk segi empat, empat persegi panjang, bulat, atau tidak beraturan. Sedangkan ukuran KAT mulai dari kecil, hanya beberapa meter hingga beberapa hektar. Untuk kegiatan pendederan dan pembesaran sebaiknya membangun kolam ukuran sedang antara 500 - 600 m2. Kolam yang terlalu luas selain mem­butuhkan biaya yang besar, apalagi dibangun beton, juga agak sulit dalam pe-ngelolaannya.
Gambar 1. Kolam Air Tenang


B. KOLAM AIR DERAS
Kolam air deras (KAD) adalah kolam yang airnya mengalir secara terus-menerus dalam jumlah besar, antara 25 - 100 liter/detik. KAD hanya сосок untuk kegiatan pembesaran ikan-ikan yang dapat hidup pada air yang mengalir. Karena itu, ikan-ikan yang habitat alaminya sungai dapat dipelihara di KAD seperti mas, tawes, lalawak, nilem, nila, mola, karper rumput, sidat, jelawat, dan semah. Pengguna­an KAD untuk pemeliharaan ikan di Indonesia mulai berkembang pada tahun 1980-an. Spesies ikan yang dipelihara adalah ikan mas. KAD berbentuk segi empat, empat persegi panjang, oval, segi tiga, dan tidak beraturan. Umumnya KAD dibuat berbentuk segi empat, empat persegi pan­jang, oval, dan segi tiga. KAD berupa kolam semi beton dan beton. Ukuran ko­lam dari ukuran kecil sampai ratusan meter, namun ukuran yang dianggap ideal adalah 100 - 200 m2 dengan kedalaman 1 -1,5 m. Di Jawa Barat, KAD untuk pem­besaran ikan mas, yang juga digunakan untuk pembesaran nila, ukurannya (P x L x T) 6 x 2,5 x 2 m dan 8 x 3 x 1,5 m. Ukuran KAD yang kecil memudahkan pengelolaan. Sistem pemberian air ke KAD bisa dibuat berseri, paralel atau kombinasi seri dan paralel, tergantung debit air dan kondisi lahannya. Namun untuk menjamin air kolam selalu baru, sebaiknya kolam dibuat paralel sehingga sistem pemberian air berlangsung secara paralel.
Gambar 2. Kolam Air Deras


C. KOLAM TADAH HUJAN
Kolam tadah hujan (KTH) adalah kolam yang dibangun pada lahan kering iklim basah. Lahan yang potensial untuk membangun KTH adalah lahan yang belum terjangkau jaringan irigasi, tetapi memiliki curah hujan di atas 2.000 mm per tahun. Di Indonesia, luas lahan kering iklim basah dengan kondisi seperti ter­sebut diperkirakan lebih dari 123 juta ha (Jangkaru, 2000), yang tersebar di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Maluku, Papua, Jawa, Madura, Bali, dan Nusa Tenggara.
Lahan tersebut sangat potensi untuk pembuatan KTH. Karena pasokan air yang terbatas, KTH hanya сосок untuk budi daya ikan-ikan yang tahan hidup pada lingkungan yang minim oksigen seperti gurami, betok, tambakan, sepat, lele, belut, gabus, dan toman. Ikan-ikan lain dapat dipelihara pada KTH bila kolam dikelola dengan cara resirkulasi atau menggunakan aerator untuk memasok oksigen.
Prinsip pembuatan KTH sama dengan lainnya. Dalam pembuatan KTH perlu di­perhatikan tekstur tanah yang berkaitan dengan fraksi atau ukuran butiran pe-nyusun tanah. Tanah liat dianggap paling сосок untuk pembangunan KTH. Ben­tuk dan ukuran kolam tergantung dari luas lokasi. KTH dapat bebentuk segi empat, empat persegi panjang, atau kolam tidak beraturan. KTH berbentuk segi empat atau bujur sangkar dengan ukuran kecil, misalnya 5x5 m, 6x6m hingga 10 x 10 m, kedalaman 1,25 - 1,50 m dan kedalaman air sekitar 1 meter, adalah ukuran yang banyak diterapkan oleh petani ikan.
Untuk meningkatkan kekedapan tanah yang mengandung fraksi pasir dilakukan pelapisan dengan plastik lembar, terpal, tanah liat, atau dengan bahan kimia. Pelapisan plastik lembar dilakukan dengan menanamnya di belakang dinding kolam. Jika sebuah KTH direncanakan berukuran 5 x 5 x 1,25 m, di sekeliling ko­lam pada jarak 50 cm dari dinding kolam digali parit dengan lebar 30 - 40 cm dan kedalaman 150 cm. Lembaran plastik dipasang dalam parit yang dimulai dari dasar sampai ketinggian sesuai dengan tinggi permukaan air kolam. Penimbun-an atau pengurukan kembali dilakukan pada bagian belakang plastik sehingga plastik dibatasi dengan air kolam oleh lapisan tanah yang keras. Dengan cara ini, kesuburan kolam dapat dipertahankan karena tanah asal tetap berhubungan langsung dengan air kolam.
Peningkatan kekedapan tanah dasar dilakukan dengan cara pembentukan lapis­an lumpur setebal 20 - 30 cm. Andaikata dengan lapisan lumpur masih terjadi rembesan air melalui dasar kolam, terpaksa di bawah lapisan lumpur dipasang pelapis lembaran plastik juga. Diusahakan agar plastik di dasar kolam bertemu dengan pelapis dinding.
Pelapisan seluruh permukaan kolam dilakukan dengan menggunakan lembaran fleksibel dari bahan polietilen, vinil, atau karet butil. Lembaran harus bersifat lunak dan dipasang dengan cermat agar jika sudah terpasang dapat berfungsi dengan baik dan tidak bocor. Lapisan permukaan tanah kolam, terutama dasar kolam diberi lapisan pasir 15 - 20 cm. Tebal terpal pelapis dari bahan polietilen dan vinil minimum 2 mm, sedangkan untuk bahan karet butil 4 mm. Apabila butir tanah yang di permukaan kolam lebih kasar, maka bahan pelapis juga harus lebih tebal. Bentuk terpal sebaiknya disesuaikan dengan bentuk dan luas kolam. Jika terpal yang tersedia di pasar berupa lembar dengan lebar sekitar 1 -1,5 m, pemasangan bagian sambungan harus dilakukan serapi mungkin agar tetap kedap air. Kekedapan tanah kolam dapat ditingkatkan dengan bahan kimia atau perekat lainnya.
Bahan kimia yang sering digunakan antara lain garam dapur dan poli-fosfat. Apabila menggunakan garam dapur, dosis yang digunakan antara 0,04 -0,17 kg/m2, sedangkan jika menggunakan polifosfat digunakan dosis antara 0,01 - 0,02 kg/m2. Cara memakainya adalah bahan perekat dicampur merata dengan tanah sampai membentuk adonan. Adonan dilapiskan di atas permukaan tanah kolam. Ketebalan lapisan adonan ditentukan oleh tinggi permukaan air kolam. Semakin tinggi permukaan air kolam, semakin tebal lapisan adonannya. Sebagai contoh untuk air kolam dengan ketinggian antara 80 - 100 cm dibutuhkan lapis­an adonan setebal 15 - 30 cm.
Akan tetapi yang perlu diingat adalah bahwa penggunaan bahan kimia atau ba­han perekat sering menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Selain itu, diperlukan biaya yang relatif mahal. Untuk itu, perlu dilakukan pertimbang-an secara teknis-ekologis dan ekonomis lebih bijaksana.
Pematang kolam sesedikit mungkin ditanami tumbuhan agar angin dapat ber-tiup bebas. Tiupan angin akan membantu pengadukan air sehingga kandungan oksigen terlarut dalam air kolam bertambah melalui proses difusi dengan atmosfer.
Gambar 3. Kolam Tadah Hujan


D. KOLAM TERPAL
Kolam terpal (KT) atau kolam karpet merupakan salah satu inovasi baru dalam pengembangan budi daya ikan. KT merupakan pengembangan kolam tadah hujan (KTH), namun diterapkan di lahan terbatas. Sistem budi daya ikan di KT pertama kali dikembangkan oleh Bapak Mujarob, seorang petani ikan di Bekasi, Jawa Barat pada tahun 1999 dengan membudidayakan ikan lele. Saat ini KT telah digunakan untuk budi daya berbagai jenis ikan air tawar.
KT сосок untuk pemeliharaan ikan-ikan yang dapat hidup di perairan minim oksi­gen seperti gurami, betok, tambakan, sepat, lele, belut, gabus, dan toman. Ikan-ikan lain dapat dipelihara di KT jika kolam mendapat pasokan air terus-menerus. Cara lainnya adalah mengelola kolam secara resirkulasi atau menggunakan aerator.
Budi daya ikan di KT memiliki beberapa keunggulan, di antaranya:
  • Dapat diterapkan di lahan terbatas. Teknologi budi daya ikan di KT bisa diterapkan di lahan sempit, seperti di pekarangan atau halaman rumah. Bah­kan teknologi ini bisa diterapkan di garasi mobil, kolong rumah (rumah panggung), atau teras rumah.
  • Dapat diterapkan di lahan atau tanah yang porous (tanah yang menyerap air) atau tanah berpasir. Tanah porous atau tanah berpasir tidak baik atau tidak сосок untuk membangun kolam karena tidak mampu menahan air atau menyerap air. Salah satu cara mengatasinya adalah dengan memba­ngun kolam beton. Namun biaya yang dibutuhkan untuk membangun kolam beton sangat mahal. KT merupakan alternatif yang baik, karena selain biaya pembuatannya murah, kolam juga mudah dipindahkan.
  • Dapat diterapkan di daerah sulit air. Sebelumnya, pada daerah sulit air hanya dikenal sistem budi daya ikan dengan menggunakan KTH. Namun pem­bangunan KTH juga membutuhkan biaya besar. Di samping itu, air pada KTH dapat hilang melalui penyerapan tanah di kolam dan penguapan. KT me­rupakan solusi yang tepat, karena biaya pembuatannya murah dan air di kolam ini hilang hanya melalui penguapan.
  • Pembuatannya praktis. KT hanya membutuhkan sedikit bahan dan waktu pembuatannya cukup beberapa jam. Ini berbeda dengan membuat kolam tanah atau kolam beton yang membutuhkan bahan yang banyak dan waktu pembuatannya memakan waktu berhari-hari.
  • Waktu produksi yang lebih singkat. Jika menggunakan kolam tanah, maka selesai panen, kolam harus dijemur dan diolah lagi. Pada KT, ketika selesai panen, KT cukup dibersihkan dan diisi air untuk pemeliharaan lagi.
  • Ikan-ikan yang dibudidayakan di KT tidak berbau lumpur. Salah satu ke-lemahan ikan yang dipelihara di KTH atau di air tergenang adalah berbau lumpur, hal ini karena kotoran ikan yang menumpuk, sisa-sisa makanan, metabolisme tubuh ikan, ataupun sumber air yang tidak bersih. Pada KT hal-hal tersebut dapat diminimalisasi dengan menyifon (menyedot kotoran da­sar kolam) dasar kolam, karena mudah dilakukan.
  • Sintasan atau kelangsungan hidup (survival rate) ikan yang dipelihara di KT lebih tinggi, yang dapat mencapai 90 - 95%. Hal ini karena pengawasan yang lebih mudah dan intensif.
  • Padat penebarannya lebih tinggi. Pada KTH atau kolam air tergenang, padat penebaran ikan bisa tinggi, namun pertumbuhannya melambat dan sintasan menurun.
  • Pertumbuhan ikan lebih cepat. Ikan yang dibudidayakan di KT, pertumbuh­annya dapat dipacu dengan pemberian pakan yang cukup dan berkualitas.
  • Biaya pembuatan KT lebih murah. KT juga dapat diubah posisinya dan dapat dipindahkan.


Sesuai dengan namanya, KT adalah kolam yang keseluruhan bentuknya, dari bagian dasar hingga sisi-sisi dindingnya, menggunakan bahan utama berupa terpal. Selain berbentuk kolam tanah atau kolam tembok, kolam terpal juga bisa berbentuk bak, tetapi disokong dengan kerangka dari bambu, kayu, pipa ledeng, atau besi.
Berdasarkan peletakannya, KT terdiri atas KT di atas permukaan tanah dan KT di bawah permukaan tanah. Sedangkan berdasarkan bahan dan cara membuat-nya, terutama dinding atau kerangka kolam maka dikenal beberapa KT, yaitu (a) KT dengan kerangka bambu/kayu/pipa ledeng/besi; (b) KT dengan dinding bata-ko atau batu bata; (c) KT dengan dinding tanah; dan (d) kolam beton atau kolam tanah berlapis terpal. Kolam a dan b merupakan KT di atas permukaan tanah. Kolam с adalah KT di bawah permukaan tanah, sedangkan kolam d bisa berupa kolam di bawah permukaan tanah maupun di atas permukaan tanah.
Ukuran KT disesuikan dengan lahan dan ukuran terpal, misalnya 2x3x1m, 4x5 x 1 m, 6 x 4 x 1 m, atau 4x8x1m. Untuk kolam ukuran 6x4x1m digunakan terpal 8 x 6 m, sedangkan untuk kolam ukuran 4x5x1m digunakan terpal ukuran 6x7m. Di salah satu sudut yang telah diatur kemiringannya dipasang paralon sebagai saluran pembuangan air. Terpal disobek sedikit dengan cara mengguntingnya berbentuk bintang agar bisa dipasang bengkokan pipa (knee).

E. KERAMBA
Keramba adalah wadah yang dipergunakan untuk memelihara ikan yang ditem­patkan dalam wadah air yang dangkal sehingga sebagian keramba muncul di atas permukaan air. Metode pemeliharaan ikan dalam keramba umumnya di­terapkan di sungai dangkal atau saluran air. Keramba juga dapat ditempatkan di danau, waduk, dan rawa-rawa pada bagian yang dangkal. Penempatan keramba di dasar perairan dengan tutup yang mencuat di muka air cukup menguntung­kan dalam pemeliharaan ikan.
aliran air, karena tidak semua spesies ikan dapat hidup melawan arus air. Keramba yang ditempatkan di sungai atau saluran irigasi dapat ditebari ikan-ikan sungai seperti ikan mas, tawes, lalawak, patin, nilem, nila, sidat, mola, karper rumput, jelawat, dan semah.
Keramba untuk pemeliharaan ikan dibuat dari bambu, kayu, gabungan bambu dan kayu, atau kawat dengan kerangka kayu/bambu. Ukuran keramba bervariasi tergantung pada luas dan kedalaman perairan. Untuk sungai atau saluran irigasi sempit keramba dibuat ukuran kecil, misalnya 2x1x1m. Sedangkan untuk sungai atau saluran irigasi yang luas, keramba dapat dibuat hingga ukuran 4x2 x 2 m. Untuk memudahkan pemberian pakan, pembersihan keramba dan pemanenan, pada tutup dibuat pintu dengan ukuran 40 x 50 cm, 50 x 50 cm, atau 60 x 60 cm. Penempatan keramba dilakukan di tepian sungai atau di tem­pat khusus yang telah ditentukan dengan cara mengikatkan pada tambatan berupa batang pohon atau tonggak tambatan. Keramba ditenggelamkan seba­gian di dalam air dengan bagian atas tetap mengapung di permukaan air sekitar 10 cm.

F. KERAMBA JARING APUNG
Salah satu teknologi akuakultur untuk budi daya ikan intensif adalah metode keramba jaring apung (KJA). Metode KJA merupakan teknik akuakultur paling produktif. Beberapa keuntungan yang dimiliki metode KJA, yaitu tingginya pa­dat penebaran, jumlah dan mutu air selalu memadai, tidak diperlukannya peng­olahan tanah, mudahnya pengendalian gangguan predator (pemangsa), mudah-nya pemanenan, serta hasil panen tidak berbau lumpur.
Penerapan sistem budi daya ikan di KJA selain untuk peningkatan produksi per­ikanan air tawar, juga untuk meningkatkan daya saing produksi perikanan, ter­utama untuk pasar ekspor. Ikan yang diproduksi melalui budi daya sistem KJA dapat memenuhi syarat untuk ekspor, yaitu ukurannya seragam, warna ikan le­bih cerah dan terang, tidak berbau lumpur, dan dagingnya bersih. Sistem budi daya ikan di KJA juga berkembang, baik di air tawar maupun laut.
KJA сосок untuk wadah pembesaran ikan. Semua spesies ikan air tawar dapat dipelihara di KJA. Namun, umumnya ikan yang dipelihara di KJA adalah ikan-ikan yang mempunyai nilai ekonomi tinggi seperti ikan mas, nila, patin, bawal air tawar, gurami, dan sidat.
KJA untuk pemeliharaan ikan air tawar berbentuk segi empat atau empat per­segi panjang dengan berbagai ukuran, misalnya 2x2 m, 4x4 m, 5x5 m, 6x6 m, 7 x 7 m, 8 x 8 m, atau 10 x 10 m, dan ukuran keramba 3x3x3m atau 5x5x3 m dan sebagainya. Rakit KJA dibuat dari bambu, kayu, atau bahan HDPE (High Density Polyethylene), sejenis plastik. Pelampung dibuat dari bambu bulat, balok kayu, drum, ban bekas, dan busa plastik atau stirofoam (styrofoam). Rakit yang dibuat dari bahan HDPE tidak perlu pelampung. Jangkar dibuat dari kantong yang diisi pasir, batu yang dibungkus, besi, kayu, beton cetak atau logam. Bobot jangkar yang digunakan ditentukan oleh arus dan angin, bentuk dasar perairan serta tekstur tanah dasar perairan. Untuk sebuah KJA di perairan tenang, jang­kar yang dibutuhkan cukup dua buah dan masing-masing berbobot 30 kg. Apabi­la ukuran KJA lebih besar atau terdiri dari gabungan beberapa rakit maka dapat digunakan jangkar yang berbobot 50 kg atau lebih. Sedangkan pemberat dapat berupa batu yang dibungkus, batang besi bulat, besi beton, atau tiang pancang. Ukuran pemberat disesuaikan dengan ukuran keramba/kantong jaring.
Bahan untuk pembuatan keramba harus bersifat tahan dalam air dan dapat me-nahan beban, terutama pada saat panen. Salah satu bahan yang memenuhi syarat tersebut adalah jaring poiietilen yang umum dipakai untuk jaring trawl. Selain jaring poiietilen, jaring kawat terbungkus plastik dapat digunakan sebagai bahan pembuat keramba. Pada KJA bertingkat atau berlapis, dibutuhkan tam­bahan jaring lapisan luar, pemberat, dan tambang. Untuk KJA ukuran 12,5 x 6 x 5 m cukup ditambahkan sekitar 40 kg jaring.

G. HAMPANG
Hampang atau pen (fence)—penculture—adalah bagian badan air yang diku-rung pagar dan digunakan untuk memelihara ikan. Hampang juga dikenal seba­gai keramba tancap. Secara ekologis, wadah pemeliharaan ikan dalam bentuk hampang merupakan gabungan antara kolam dengan keramba. Bersifat sebagai kolam karena ikan-ikan berhubungan langsung dengan tanah dasar badan air dan sebagai keramba karena massa airnya merupakan bagian langsung dari badan air keseluruhan.
Hampang dibangun di danau, waduk, atau rawa-rawa pada bagian yang dang­kal.
Semua spesies ikan air tawar dapat dipelihara di hampang. Salah satu ham-batan dalam pemeliharaan ikan di hampang adalah pada saat panen. Karena ukurannya yang luas dan tiang-tiang hampang ditanam di dalam tanah, pema­nenan ikan di hampang dilakukan dengan menggunakan jala atau jaring.
Hampang untuk pembesaran ikan air tawar dapat berbentuk segi empat, empat persegi panjang, bulat, atau tidak beraturan sesuai dengan kondisi lokasi. Ham­pang dapat dibangun/dibuat berbatasan dengan pantai/daratan atau agak jauh dari daratan. Hampang yang dibuat berbatasan dengan daratan akan menghe-mat bahan. Ukuran hampang disesuaikan dengan ukuran lokasi yang ada. Ukur­an hampang yang lebih kecil, misalnya 10 x 5 m, 10 x 10 m, 15 x 10 m, akan memu-dahkan pengelolaan. Hampang yang terlalu luas menyulitkan pengelolaan, ter­utama pemberian pakan. Bahan untuk pembuatan hampang berupa bilah bam­bu, papan, jaring atau kawat anyam. Bahan bilah bambu atau papan disusun seperti krei. Dasar hampang dibenam di dalam tanah 20 - 30 cm dan hampang bagian atas mencuat sekitar 50 cm di atas permukaan air. Untuk memudahkan pengoperasian, hampang dibangun pada badan air dengan kedalaman tidak lebih dari 2 m. Jika menggunakan jaring atau kawat anyam sebagai bahan ham­pang, mata jaring disesuaikan dengan ukuran ikan yang dipelihara. Jaring de­ngan mata jaring (mesh size) 2 - 2,5 cm lebih umum digunakan.

H. SEKAT
Sekat adalah salah satu teknik budi daya ikan air tawar di saluran irigasi atau sungai (sungai kecil). Teknik budi daya ikan dengan menggunakan sekat meru­pakan modifikasi dan pengembangan dari sistem budi daya ikan di keramba. Pada budi daya keramba, ikan dikurung dalam wadah berbentuk kotak yang ukurannya relatif kecil. Karena ukurannya kecil, populasi ikan yang ditebar, ruang gerak, dan pertumbuhan ikan terbatas.
Untuk mengatasi kendala tersebut, budi daya ikan di wadah keramba dimodifi-kasi dan dikembangkan menjadi sistem sekat. Pada budi daya ikan sistem sekat, ikan budi daya dibiarkan bebas pada saluran irigasi atau sungai kecil. Agar ikan dapat terkontrol keberadaannya, dipasang dua buah sekat pada jarak tertentu untuk mengurung ikan budi daya.
Dibanding budi daya ikan sistem keramba, budi daya ikan sistem sekat memiliki beberapa kelebihan di antaranya: populasi ikan yang dipelihara lebih banyak, ruang gerak ikan lebih bebas, dan pertumbuhan ikan lebih bongsor dan optimal. Selain itu, bila usaha harus dikembangkan tidak membutuhkan modal yang besar karena tinggal menggeser kedua sekat pada jarak yang lebih panjang dari semula. Pada sistem keramba, pembudidaya harus memperbesar ukuran keram­ba atau menambah beberapa buah keramba baru sehingga harus mengeluarkan tambahan modal yang relatif lebih besar.
Budi daya ikan sistem sekat pertama kali berkembang di Kabupaten Tabanan, Bali pada awal tahun 1980-an. Jenis ikan yang pertama kali dibudidayakan pada wadah sekat adalah ikan mas (Cyprinus carpio). Ikan mas dipilih sebagai ikan yang dikembangkan karena selain bernilai ekonomis, ikan mas juga dikenal se­bagai ikan sungai yang dapat hidup pada perairan mengalir.
Sekat dibangun di saluran irigasi/sungai ukuran kecil. Untuk memudahkan pema-sangan sekat, saluran irigasi/sungai yang dipilih sebaiknya memiliki lebar 1 - 2 m. Saluran irigasi/sungai yang terlalu lebar akan menyulitkan pemasangan sekat, pengontrolan, dan pengelolaan. Sebaliknya saluran irigasi/ sungai yang terlalu sempit (lebar < 1 m) membuat ikan budi daya tidak leluasa bergerak dan mudah dicuri.
Panjang saluran irigasi atau sungai yang disekat disesuaikan dengan pola usaha yang dikembangkan. Untuk usaha yang dikelola secara perorangan, sebaiknya panjang saluran atau sungai yang disekat antara 10 - 20 m. Sedangkan usaha yang dikelola secara berkelompok tentu lebih luas, bisa 100 - 200 m. Di daerah Tabanan, Bali, masyarakat satu dusun secara berkelompok mampu mengelola dan memanfaatkan saluran irigasi sepanjang 500 -1.000 m.
Kedalaman saluran irigasi yang сосок untuk pemasangan sekat adalah 50 - 100 cm. Kedalaman tersebut selain memudahkan pengelolaan, juga сосок untuk budi daya ikan. Debit air antara 30 - 50 liter/detik. Saluran irigasi yang telah di­bangun beton tentu lebih baik. Saluran irigasi yang mempunyai pintu pengatur air akan lebih baik.
Sekat dibuat dari bambu, kayu, atau jeruji besi. Yang perlu diperhatikan dalam membuat sekat adalah jarak bilah bambu, kayu, atau jeruji besi untuk mencegah ikan budi daya lolos dari wadah. Jarak 2 cm sudah сосок untuk benih ikan ukur­an > 10 cm atau bobot antara 50 - 70 g/ekor. Ikan yang dibudidayakan di wadah sekat adalah ikan-ikan yang mampu berenang pada air mengalir seperti ikan mas, tawes, lalawak, patin, nilem, nila, sidat, mola, karper rumput, jelawat, dan semah.

SAWAH
Sawah adalah salah satu wadah budi daya ikan air tawar yang telah lama dikenal di Indonesia. Sawah yang сосок untuk budi daya ikan adalah yang mendapat pasokan air memadai dari saluran irigasi atau sungai. Sawah yang digunakan untuk budi daya ikan disesuaikan dengan tersedianya air di saluran irigasi.
Sawah yang digunakan untuk budi daya ikan mempunyai pematang, parit, pintu air dan bak penampungan. Pematang kolam sawah dibuat dengan cara men-cangkul sebelah dalam pematang sawah untuk menimbun membentuk pema­tang. Dengan mencangkul berarti telah membuat parit kolam. Ukuran pema­tang, yaitu tinggi 40 - 60 cm, lebar atas sekitar 30 cm dan lebar bawah sekitar 50 cm. Ukuran pematang tidak ada ketentuan yang pasti, tergantung dari kondisi di lokasi tersebut. Jika sering terjadi kelebihan air di musim hujan maka tinggi pematang 60 cm atau lebih, namun bila kelebihan air tersebut tidak ber-bahaya, tinggi pematang antara 25 - 40 cm sudah cukup.
Pembuatan parit bersamaan dengan pembuatan pematang. Bagian dalam yang dicangkul adalah lokasi parit. Ukuran parit yang dibuat, yaitu kedalaman (tinggi) sekitar 30 cm, lebar atas 50 cm, dan lebar bawah 30 cm. Jika ukuran petakan sawah besar, ukuran parit juga dapat diperbesar.
Bentuk parit bermacam-macam, tetapi prinsip pembuatannya tetap sama, yaitu menggali tanah untuk membuat/memperbaiki pematang. Parit yang banyak dibuat petani, yaitu parit keliling, yang dibuat mengelilingi pelataran sawah dan berdampingan dengan pematang. Membuat parit bentuk ini mudah karena ta­nah yang digali langsung ditimbun menjadi pematang tanpa mengangkatnya lagi. Selain parit keliling, bentuk parit yang lain adalah parit tengah, parit dia­gonal, parit palang, dan parit kombinasi.
Pintu air dibuat dari bambu atau pipa paralon yang ditanam pada pematang sawah. Untuk pintu pemasukan air cukup satu, sedangkan pintu pengeluaran dibuat dua buah, pintu yang satu berfungsi sebagai saluran limpas, sedangkan yang satunya lagi sebagai saluran penguras. Pipa atau bambu untuk pintu pe­masukan dipasang agak miring ke dalam sehingga selain pemasukan air berjalan lancar, air yang jatuh sedikit deras menyebabkan kelarutan oksigen di perairan meningkat. Agar berbagai jenis hama dan sampah tidak lolos masuk ke dalam kolam melalui pintu air, pada pintu dipasang saringan dari jaring atau anyaman kawat.
Kolam sawah juga dilengkapi dengan bak penampungan yang berfungsi me­nampung ikan di saat panen, sehingga ikan mudah ditangkap. Bak penampung­an dibuat di sekitar pintu pengeluaran air berbentuk segi empat dengan ukuran 1 x 1 m atau lebih.
Semua jenis ikan air tawar dapat dibudidayakan di sawah, kecuali ikan yang membutuhkan volume air yang besar dan mengalir seperti sidat. Teknik budi daya ikan di sawah yang diterapkan dapat berupa pendederan maupun pem­besaran.

AKUARIUM
Akuarium adalah salah satu wadah yang digunakan untuk pemeliharaan ikan air tawar, terutama ikan hias. Namun, akuarium juga digunakan pemeliharaan ikan konsumsi, khususnya dalam pembenihan, baik untuk penetasan telur maupun pemeliharaan larva dan benih. Ukuran akuarium yang digunakan bermacam-macam. Akuarium yang digunakan terbuat dari plastik maupun kaca.

DRUM
Drum, tong, atau gentong adalah salah satu satu wadah yang digunakan dalam budi daya ikan air tawar. Drum untuk budi daya ikan berupa drum plastik atau drum besi, baik drum bekas maupun baru. Drum bekas biasanya dijual di tempat-tempat penampungan barang bekas, selain mudah dan praktis dalam penggunaannya, juga relatif lebih ekonomis. Namun perlu diwaspadai karena drum tersebut umumnya merupakan bekas penampungan bahan kimia. Untuk itu, sebelum digunakan harus dibersihkan. Drum juga harus dipastikan bebas dari residu bahan kimia karena membahayakan ikan budi daya.
Jika harus memilih, sebaiknya memilih drum plastik. Pasalnya, drum plastik rela­tif aman dari risiko berkarat. Jika menggunakan drum yang terbuat besi, harus diperhatikan pelapisan bahan antikarat. Besi akan cepat berkarat jika terkena air. Selain berpengaruh pada usia pakai, karat juga dapat membahayakan ikan budi daya.
Drum yang digunakan sebaiknya yang berukuran 200 liter dan tingginya saat direbahkan adalah 60 cm. Penggunaan drum juga harus mempertimbangkan ke-nyamanan dan keamanan. Bentuk drum yang melingkar, selain membuat tinggi air tidak sama, juga membuat drum mudah terbalik/terguling. Karena itu, pada saat peletakan drum harus dipastikan telah diganjal dengan baik. Lebih baik lagi jika tempat peletakan drum dibuat dengan cara dipondasi/dicor atau dibuat dari kerangka kayu atau besi. Cara lainnya adalah memotong drum menjadi dua bagian sehingga dasar drum tetap datar dan tidak mudah terguling. Namun, cara ini membuat permukaan lebih sempit.
Drum yang akan digunakan sebaiknya tidak berkarat dan tidak bocor. Untuk me-mastikan drum bocor atau tidak, masukkan air ke dalam drum lalu diamkan beberapa saat. Bila tidak ada air yang keluar berarti drum tidak bocor. Cara menggunakan drum dalam budi daya ikan ada tiga, yaitu (a) drum dipotong menjadi dua dalam ukuran yang sama; (b) drum dibelah menjadi dua dalam ukuran yang sama; dan (c) bagian tengah drum dibuka agar belut yang di­masukkan lebih banyak.
Drum yang dibelah atau dibuka bagian tengah dan diletakkan secara mendatar (horizontal) akan memperbanyak belut yang dimasukkan dan gerak belut lebih leluasa. Untuk memperluas wadah budi daya, dua buah drum besi dapat disam-bung dengan cara membuka bagian penutup di ujungnya, kemudian sambung dengan satu drum besi lain yang sudah dibuka bagian ujungnya. Penyambungan dilakukan dengan cara dilas.
Penggunaan drum dengan cara dipotong menjadi dua bagian yang sama lebih praktis dan aman, terutama dari risiko terguling. Namun, cara ini mempersempit permukaan drum dan gerak belut tidak leluasa. Jika menggunakan drum besi, sebaiknya dicat terlebih dahulu untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya karat selama proses budi daya. Setelah cat benar-benar kering, drum harus di-netralisir untuk menghilangkan bau dan zat racun yang dapat membahayakan belut. Caranya, masukkan air ke dalam drum kira-kira sebanyak К bagian, lalu masukkan potongan batang pisang secukupnya. Diamkan selama 5 hari. Selama proses perendaman batang pisang, air tidak perlu diganti. Gosok bagian dinding drum dengan pelepah pisang untuk menghilangkan bau cat.
Atur jarak antardrum agar memudahkan perawatan dan terlihat rapi. Untuk drum dibelah menjadi dua bagian atau dibuka bagian tengah agar tidak ter-guling/terbalik, maka diberi penahan pada sisi kiri dan kanan. Buatkan saluran pembuangan di bagian bawah salah satu sisi drum. Saluran pembuangan bisa menuju ke wadah penampungan untuk digunakan lagi setelah difilterisasi. Bisa juga langsung menuju ke saluran pembuangan. Buatkan atap pada lokasi budi daya sehingga kondisi drum lebih teduh. Atap bisa dibuat secara sederhana dengan menggunakan daun kelapa atau daun nipah.

TOREN
Toren adalah salah satu wadah yang dibuat untuk menampung zat cair. Toren juga biasa disebut drum atau tong, karena bentuknya seperti tabung. Dibanding drum, ukuran toren lebih besar, sehingga jika digunakan untuk budi daya ikan, daya tampungnya lebih besar. Ukuran toren biasanya 500 -1.000 liter.
Ada dua macam bentuk toren, yaitu bentuk tabung dan bentuk kubus. Toren bentuk tabung biasanya digunakan untuk penampungan air minum dan di tem-patkan di menara, kemudian air dialirkan dengan menggunakan pipa ke dalam rumah. Toren banyak digunakan sebagai wadah penampungan air di kantor, rumah, dan lain-lain. Toren bentuk kubus dibuat untuk keperluan penampungan bahan-bahan cair, misalnya cat, gula cair, dan lem. Toren jenis ini biasanya di­lengkapi dengan rangka besi sebagai penahan.
Untuk budi daya ikan air tawar, kedua jenis toren tersebut dapat dipakai. Na­mun toren bentuk kubus lebih baik digunakan sebagai wadah dibanding toren; bentuk tabung. Toren bentuk kubus mempunyai kerangka besi sehingga dapat berdiri dengan kokoh. Di samping itu, bentuknya menyerupai kubus dapat mem-perluas permukaan wadah sehingga ikan budi daya lebih leluasa dan nyaman.
Salah satu ujung toren dipotong kemudian dicuci sampai bersih. Buat saluran pembuangan di salah satu sisi bagian bawah. Toren diatur berjejer secara rapi dan kemudian dilengkapi dengan peneduh sederhana dari daun kelapa atau daun nipah.

FIBERGLASS
Bak fiberglass sudah umum digunakan untuk akuakultur, terutama untuk ke­giatan pembenihan. Selain tersedia dalam berbagai ukuran dan tahan lama, bak fiberglass juga memungkinkan digunakan pada lahan sempit dan terbatas, serta mudah dipindah-pindahkan.

TAMBAK
Tambak atau empang adalah wadah yang dibangun di pesisir pantai atau di pinggir sungai, sehingga tambak mendapat pasokan air laut dan air tawar. Kare­na itu, air pada tambak umumnya bersalinitas payau (5 - 20 ppt). Tambak yang jauh dari pantai mempunyai salinitas sangat rendah (< 5 ppt), bahkan airnya tawar, terutama tambak yang mendapat pasokan air tawar dari sungai.
Sebelumnya tambak hanya dikenal sebagai wadah pemeliharaan ikan bandeng dan udang laut (Penaeus monodon, P. merguiensis, P. indicus, Metapenaeus sp.). Namun sejak awal tahun 2000-an, tambak juga menjadi wadah budi daya selain dua komoditas tersebut, baik ikan maupun nonikan. Tambak juga mulai diguna­kan untuk budi daya komoditas air tawar.
Komoditas air tawar yang dapat dipelihara di tambak antara lain ikan nila, mu­jair, sidat, patin, dan udang galah (Macrobrachium rosenbergii). Nila dan mujair yang merupakan ikan euryhaline (toleran pada kisaran salinitas luas) yang dapat dipelihara di tambak air payau maupun di laut. Sidat juga dapat dipelihara di tambak yang salinitasnya < 7 ppt, sedangkan patin dapat dipelihara di tambak pada salinitas < 5 ppt.
Berdasarkan ujicoba, nila dapat hidup dan tumbuh dengan baik di tambak bekas udang atau tambak "parkir" (tambak mangkrak). Tambak-tambak bekas udang tersebut tidak digunakan setelah gagal dalam budi daya udang.
Tambak untuk budi daya nila dan mujair berupa tambak bekas atau tambak "parkir" maupun tambak yang baru dibangun. Tambak untuk pembesaran ikan dapat berbentuk segi empat, empat persegi panjang, atau tidak beraturan se­suai dengan kondisi lokasi. Pematang tambak dapat berupa pematang tanah maupun pematang beton. Jika pematang berupa pematang tanah, pembuatan­nya harus kokoh untuk menahan tekanan air yang besar. Tinggi pematang lebih tinggi dari pasang air tertinggi. Saluran tambak berupa saluran beton, saluran tanah maupun pipa PVC. Jika saluran berupa saluran tanah, kemiringan saluran perlu dipertimbangkan agar ketika pemasukan atau pengeluaran air tidak terjadi erosi pada dinding dan dasar saluran. Tambak yang baik mempunyai saluran pemasukan dan pengeluaran air yang berbeda. Pintu tambak berupa pintu be­ton, pintu kayu, atau pipa PVC. Pintu dirancang sedemikian rupa sehingga mam­pu memasukkan dan mengeluarkan air sesuai dengan kebutuhan. Kecuali, pe­masukan air ke tambak menggunakan pompa mesin dan pipa PVC, ukuran pintu air tidak menjadi masalah. Ukuran petak tambak yang dikelola secara intensif tidak lebih dari 1 ha agar pengelolaannya lebih mudah. Ukuran ideal adalah 0,5 ha.

Firman Pra Setia Nugraha, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan kabupaten Banyuwangi




Senin, 11 Februari 2019

Penanggulangan Penyakit dalam Budidaya


Dalam akuakultur atau budi daya perairan, penyakit dan hama dapat mengaki-batkan kerugian ekonomis. Karena penyakit dan hama dapat menyebabkan ke-kerdilan, periode pemeliharaan lebih lama, tingginya konversi pakan, tingkat padat tebar yang rendah, dan kematian sehingga dapat mengakibatkan penu­runan atau hilangnya produksi.
Penyakit pada ikan didefinisikan sebagai segala sesuatu yang dapat menimbul-kan gangguan suatu fungsi atau struktur dari alat-alat tubuh atau sebagian alat tubuh, baik secara langsung maupun tidak langsung. Prinsipnya penyakit yang menyerang ikan budi daya tidak datang begitu saja, melainkan melalui proses hubungan antara tiga faktor, yaitu kondisi lingkungan (kualitas air), kondisi inang (ikan budi daya), dan adanya jasad patogen (jasad penyakit). Dengan demikian, timbulnya serangan penyakit itu merupakan hasil interaksi yang tidak serasi antara lingkungan, ikan budi daya, dan jasad/organisme penyaki. Interaksi yang tidak serasi ini menyebabkan stres pada ikan budi daya sehingga mekanisme pertahanan diri yang dimilikinya menjadi lemah dan akhir-nya mudah diserang penyakit.
Di lingkungan alam, ikan dapat diserang berbagai macam penyakit. Demikian juga dalam pembudidayaannya, bahkan penyakit dapat menyerang ikan dalam jumlah besar dan dapat menyebabkan kematian sehingga kerugian yang ditim-bulkannya pun sangat besar. Kerugian yang ditimbulkannya bergantung pada beberapa faktor, yaitu (a) umur ikan yang sakit (ikan yang terserang penyakit); (b) persentase populasi yang terserang penyakit; (c) parahnya penyakit; dan (d) adanya infeksi sekunder.
Penyakit-penyakit banyak yang bersifat infektif, tetapi faktor-faktor non infeksi juga sangat berperan. Menurut Zonneveld et al. (1991), peran ini berhubungan dengan dua faktor, yaitu (1) lingkungan tempat hidup, di mana ikan terkung-kung oleh air beserta semua jenis mikroorganisme dan polusi; (2) sifat ikan yang poik/Totermis (suhu tubuh ikan dipengaruhi oleh suhu airdi sekitarnya—MGHKK). Sifat ini mengakibatkan rendahnya tingkat metabolisme setelah air me-ngalami penurunan suhu. Kegiatan sistem kekebalan ikan juga bergantung pada suhu.
Penyakit dapat ditimbulkan oleh satu atau berbagai macam organisme penyakit. Sebagai contoh, penyakit disebabkan oleh satu faktor, tetapi kemudian dibare-ngi oleh faktor lain. Bila terjadi semacam ini, berarti penyakit kedua (sekunder) memanfaatkan kondisi yang disebabkan oleh penyakit pertama (penyakit pri­mer).
Ikan yang Terkena Penyakit


A. PENCEGAHAN PENYAKIT
"Mencegah lebih baik daripada mengobati." Karena selain pengobatan tidak bisa menjamin penyembuhan 100%, pengobatan juga membutuhkan biaya dan tenaga yang cukup besar. Ada beberapa teknik pencegahan yang dapat dilaku­kan, yaitu secara mekanik, kimia, maupun biologis. Tindakan pencegahan secara mekanik adalah upaya mencegah serangan penyakit dengan bantuan peralatan mekanik. Pencegahan secara kimiawi adalah usaha pencegahan terhadap se­rangan penyakit dengan memanfaatkan berbagai senyawa kimia. Sedangkan pencegahan secara biologis adalah usaha pencegahan terhadap serangan pe­nyakit dengan menggunakan prinsip-prinsip biologis atau organisme lain. Agar memberikan hasil yang memuaskan, pemilihan teknik pencegahan ini harus hama dan penyakit ikan antara lain:

1. Pembersihan Wadah Budi Daya
Pembersihan (dekontaminasi) wadah budi daya dimaksudkan untuk membersih-kan organisme parasit, virus, jamur, dan bakteri serta hama yang terdapat di dalamnya. Dekontaminasi dilakukan dengan pengeringan/penjemuran wadah atau dengan menggunakan bahan kimia telah umum diterapkan. Bahan kimia yang sering digunakan adalah kalium permanganat (PK) dan metilin biru (Methylene blue).

2. Pembersihan Peralatan
Dalam melakukan aktivitas budi daya ikan, pembudidaya menggunakan berba­gai peralatan sebagai alat bantu seperti seser, baskom, ember, kantong plastik, dan lain-lain. Peralatan ini sering digunakan oleh organisme lain sebagai media untuk menimbulkan penyakit. Untuk mencegah timbulnya serangan penyakit, semua peralatan yang akan atau telah digunakan segera dibersihkan agar kotor­an dan organisme penyebab penyakit yang menempel pada alat tersebut dapat dihilangkan.
Peralatan tersebut dapat dibersihkan dengan mencelupkannya dalam larutan PK dosis rendah, sekitar 3-20 ppm selama 30 menit. Pembersihan alat juga dapat dilakukan dengan menggunakan chlorin.

3. Pembersihan Ikan Budi Daya
Pembersihan ikan budi daya bisa dilakukan dengan sistem karantina. Caranya yaitu dengan memelihara ikan-ikan tersebut dalam wadah khusus selama waktu tertentu. Dengan cara ini dapat diketahui apakah ikan budi daya tersebut "ber­sih" atau mengandung jenis organisme tertentu yang mampu menyebabkan penyakit, sehingga dapat segera diambil langkah pengamanannya.
Cara lainnya adalah dengan membersihkan benih sebelum ditebar. Benih yang telah diperoleh terlebih dahulu disucihamakan sebelum ditebar ke dalam wadah budi daya dengan menggunakan larutan kalium permanganat (PK) sebanyak 4 mg/liter air selama 30 menit atau bisa juga direndam dalam air garam dapur se­banyak 10 g/liter air selama 15 - 30 menit.

4. Meningkatkan Kekebalan Ikan Budi Daya
Teknik lain untuk mencegah serangan penyakit pada ikan budi daya adalah me­ningkatkan kekebalan (imunitas). Salah satu caranya adalah melakukan imunisa-si, yaitu penyuntikan antibodi ke dalam tubuh untuk mendapatkan kekebalan (imun) terhadap infeksi penyakit. Peningkatan kekebalan tubuh biota budi daya juga dapat dilakukan dengan vaksinasi, yaitu menyuntikkan vaksin tertentu ke tubuh biota. Selain penyuntikan, pemberian vaksin juga dapat dilakukan dengan teknik perendaman, pencelupan, penyemprotan, atau melalui pakan. Vaksin adalah suatu antigen yang digunakan untuk memvaksinasi ikan budi daya ter­buat dari organisme penyakit yang telah dilemahkan dengan menggunakan senyawa kimia tertentu. Jenis vaksin yang dapat digunakan misalnya Septicae­mia haemorrhagica yang memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit bercak merah yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophila. Caranya, benih ikan direndam dalam larutan vaksin selama 30 menit dengan dosis 1 ml vaksin di­campur dalam 10 liter air untuk 150 ekor benih. Vaksinasi ini mampu memberi­kan kekebalan ikan selama 4 bulan dengan masa inkubasi 15 hari.
Atau penggunaan vitamin С dosis 250 - 500 mg/kg berat tubuh selama bebe­rapa hari. Bisa juga menggunakan probiotik sebagai imunostimulan misalnya lipo polisakarida 10 mg/l untuk mempertahankan stamina ikan. Pada musim ke­marau, petani ikan di Jawa Tengah dan Yogyakarta menggunakan probiotik dan molases seminggu sekali. Probiotik dan molases diencerkan, kemudian disem-protkan ke pakan sebelum diberikan kepada ikan budi daya.

B. PENYAKIT NON-INFEKSI
Penyakit non-infeksi (penyakit non-parasiter) adalah penyakit yang disebabkan oleh bukan organisme infektif, sehingga tidak menyebabkan infeksi dan tidak menular. Penyakit non-infeksi atau non-parasiter berdasarkan sumber dan pe-nyebabnya antara lain:

1. Kualitas Air
Ikan budi daya yang dipelihara pada perairan yang kualitas airnya tidak meme­nuhi syarat pertumbuhan dan perkembangannya akan sangat membahayakan ikan tersebut. Oleh karena itu, selain harus menggunakan air yang kualitasnya sesuai dengan kebutuhan ikan budi daya, juga harus menjaga (menciptakan) kondisi kualitas air yang optimal bagi ikan budi daya di wadah budi daya.
Ikan budi daya akan stres bila terjadi perubahan kualitas air atau keracunan gas-gas beracun di dalam air seperti H2S atau amonia. Perubahan kualitas air ini membahayakan ikan secara langsung dan membuka peluang berkembangnya organisme penyakit.

2. Pakan
Dalam budi daya ikan sistem intensif, ikan budi daya memperoleh pakan yang diberikan oleh pembudidaya. Ikan harus mendapatkan makanan yang cukup, bergizi, dan tepat waktu. Pakan yang diberikan juga harus bebas dari bahan beracun. Ikan yang kekurangan pakan atau pakan yang diberikan tidak bergizi akan menghambat pertumbuhannya, juga mudah diserang penyakit.

3. Keracunan
Keracunan ikan budi daya dapat disebabkan oleh pakan yang dimakannya me­ngandung bahan beracun, kedaluwarsa, atau meningkatnya gas-gas beracun seperti H2S dan amonia. Atau air kolam tercemar oleh limbah beracun.
Karena itu, air yang digunakan untuk budi daya ikan bukanlah air yang tercemar. Ikan budi daya yang diberikan makanan yang tidak mengandung bahan beracun atau kedaluwarsa serta kondisi perairan selalu dijaga agar tetap optimal. Ikan yang menunjukkan tanda-tanda keracunan segera dievakuasi dan dialirkan air segar.

4. Turunan
Turunan yang dimaksud di sini adalah kondisi fisik ikan budi daya yang tidak sempurna yang dibawa sejak lahir (sejak menetas), misalnya kepala tidak sem­purna, tulang belakang yang membengkok, mata juling, dan sebagainya. Ikan budi daya yang tidak sempurna, selain pertumbuhannya terlambat, juga me­ngalami kesulitan dalam memperoleh makanan di tengah-tengah ikan budi daya yang begitu banyak. Oleh karena itu, ikan-ikan yang demikian sebaiknya tidak dipilih sebagai benih karena akan mengalami kekerdilan

5. Penanganan
Penanganan (handling) ikan budi daya yang tidak baik dan tidak hati-hati akan memperburuk kondisi ikan, misalnya stres, memar, atau luka. Penyakit yang bu-kan disebabkan oleh organisme penyakit ini telah membuka peluang terjadinya serangan organisme infektif, misalnya bakteri, jamur, atau parasit. Karenanya penanganan ikan budi daya harus hati-hati serta ikan yang memar dan luka se­gera dipisahkan dengan ikan yang sehat. Setelah diobati baru digabung kembali.

6. Iklim
Faktor iklim variasinya sedikit seperti penurunan suhu karena hujan yang terus-menerus atau meningkatnya suhu karena kemarau yang panjang. Pengaruh pada kesehatan ikan budi daya belum banyak diketahui karena sedikitnya studi. Tetapi dari pengalaman diketahui suhu yang mengalami perubahan besar men­capai 5 °C membahayakan ikan budi daya, misalnya stres atau mudah terserang penyakit. Air yang mengalami perubahan suhu dalam kisaran luas, baik mening­kat atau menurun, dapat diatasi dengan penggunaan aerasi dan penambahan air segar.

С PENYAKIT INFEKSI
Penyakit infeksi atau penyakit parasiter disebabkan oleh organisme infektif (penyebab infeksi) seperti jamur, virus, bakteri, dan parasit. Karena bersifat in­fektif, penyakit ini menular dalam waktu cepat bila kondisi perairan memungkin­kan. Penyakit infeksi yang dikemukakan berikut ini adalah penyakit infeksi yang umum menyerang ikan air tawar, baik ikan konsumsi maupun ikan hias.

1. Parasit
Parasit telah umum dikenal sebagai penyakit yang menginfeksi ikan air tawar. Beberapa penyakit parasit yang telah umum menginfeksi ikan-ikan budi daya di air tawar antara lain:

a. Penyakit bintik putih
Penyakit bintik putih atau white spot disebabkan oleh jenis protozoa ichthyo-phthirius multifiliis. Oleh karena itu, penyakit yang ditimbulkan disebut ichthyo-phthiriasis. Penyakit ini telah umum menginfeksi ikan air tawar. Ikan yang terserang penyakit ini menjadi malas berenang dan cenderung mengapung di permukaan air. Terlihat adanya bintik-bintik putih, terutama di bagian sirip, tutup insang, permukaan tubuh, dan ekor.
Penanggulangan penyakit ini antara lain dengan cara ikan diberok dalam air me­ngalir, kurangi padat penebaran, dan pemberian pakan yang cukup. Parasit yang menempel pada tubuh ikan dapat dirontokkan dengan menaikkan suhu air di atas 28 °C. Pengobatan dapat dilakukan dengan perendaman dalam larutan yang mengandung formalin 25 cc/m3 ditambah malachite green oxalat 15 gram/m3 selama 24 jam. Atau NaC110 - 15 g/l selama 20 menit. Bisa juga meng­gunakan formalin 25 ppm diulang 3 kali selama beberapa hari atau pencelupan dengan dosis 200 ppm selama 15 menit untuk 14 hari, dan setelah pengobatan ikan dikembalikan ke dalam air yang segar. Bisa juga menggunakan malachite green 0,5 ppm selama 6-24 jam, atau larutkan 2 - 4 cc larutan baku (kon­sentrasi 1 persen) methylene blue ke dalam 4 liter air bersih dan rendam ikan yang sakit selama 24 jam. Obat lain yang juga terbukti cukup efektif untuk mem-berantas /. multifiliis adalah larutan kina (1 g/20 liter air). Caranya adalah meren-dam ikan yang sakit selama beberapa hari dalam larutan tersebut.

b. Penyakit Gatal
Penyakit gatal atau motal disebabkan oleh parasit Trichodina sp. sehingga pe-nyakitnya sering disebut trichodiniasis. Penyakit ini sudah dikenal umum meng­infeksi ikan air tawar. Ikan yang terserang penyakit ini menunjukkan gejala-ge-jala: terdapat bintik-bintik putih terutama pada kepala dan punggung, nafsu makan ikan hilang, ikan sangat lemah, produksi lendir bertambah sehingga ikan tampak mengilat, pada tubuh bagian luar sering dijumpai pendarahan, warna tubuh ikan kusam, sering terlihat ikan menggosok-gosokkan tubuhnya pada dasar atau dinding kolam serta benda-benda keras lain di sekitarnya, ikan me­nunjukkan tanda-tanda "flashing" dan kerusakan pada kulit sering disertai infek­si sekunder.
Penanggungan parasit ini berupa padat penebaran tidak terlalu tinggi, air yang masuk ke wadah budi daya harus melalui penyaringan dan menjaga kebersihan wadah budi daya. Sementara ikan yang terinfeksi diobati dengan merendam ikan dalam larutan formalin 40 ppm selama 24 jam, 150 - 250 ppm selama 15 menit atau 15 ppm selama lebih dari 24 jam.

c. Lerneasis
Penyakit lerneasis disebabkan oleh parasit Lernea sp. Jenis lernea yang banyak ditemukan menyerang ikan air tawar adalah Lernea cyprinacea, yaitu sejenis udang renik yang berbentuk bulat panjang seperti cacing. Pada bagian kepa­lanya terdapat organ yang menyerupai jangkar, sehingga organisme ini dikenal dengan sebutan cacing jangkar (anchor worm). Dengan perantaraan organ ini, cacing jangkar menempelkan dirinya ke tubuh ikan.
Ikan yang terserang parasit ini mengalami luka pada tubuhnya dan terlihat de­ngan jelas cacing jangkar yang menempel dengan kuatnya (menyerupai panah yang menusuk) di bagian badan, sirip, insang, dan mata. Urat daging ikan men­jadi hyperaemic dan bengkak, sisik terkelupas dan nekrosis pada bagian terse­but, terjadi penurunan berat tubuh ikan, monocyt dan polymorphonucleus ber-tambah banyak, perkembangan gonad ikan dewasa terhambat, terdapat borok (ulcer) dan ikan terlihat mengalami kesulitan bernapas. Sering terjadi infeksi sekunder oleh jamur dan lumut pada luka tempat melekatnya parasit tersebut.
Penanggulangan cacing jangkar dilakukan dengan melakukan pengeringan wa­dah budi daya, menyaring air sebelum dialirkan ke wadah budi daya atau meng­gunakan bahan kimia untuk membasminya. Bagi benih ikan yang terinfeksi da­lam stadium awal dapat diobati dengan larutan formalin 25 cc/m3 selama 15 menit. Atau perendaman dengan dylox sebanyak 20 ppm selama 15 menit, dapat juga dipakai dengan cara menambahkannya pada makanan sebesar 0,25%. Juga dapat dilakukan penyemprotan dengan dipterex (dylox, chloroplas, fos-chlor, neguvon, dan masoten), yaitu secara langsung disemprotkan pada per­mukaan air dengan konsentrasi 0,25 - 0,50 ppm dan 1,00 ppm bila suhu menca­pai 29 °C. Penyemprotan dilakukan berulang kali setelah 9 hari (25 °C), 7 hari (30 °C) dan 5 hari (35 °C). Penyemprotan juga dilakukan dengan menggunakan larutan dipterex 95 SP atau agrothio 50 EC, dan sumithion 50 EC 10 ppm.

d. Myxosporeasis
Penyakit myxosporeasis disebabkan oleh beberapa jenis parasit seperti Myxo-bolus spp, Myxosoma spp, The/ohane/lus spp, dan Henneguya sp. Gejala ikan yang terserang penyakit ini berupa timbulnya bintik kemerah-merahan yang sebenar-nya bintik-bintik itu adalah ribuan spora. Bintik-bintik menyebabkan insang ikan selalu terbuka. Pada insang ikan terdapat benjolan seperti tumor sehingga ter­jadi gangguan pada sirkulasi pernapasan, nekrosis serta penurunan fungsi organ pernapasan.
Hingga kini belum ditemukan obat yang efektif untuk penanggulangan penyakit ini. Oleh karena itu, pencegahan dengan menjaga kondisi ikan dan perawatan serta persiapan wadah budi daya yang baik adalah cara untuk menghindarkan ikan dari serangan parasit ini.

e. Dactylogiriasis
Penyakit dactylogiriasis disebabkan oleh cacing Dactylogyrus sp. Cacing ini mem­punyai alat yang berfungsi sebagai pengait dan pengisap darah. Parasit ini lebih suka menyerang insang ikan. Ikan yang diserang parasit ini biasanya menjadi kurus dan kulitnya tidak kelihatan bening lagi. Kulit juga terlihat pucat, terlihat bintik-bintik merah di bagian tubuh tertentu, produksi lendir tidak normal dan pada sebagian atau seluruh tubuh ikan berwarna lebih gelap, penurunan chro-matophor, sisik dan kulit terkelupas, proses respirasi dan osmoregulasi tergang-gu (ikan kelihatan megap-megap seperti kekurangan oksigen), sel darah putih berlebihan, ikan terlihat menggosok-gosokkan tubuhnya pada dasar atau din­ding kolam serta benda-benda keras di sekelilingnya.
Ikan yang diserang parasit ini diobati dengan perendaman dalam larutan garam dapur (NaCI) 12,5 - 13 g/m3 selama 24 - 36 jam atau NaCI 2% selama 30 menit. Atau larutan formalin 40 ppm selama 24 jam atau 250 ppm selama 15 menit. Methylene blue 3 g/m3 selama 24 jam atau KMn04 0,01 ppm selama 30 menit.
Perendaman juga dapat dilakukan pada larutan ammonium 1 : 2000 selama 5 -15 menit. Cara membuat larutan ammonium 1: 2000 adalah dengan mencampur-kan 10 bagian ammonium ke dalam 90 bagian air bersih. Selanjutnya, 5 cm kubik larutan ini dicampurkan ke dalam 1 liter air sehingga berbentuk larutan 1 : 2000. Ikan juga dapat direndam dalam PK 4 - 5 mg/liter, larutan bromex (dimetil 1,2- dibromo-2,2-dichloro-ethilposphat) 0,1-0,2 ppm atau perendaman dalam larutan neguvon 2 - 3,5% selama 15 detik atau 1% selama 2-3 menit.

f. Gyrodactyiiasis
Penyakit gyrodactyiiasis disebabkan oleh parasit Gyrodactylus sp. Parasit cacing ini hampir sama dengan cacing Dactylogyrus sp. Ikan yang diserang cacing ini menampakkan gejala-gejala seperti diserang penyakit dactylogiriasis. Pengobat­an ikan yang diserang penyakit gyrodactyiiasis sama seperti pengobatan ikan yang diserang dactylogyriasis.

g. Penyakit Kutu
Penyakit kutu ikan disebabkan oleh parasit Argulus sp., sehingga penyakitnya disebut argulosis. Sebagai kutu, Argulus menggigit ikan dengan rahang, ke­mudian melepaskan sengat pada luka gigitan agar tidak terjadi pembekuan da­rah. Efek dari penempelan, gigitan, dan racun yang diinjeksikan menyebabkan ikan mengalami iritasi, kehilangan keseimbangan, melompat-lompat keluar air, ikan sangat kurus bahkan dapat mati karena disengat dan dihisap darahnya, produksi mukus berlebihan, sisik terkuak dan kadang-kadang lepas, muncul titik-titik darah pada kulit di sekitar bekas gigitan parasit, rongga tubuh berisi cairan kekuningan, kulit ikan pecah dan borok, serta ikan menggosok-gosokkan badan­nya pada benda-benda keras di sekitarnya.
Penanggulangan penyakit argulosis dapat dilakukan secara mekanis atau de­ngan sikat yang halus. Tetapi cara ini dapat dilakukan bila ikan yang diserang jumlahnya sedikit. Bila ikan yang diserang dalam jumlah yang besar, perlu di­lakukan perendaman dengan larutan KMn04 dosis 10 ppm selama 30 menit, 100 ppm selama 5-10 menit, 500 ppm selama kurang lebih 5 menit atau 1000,00 ppm selama 30-45 detik. Atau digunakan NaCI 1,0 - 1,5% selama 15 menit, 20 g/liter selama 15 menit. Bahan lain yang dapat digunakan adalah formalin 250 ppm selama 1 jam, asam asetat glasial 1000 ppm selama 5 menit, ammonium khlorida dengan dosis 500 ppm selama kurang lebih 24 jam, 1000 ppm selama 4 jam, atau 2000 ppm selama 30 menit. Demikian pula dengan perendaman ikan sakit dalam larutan bromex 0,1 - 0,2 ppm, lindane 0,01 - 0,02 ppm, dan neguvon 1 g/liter air.

h. Ergasilosis
Penyakit ergasilosis disebabkan oleh parasit Ergasilus sp. Parasit ini menimbul-kan anemia, menghambat pertumbuhan ikan, dan ikan kesulitan bernapas. Kare­na bersifat ektoparasit yang menempel pada insang, anus, kulit, dan sirip ikan, parasit ini menghisap darah ikan serta merusak sel-sel epithel.
Hingga kini belum ditemukan obat yang сосок untuk memberantas parasit ini. Tetapi dianjurkan menggunakan kapur tohor (CaO) dengan dosis 250 ppm. Cara­nya, ikan yang diserang direndam 30 - 60 menit dan diulang 3 kali dalam selang waktu 3 hari. Atau menggunakan NaCI 3 g/100 cc air untuk merendam ikan 3-5 menit. Perlakuan ini membawa hasil bila serangan parasit baru pada tahap awal.

i. CHnostonumiosis
Penyakit clinostonumiosis disebabkan oleh parasit Clynostonum sp. Parasit ini tergolong cacing yang menyerang kepala, mata, operculum, dan bagian sebelah dalam otak serta perbatasan kedua operkulum ikan. Tempat yang diserang pa­rasit ini berbentuk gondok dan mengakibatkan ikan terhambat pertumbuhan­nya.
Hingga kini belum ditemukan obat yang сосок untuk penanggulangan parasit ini. Tetapi, petani ikan di Purwokerto, Jawa Tengah, mengobati ikan dengan cara mengoperasi bagian tubuh ikan yang diserang penyakit dengan mengguna­kan peniti dan mengeluarkan cacingnya.

j. Penyakit cacing darah
Penyakit cacing darah disebabkan oleh cacing darah jenis Sanguinicola inermis. Cacing ini menyebabkan pembekuan darah dan tersumbatnya pembuluh kapiler insang yang diakibatkan oleh telur-telur cacing. Jika populasi cacing yang me­nyerang ikan dalam jumlah yang besar, ikan mengalami pendarahan, nekrosis, dan akhirnya mati.
Hingga kini belum ditemukan obat yang сосок untuk menanggulangi penyakit ini. Cara yang efektif untuk mencegah serangan cacing ini adalah dengan mem­berantas siput (keong) di kolam yang merupakan inang perantaranya.

2. Bakteri
Selain parasit, bakteri adalah penyakit yang telah umum menginfeksi ikan air tawar. Bakteri yang diketahui menginfeksi ikan-ikan air tawar antara lain:

a. Penyakit bercak merah
Penyakit bercak merah atau septicemia haemorrhagica disebabkan oleh bakteri Aeromonas sp. Bakteri ini menginfeksi berbagai jenis ikan air tawar. Ikan yang diserang bercak merah menunjukkan gejala-gejala: warna tubuh ikan menjadi gelap, kemampuan berenang ikan menurun, mata ikan rusak dan agak me­nonjol, sisik terkelupas, seluruh siripnya rusak, insang berwarna merah keputih-an, ikan terlihat megap-megap di permukaan air, insang ikan rusak sehingga kesulitan bernapas, kulit menjadi kasat dan timbui pendarahan yang selanjutnya diikuti dengan luka-luka borok, perut ikan kembung, dan apabila dilakukan pem-bedahan, maka akan kelihatan pendarahan pada hati, ginjal, dan limpa.
Penanggulangan bakteri ini dapat dilakukan dengan perendaman, penyuntikan, dan dicampur dengan pakan. Perendaman dilakukan dalam larutan kalium per­manganat (PK) 10 - 20 ppm selama 30 - 60 menit atau 3-5 ppm selama 12 - 24 jam, larutan nitrofuran 5-10 ppm selama 12 - 24 jam, oxytetracycline 5 ppm selama 24 jam, Imequil 5 ppm selama 24 jam, Baytril 5 - 8 m3 untuk waktu yang tidak terbatas. Perendaman dengan vaksin hydrovet (1 ml vaksin + 10 ml air) untuk 100 ekor benih ikan selama 30 menit. Air bekas rendaman dibuang ke tempat kering dan tidak boleh mencemari perairan umum.
Sedangkan penanggulangan dengan cara penyuntikan dilakukan dengan oxy­tetracycline 20 - 40 mg/kg ikan, kanamycine 20 - 40 mg/kg ikan, atau strepto-mycine 20 - 60 mg/kg ikan. Penyuntikan dilakukan secara intra peritoneal atau intra muscular. Sementara dengan perlakuan pakan dilakukan pemberian pakan pelet yang dicampur oxytetracycline 50 mg/kg ikan yang diberikan setiap hari selama 7-10 hari berturut-turut. Ikan yang diobati dengan antibiotik baru dapat dikonsumsi dua minggu setelah pengobatan.

b. Columnaris
Penyakit columnaris disebabkan oleh bakteri Flexibacter columnaris. Ikan yang diserang bakteri ini menampakkan gejala-gejala: ikan kehilangan nafsu makan, bintik-bintik putih terlihat pada bagian yang terinfeksi, kemudian menjadi merah
karena pendarahan. Infeksi ini terlihat pada kulit kepala, kulit badan bagian belakang, insang, sirip, dan dapat pula pada bagian badan lainnya. Insang dan sirip menjadi rontok.
Ikan yang terserang bakteri ini direndam dalam oxytetracycline 10 ppm selama 24 jam atau baytril 8-10 cc/m3 air selama 24 jam. Bisa juga direndam dalam malachite green 1 : 50.000 selama 10 - 30 detik, CuS04 500 ppm selama 1 - 2 menit atau chloromycetine 5-10 ppm selama 1 - 2 menit. Dapat juga melalui perlakuan pakan dengan memakai oxytetracycline 75 mg/kg ikan/hari.

c. Edwardsilosis
Penyakit edwardsilosis disebabkan oleh bakteri Edwardsiella tarda. Ikan yang diserang bakteri ini menunjukkan gejala-gejala: terjadi luka-luka kecil pada kulit kemudian meluas ke daerah daging, sehingga dengan cepat terjadi pendarahan. Luka-luka tersebut kemudian berkembang menjadi bisul dan mengeluarkan nanah (abses). Luka-luka tersebut sering pula dijumpai pada hati ikan.
Ikan yang sakit diobati dengan menyuntikkan oxytetracycline HCI dengan kon­sentrasi 25 - 30 mg/kg ikan. Atau melalui pemberian pakan dengan mengguna­kan sulfamerazine sebanyak 100 - 200 mg/kg ikan/hari sampai hari ketiga, atau oxytetracycline HCI dengan dosis 50 mg/kg ikan/hari yang diberikan selama 7 hari.

d. Vibriosis
Penyakit vibriosis disebabkan oleh bakteri Vibrio sp. Ikan terinfeksi bakteri ini menunjukkan gejala-gejala: kehilangan nafsu makan (anorexia), kulit menjadi gelap, insang pucat, sering terjadi pembengkakan pada kulit yang lama-ke-lamaan pecah menjadi luka (bisul) dan mengeluarkan cairan berwarna kuning kemerah-merahan, terjadi pendarahan pada dinding perut dan permukaan jan­tung, dan jika dilakukan pembedahan akan terlihat pembengkakan dan kerusak­an pada jaringan hati, ginjal, dan limpa.
Ikan yang sakit diobati dengan menyuntikkan oxytetracycline HCI 25 - 30 mg/kg ikan yang diulang tiap 3 hari sekali. Ulangan dilakukan sebanyak 3 kali. Dapat juga melalui perlakuan pakan dengan oxytetracycline HCI sebanyak 50 mg/kg ikan/hari yang diberikan selama 7-10 hari berturut-turut.

e. Tuberculosis
Penyakit tuberculosis disebabkan oleh bakteri dari famili Mycobacteriaceae. Dua spesies yang dikenal adalah Mycobacterium marinum dan M. fortoitum. Ikan yang diserang menunjukkan gejala-gejala: tubuh ikan menjadi berwarna gelap, perut ikan membengkak, jika perut ikan dibedah maka akan kelihatan bintil-bin-til (tubercle) terutama pada hati, ginjal, dan limpa. Adanya bintil-bintil tersebut menyebabkan penyakit ini disebut tuberculosis.
Hingga kini belum ditemukan obat yang сосок untuk penanggulangan penyakit ini. Oleh karena itu menjaga kualitas air dianggap cara terbaik untuk mencegah serangan bakteri ini. Sedangkan ikan yang mati terinfeksi bakteri ini segera di-musnahkan. Beberapa obat yang pernah dicobakan dan berhasil, terutama ikan-ikan yang baru diserang adalah penyuntikan dengan kanamycine 0,02 mg/g ikan ke bagian perutnya. Cara lain adalah penyuntikan dengan streptomycine 0,01 -0,02 mg/g ikan atau merendam ikan ke dalam larutan streptomycine 10 mg/liter air.

f. Penyakit Ginjal
Penyakit ginjal disebabkan oleh bakteri Corynebacterium sp. atau biasa disebut bacterial kidney disease. Gejala-gejala pada ikan yang diserang dikenali dari: warna tubuh ikan menjadi gelap, kadang-kadang matanya menonjol keluar (exo-phthamus), kadang-kadang ditemukan benjolan di samping tubuh ikan, pada pangkal sirip dada sering dijumpai bercak-bercak darah, dan jika ikan dibedah akan dijumpai luka pada bagian ginjal dan hati.
Penanggulangan ikan yang diserang bakteri ini hanya dapat dilakukan pada periode awal penyerangan, yaitu dengan menggunakan sulphonamid dengan dosis 100 - 200 mg/kg ikan/hari yang diberikan sampai hari keempat berturut-tu-rut. Ikan yang tidak bisa disembuhkan segera dimusnahkan dengan cara dikubur atau dibakar.

g. Penyakit Cacar
Penyakit cacar pada ikan disebabkan oleh bakteri Pseudomonas sp dan Micro­coccus sp. Gejala-gejalanya berupa ikan terlihat lemah, nafsu makan hilang, mata menonjol dan sering kali lepas, kulit kelihatan melepuh yang selanjutnya menja­di borok.
Ikan yang diserang cacar diobati dengan merendamnya ke dalam oxytetracy­cline 10 ppm selama 24 jam atau kalium permanganat (PK) 10 - 20 ppm selama 30 - 60 menit.

h. Furunculosis
Penyakit furunculosis disebabkan oleh bakteri Aeromonas salmonicida. Ikan yang diserang bakteri ini menampakkan gejala-gejala: kehilangan nafsu makan, kulit melepuh, insang terlihat pucat, mata menonjol, dan terjadi pendarahan pada kulit dan insang. Bila dibedah, pada organ-organ dalam seperti usus, ginjal, hati, dan limpa terlihat mengalami pendarahan.
Ikan yang sakit diobati dengan memberikan pakan yang telah dicampur 12 g sulfamerazine + 6 g sulfaquanidine untuk setiap 45,4 kg pakan/hari. Furazoli­done juga dapat digunakan untuk mengobati ikan yang terserang penyakit furunculosis dengan cara mencampurkannya ke dalam pakan sebanyak 25-75 mg/kg berat ikan setiap harinya. Bisa juga digunakan oxytetracycline dan Chlora-mycine (Chloramphenicol) dengan mencampurkannya ke dalam pakan seba­nyak 1 g/kg pakan dan diberikan selama 10 hari berturut-turut.

i. Penyakit bisul
Penyakit bisul disebabkan oleh bakteri Pseudomonas fluoresceins. Ikan yang di­serang bakteri ini menunjukkan gejala-gejala: mempunyai bisul terutama pada sirip, kulit, rongga perut dan organ-organ dalam. Bakteri ini menyebabkan ane­mia dan kematian massal. Penyakit bisul yang disebabkan oleh bakteri ini juga biasa disebut hemmorhagica septicemia.
Hingga saat ini belum ditemukan obat yang сосок untuk memberantas penyakit ini. Tetapi pemberian oxytetracycline 20 - 40 mg/kg ikan atau streptomycine 20 - 60 mg/kg ikan melalui penyuntikan serta oxytetracycline 50 mg/kg ikan yang dicampur dengan pakan dan diberikan setiap hari selama 10 hari berturut-turut dianggap membantu, terutama pada periode awal serangan bakteri.

j. Streptococcosis
Penyakit streptococcosis disebabkan oleh bakteri Streptococcus inae. Ikan yang diserang bakteri ini menunjukkan gejala-gejala: bisul pada sirip, kulit, rongga perut dan organ dalam. Sebuah penelitian tahun 2002 menunjukkan bahwa ikan nila sangat rentan terhadap infeksi panyekit bakterial antara lain akibat infeksi bakteri Streptococcus inae. Prevalensi tertinggi dari streptococciasis terdapat di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Sedangkan penyebaran dari penyakit ini telah me­liputi: Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, dan Yogyakarta. Adapun level infeksi-nya bervariasi tergantung pada tingkatan budi dayanya. Penyakit ini di luar negeri telah banyak mengakibatkan kerugian berupa kematian baik pada ikan nila benih maupun ikan nila ukuran konsumsi. Kematian yang diakibatkan oleh penyakit tersebut dapat mencapai lebih dari 75% (Parera et al, 1994).
Pada manajemen budi daya yang kurang baik, penyakit streptococcosis dapat mengakibatkan kematian massal hingga mencapai 100%, terutama pada saat adanya perubahan cuaca secara drastis, dari panas ke hujan maupun sebaliknya. Waktu yang dibutuhkan oleh bakteri Streptococcus sp. untuk menginfeksi ikan nila rata-rata 7-14 hari. Bakteri Streptococcus sp. masuk ke dalam tubuh ikan melalui infeksi sistem pencernaan. Gejala ditandai dengan penampakan perut ikan yang terlihat agak kembung. Selanjutnya, bakteri akan masuk ke dalam darah dan menyebar ke seluruh tubuh. Cara pengobatan ikan yang diserang penyakit streptococcosis sama dengan pengobatan penyakit bisul.

3. Jamur
Beberapa penyakit pada ikan air tawar disebabkan oleh infeksi jamur di antara­nya:

a. Saprolegniasis
Penyakit saprolegniasis disebabkan oleh jamur Saprolegnia sp. Jamur ini mengin­feksi ikan dan telur ikan air tawar. Sifat penyerangan merupakan infeksi sekun-der. Ikan dan telur ikan yang terinfeksi jamur ini diketahui dengan mudah, sebab terlihat bagian organ atau telur yang terinfeksi ditumbuhi sekumpulan mycelium jamur menyerupai gumpalan benang-benang halus (hype) yang tampak seperti kapas. Cumpalan benang ini biasanya terlihat di bagian kepala, tutup insang atau di sekitar sirip. Sedangkan telur ikan yang diserang terlihat seperti kapur.
Ikan yang terinfeksi diobati dengan perendaman dalam larutan malachite green oxalat 1 ppm selama 1 jam atau 0,15 - 0,70 ppm selama 24 jam, formalin 100 -200 ppm selama 1 - 3 jam, NaCI 20 ppm selama 1 jam atau 5% selama 1 - 2 detik atau 1 - 1,5% selama 20 - 30 menit.
Sedangkan telur yang telah diserang jamur biasanya tidak menetas dengan baik. Oleh karenanya perlu dilakukan pencegahan dengan merendam telur ikan yang hendak ditetaskan ke dalam ovadine atau betadine dosis 100 - 200 ppm selama 10 - 15 menit. Bisa juga menggunakan formalin atau cooper sulfate dosis 150 -250 ppm selama 15 menit.

b. Brachiomycosis
Penyakit brachiomycosis disebabkan oleh jamur Brachyomyces sanguinis yang banyak dijumpai pada saluran darah ikan dan sering menyebabkan nekrosis di sekitar jaringan. Ikan yang diserang jamur ini diobati dengan malachite green 0,1 mg/liter atau 0,3 mg/liter selama 12 jam melalui perendaman. Bisa juga direndam dalam larutan formalin 15 - 25 ml/liter.

c. Achlyasis
Penyakit achlyasis disebabkan oleh jamur Achlya sp. Jamur ini menyerang organ-organ eksternal seperti kulit, sirip, dan insang ikan. Seperti jamur Saproiegnia sp, serangan Achlya sp. pun diketahui dengan mudah sebab organ ikan yang dise­rang ditumbuhi sekumpulan benang halus yang tampak seperti kapas.
Ikan yang terinfeksi diobati dengan merendamnya dalam larutan formalin 100 -200 ppm selama 1 - 3 jam, formalin 100 ppm + malachite green 2,5 ppm selama 1 jam. Malachite green 1 : 200.000 selama 30 menit, pottasium permanganat 1 : 100.000 selama 90 menit atau pottasium bichromate 1:25.000 selama 1 minggu.

4. Virus
Virus adalah organisme penyebab dan sumber penyakit yang sangat kecil, kare­na memiliki ukuran tubuh antara 200 - 300 nanometer, sehingga hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop elektron. Virus mempunyai struktur tu­buh yang sederhana dan tidak mempunyai organ pencernaan sendiri, sehingga kebutuhan pakan untuk memperbanyak dirinya tergantung sepenuhnya pada organ pencernaan dari tubuh inangnya.
Usaha untuk memperbanyak dirinya dimulai dengan masuknya virus ke dalam sel inang. Pada saat itu asam nukleat dari virus (RNA dan DNA) akan mengen-dalikan organ pencernaan dari sel inang untuk segera memproduksi asam nu­kleat sesuai dengan kebutuhan virus tersebut. Selain itu, virus juga akan "me-merintahkan" pembentukan protein baru yang mempunyai sifat khas untuk membunuh organisme lain atau digunakan sebagai bungkus pelindung bagi asam nukleat virus. Protein pembungkus asam nukleat virus ini biasanya disebut capsid, yang bervariasi bentuknya dari satu virus ke virus lainnya.
Virus diklasifikasikan ke dalam kelompok-kelompok menurut morfologi, jenis asam nukleat, pilihan tunggal atau dobel, berat molekul, kepekaan terhadap bahan kimia. Virus patogen pada ikan kebanyakan merupakan rhabdo virus (virus bentuk peluru).
Cejala umum penyakit akibat serangan virus adalah pendarahan (hemoragik) pada berbagai organ (termasuk kulit), perut menggembung, eksoptalmia, dan kulit pucat gelap pada bagian-bagian tertentu (gangguan sistem saraf vege-tatif). Aktivitas serangan virus bersifat akut (acute), menghasilkan kerusakan jaringan cukup luas dan dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat. Infeksi virus sering diikuti dengan infeksi sekunder oleh bakteri, sehingga tubuh ikan menjadi sangat lemah dan sulit diidentifikasi penyakit yang menyebabkan-nya.
Infeksi virus bisa tersebar secara horizontal dan atau vertikal. Infeksi horizontal, yaitu dari satu ikan ke ikan yang Iain dalam satu generasi. Sedangkan infeksi ver­tikal, yaitu dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui telur-telur atau sperma yang terinfeksi.
Jenis viral/virus yang telah teridentifikasi menyerang ikan budi daya adalah Jr/'do-virus/DNA. Penyakit yang ditimbulkannya disebut lymphocystis. Virus ini umum­nya menyerang ikan yang hidup di perairan payau dan laut. Akan tetapi pada beberapa jenis ikan air tawar, baik ikan hias maupun ikan konsumsi, virus ini juga dijumpai, meskipun aktivitas serangannya relatif tidak berbahaya dibandingkan pada kondisi lingkungan asin (laut dan payau).
Virus ini menyebabkan hypertrophy (penebalan) dari sel-sel jaringan ikan, me-nimbulkan tonjolan pada daerah sirip atau kulit (nodul) yang dapat terjadi seca­ra satu-satu atau mengelompok.
Hingga kini belum ditemukan obat yang efektif untuk mengatasi virus lympho-cystis, sehingga ikan yang terserang penyakit ini sebaiknya dimusnahkan agar tidak menular ke ikan lainnya. Tindakan pencegahan dengan menjaga kondisi kualitas air dan kesehatan ikan dianggap tindakan yang lebih baik dan bijak.

Firman Pra Setia Nugraha, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Kabupaten Banyuwangi

Rabu, 06 Februari 2019

Pembenihan Ikan Lele Dumbo


Menurut Puspowardoyo dan Siregar (2002), bahwa langkah awal pemijahan lele dumbo adalah persiapan kolam. Persiapan kolam ini meliputi pembangunan bak penampungan air, bak penampungan induk, bak pemijahan, bak penetasan telur, bak perawatan larva dan kolam pendederan.
Lele Dumbo


a. Bak penampungan induk
Bentuk bak penampungan induk adalah segiempat sama sisi  (bujur sangkar). Sebaiknya, bak penampung induk dibuat secara permanen. Volume efektif bak penampungan induk maksimal 16 m2, yaitu panjang dan lebar bak masing-masing 4 m dan tinggi bak 1 m. Bagian tengah bak penampungan induk dipasang sekat dari jeruji besi atau anyaman bilah bambu dan kawat kasa yang kuat sebagai pemisah antara induk jantan dan induk betina selama dalam penampungan. Kapasitas maksimal bak penampungan induk adalah 200 kg atau setara dengan 300 ekor induk, yakni sekitar 225 ekor induk betina dan 75 ekor induk jantan.
Sekat jeruji besi atau bahan lain dibangun tegak dan melintang dari sisi-sisi yang berseberangan. Pemasangan sekat ini dimaksudkan agar induk jantan dan induk betina dapat ditampung semi-terpisah. Artinya, induk jantan dan induk betina terpisah secara fisik, tetapi masih tercampur dalam media air yang sama. Hal ini sangat membantu dalam meningkatkan rangsangan seksual antara induk jantan dan induk betina sehingga dapat mempercepat  proses kematangan kelamin (gonad) dan mengeliminir pemijahan liar yang tidak menguntungan. Manfaat lain dari penampungan induk semi terpisah adalah memudahkan seleksi (pemilihan) jenis kelamin induk menjelang dipijahkan. Dengan penampungan semi-terpisah ini, seleksi induk jantan dan betina dapat dilakukan secara bergiliran. Induk yang terpilih langsung dipijahkan sedangkan yang tidak terpilih segera dikembalikan lagi.

b. Kolam pemijahan      
Pemijahan lele dumbo bisa dilakukan di kolam tembok yang disediakan secara khusus untuk pemijahan. Meskipun demikian, cara yang lebih murah adalah memanfaatkan plastik terpal yang biasa digunakan untuk tenda. Plastik terpal tersebut dibentuk menyerupai bak, sehingga dapat menampung air. Caranya dengan menyusun sejumlah bata atau batako di sekeliling pinggiran plastik menyerupai tanggul. Ukuran kolam pemijahan, baik tembok maupun plastik terpal tidak terlalu luas. Untuk satu pasang induk lele dumbo yang akan dipijahkan, luasnya sekitar 2 m2  (Khairuman, 2002).
Menurut SNI : 01- 6484.3-2000, menyatakan bahwa untuk wadah kolam pemijahan harus mempunyai kriteria:
1. Konstruksi : tanah atau tembok dengan pematang yang kuat
2. Seluas : disesuaikan dengan padat penebaran
3. Kedalaman air : 0,75  m – 1,5 m
4. Wadah dapat dikeringkan

c. Kolam penetasan telur
Kolam penetasan yang biasa digunakan para petani adalah kolam yang terbuat dari plastik terpal seperti halnya kolam pemijahan. Ukuran kolam penetasan harus lebih besar dari pada ukuran bak pemijahan, karena bak penetasan tersebut sekaligus digunakan sebagai tempat perawatan atau pemeliharaan larva lele dumbo yang baru menetas. Satu ekor induk lele dumbo betina yang beratnya 500 gram, memerlukan luas kolam penetasan sekitar 2 x 3 x 0,25 m (Khairuman dan Amri, 2002).

d. Kolam pendederan
Menurut Khairuman dan Amri (2002), bahwa untuk memudahkan pengelolaan, pendederan sebaiknya dilakukan di bak tembok. Disamping itu, bak pendederan sebaiknya tidak terkena sinar matahari langsung. Caranya dengan memberi pelindung tetap, seperti atap genting dan atap plastik, atau pelindung sementara seperti atap dari daun kelapa. Pelindung ini selain berfungsi menjaga agar sinar matahari tidak langsung menerpa kolam pendederan, juga agar air hujan tidak jatuh langsung ke dalam bak. Dikhawatirkan, jika tidak terlindung, benih lele akan mengalami kematian total akibat fluktuasi atau perubahan suhu secara mendadak. Ukuran bak pendederan antara 5-10 m2 dilengkapi pintu pemasukan dan pengeluaran air. Ketinggian air di kolam pendederan cukup 20-30 cm. Karena lele menyukai tempat yang gelap, sebaiknya disediakan tempat berlindung seperti tanaman air berupa enceng gondok, potongan – potongan bambu, atau potongan paralon. 

Pemijahan
A. Persiapan Kolam Pemijahan     
            Sebelum kolam digunakan untuk tempat pemijahan, terlebih dahulu kolam harus dikeringkan selama 2 – 3 hari agar induk yang dipijahkan dapat terangsang. Bila telah dikeringkan, kolam dapat diisi dengan air. Namun, sebelumnya kolam diberi hapa dari kain terilin dengan panjang dan lebarnya sesuai ukuran kolam. Bila tidak ingin diberi hapa, sepertiga bagian dasar bak harus diberi alat penempel telur berupa ijuk. Agar lele tidak dapat meloncat ke luar, bagian atas kolam diberi penutup dari kawat kasa (Prihartono et al., 1999).

B. Seleksi Induk
Induk Lele betina yang matang gonad mempunyai ciri seperti sebagai berikut perutnya membesar dan lembek, bila perutnya ditekan kearah anus maka akan keluar telur dan pada induk jantan yang telah matang gonad bila perutnya ditekan ke arah anus maka akan keluar cairan putih kental. Induk-induk untuk pemijahan hendaknya dipilih yang benar-benar telah matang telur  dan siap dipijahkan (Suyanto, 1986).
Menurut Khairuman dan Amri (2002), bahwa tidak semua induk lele yang dipelihara dapat dipijahkan. Hal ini disebabkan karena tidak semua induk sudah matang kelamin dan siap dipijahkan. Karenanya, sebelum pemijahan induk betina maupun jantan dipilih yang sesuai dengan persyaratan. Untuk dapat membedakan antara induk jantan dan betina seorang petani terlebih dahulu harus mengetahui perbedaan antara induk betina dan jantan.
Simanjuntak (1985), menyatakan bahwa induk jantan dan betina dapat dibedakan dengan mudah terutama ikan lele yang sudah matang atau dewasa. Berdasarkan penelitian-penelitian yang dilakukan dan pengalaman dari para ahli yang sudah lama berkecimpung dalam beternak ikan lele, tanda-tanda jenis kelamin ikan lele tersebut adalah sebagai berikut :

Ikan Lele Betina
- Alat kelaminnya berbentuk bulat telur, terletak di dekat lubang dubur
- Pada waktu musim pemijahan,bentuk perutnya menjadi lebih besar dari biasanya karena berisi telur dan jika diraba akan terasa kenyal atau lembek.
- Bila perut dipijat (diurut) dari atas ke bawah, akan keluar telur berwarna kuning kecoklat-coklatan.
- Ukuran kepala lebih besar
- Kulitnya lebih halus dan licin
- Warna badannya kuning keputih-putihan atau lebih cerah dari biasanya
-Pada sirip punggungnya tidak dijumpai titik-titik berwarna hitam

Ikan Lele Jantan
- Alat kelaminnya  meruncing, terletak di dekat lubang dubur
- Pada waktu musim pemijahan, jika perut diurut (dipijat) akan keluar cairan sperma (mani) berwarna keputih-putihan seperti lendir
- Ukuran kepalanya lebih kecil
- Warna badannya lebih gelap
- Pada sirip punggungnya terdapat bintik-bintik berwarna hitam
- Perbedaan alat kelamin ikan lele betina dan jantan menurut Hernowo dan Rachmatun (2004) yaitu pada ikan lele jantan alat kelamin tampak jelas, meruncing. Sedangkan pada ikan lele betina tonjolan alat kelamin membulat dan kemerahan. 

Menurut Soetomo (2000), bahwa induk yang dipilih sebaiknya yang telah biasa dipelihara di kolam. Perawatan ditujukan agar induk selalu dalam keadaan sehat, mempunyai vitalitas tinggi dan menghasilkan keturunan yang sehat. Induk yang telah berumur 1 tahun lebih dengan berat minimal 150 gram dapat dipijahkan sampai ia berumur 5 tahun dengan interval 2 bulan sekali.
            Induk yang berkualitas perlu dilakukan untuk kegiatan pembesaran. Beberapa kriteria yang perlu diperhatikan dalam penyediaan induk adalah :
Jenis induk menentukan sifat yang kita harapkan dari keturunan.
Umur jangan terlalu muda atau terlalu tua saat induk mulai dipijahkan. Umur yang cukup pada ikan lele untuk mulai dipijahkan adalah 1 tahun.
Berat mencirikan pertumbuhan dari induk yang digunakan. Berat minimal intuk ikan lele saat mulai dipijahkan adalah 700 gram. Selain itu berat juga berhubungan dengan jumlah hormon yang digunakan pada pemijahan dengan penggunaan perangsangan serta penanganannya (Jauhari dan Maskur, 2006).
Menurut SNI : 01-6484.1-2000, bahwa persyaratan induk lele adalah :

Kriteria Kualitatif
Asal : hasil pembesaran benih sebar berasal dari induk berkelas
Warna : bagian atas kepala berwarna hijau kehitaman, bagian punggung atas sampai pangkal ekor berwarna hijau kecoklatan dengan loreng berwarna coklat kehitaman, mulai kepala bagian bawah sampai ke pangkal ekor berwarna putih keruh.
Bentuk tubuh : bagian kepala pipih horizontal, bagian badan bulat memanjang dan bagian ekor pipih vertikal.
Kesehatan : anggota atau organ tubuh lengkap, tubuh tidak cacat dan tidak ada kelainan bentuk, alat kelamin tidak cacat (rusak), tubuh tidak ditempeli jasad patogen, insang bersih, tubuh tidak bengkak/memar dan tidak berlumut, tutup insang normal dan tubuh berlendir.
Gerakan : lamban dan jinak

Kriteria Kuantitatif
Umur induk jantan 8 – 12 bulan, betina 12 – 15 bulan.
Panjang standar jantan 40 – 45 cm, betina 38 – 40 cm.
Bobot badan pertama matang gonad jantan 500 – 750 g/ekor, betina  400 – 500 g/ekor.
Fekunditas 50.000 – 100.000 butir/kg bobot tubuh.
Diameter telur 1,4 – 1,5 mm.
Cara menentukan kematangan gonad adalah sebagai berikut:
Cara menentukan kematangan gonad ikan jantan dilakukan dengan melihat urogenitalnya. Ikan jantan yang telah matang gonad ditandai dengan urogenitalnya yang memerah dan meruncing serta panjang sudah melampaui pangkal sirip ekor.
Cara menentukan kematangan gonad ikan betina adalah dengan meraba perut yang membesar dan terasa lunak serta bila diurut ke arah anus, ikan betina yang telah matang gonad akan mengeluarkan telur yang berwarna hijau kekuningan.

C. Pengelolaan Induk
Pemeliharaan dan perawatan calon induk dan induk–induk lele harus diusahakan agar induk selalu dalam keadaan sehat, tidak mudah terserang penyakit, vitalitasnya tinggi, supaya dapat menghasilkan keturunan yang sehat. Untuk tujuan tersebut caranya ialah :
Mengatur air kolam agar sering diganti, walaupun air pemasukan tidak perlu terlalu deras. Debit air 5 – 6 liter per menit sudah mencukupi untuk menyegarkan lingkungan hidup ikan lele.
Makanan yang bermutu baik dan dalam jumlah yang cukup. Makanan bagi lele berupa makanan alami dan makanan tambahan            (Rachmatun, 1986).
Menurut Hernowo dan Suyanto (1999), bahwa induk lele memerlukan pakan berkadar protein tinggi untuk pembentukan telurnya maka pakan alami saja diperkirakan tidak cukup dan harus diberi pakan tambahan yang kaya protein hewani. Pakan tersebut dapat berupa pellet buatan pabrik yang khusus untuk induk. Pakan ini mengandung kadar protein 40% dilengkapi dengan asam lemak esensial (asal dari minyak ikan) dan vitamin-vitamin E, D, B kompleks dan C. Karena harganya yang cukup mahal maka pemberiannya cukup sebagai pelengkap saja, yaitu seminggu sebanyak 5% dari berat seluruh ikan yang dipelihara. Sementara dalam kesehariannya, induk diberi pakan tambahan berupa cacahan siput air (bekicot), ataupun sisa-sisa hewan ternak yang dipotong, misalnya bagian usus ayam potong  yang biasanya dibuang saja. Bahkan bangkai ayam pun dapat diberikan kepada lele.

D. Teknik Pemijahan
1. Pemijahan Buatan
Menurut Khairuman dan Amri (2002), bahwa untuk merangsang induk lele dumbo agar memijah sesuai dengan yang diharapkan, sebelumnya induk harus disuntik dengan menggunakan zat perangsang berupa kelenjar hipofisa atau HCG (human chorionic gonadotropin). Kelenjar hipofisa dapat diambil dari donor lele dumbo atau menggunakan kelenjar hipofisa dari ikan mas yang telah matang kelamin dan telah berumur minimum 12 bulan. Jika menggunakan HCG, di pasaran HCG dapat dibeli dengan merek Ovaprim. Namun, jika menggunakan Ovaprim, dosisnya sebanyak 0,5 cc/kg induk yang akan dipijahkan. Penyuntikan dengan menggunakan kelenjar  hipofisa cukup satu dosis. Artinya, ikan donor yang akan diambil kelenjar hipofisanya, beratnya sama dengan induk lele dumbo yang akan disuntik.
Kegunaan teknik hipofisa yang disusul dengan fertilisasi buatan itu ialah:
Memungkinkan diperoleh hibrida dari dua species yang tidak mau kawin dengan sendirinya secara alami.
Memungkinkan dikawinkannya dua induk dari satu species yang dipelihara pada lingkungan hidup yang berbeda dari alam aslinya.
Untuk mengadakan pengaturan dalam memproduksi benih ikan, agar memungkinkan diproduksi benih di luar musim pemijahan yang lazim/alamiah.
Untuk dapat diproduksi benih ikan sebanyak yang dikehendaki oleh orang, yaitu telur–telur dapat dibuahi, ditetaskan, selanjutnya diipuk dan dibesarkan secara terkontrol (terkendali) bebas dari gangguan hama, penyakit, supaya kelangsungan hidupnya tinggi (Rachmatun, 1986).
Menurut Prihartono et al., (1999), menyatakan bahwa pemijahan buatan atau kawin suntik pada lele dumbo ini dibagi dalam beberapa tahap, yaitu pemeliharaan induk, pemberokan, penyuntikan, penetasan telur dan pemeliharaan larva.
Penyuntikan dilakukan secara intramaskular (melalui otot) pada bagian punggung. Setelah disuntik, induk biasanya akan memijah. Cara memijah dari induk ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu induce spawning dan streeping. Induce spawning merupakan pemijahan yang dilakukan dalam bak berukuran       3 m x 4 m dengan tinggi 1 m. Di dalam bak tersebut dipasangkan hapa halus. Selanjutnya induk jantan dan betina yang sudah disuntik dimasukkan ke dalam hapa pada sore hari. Dengan cara ini induk akan memijah dengan sendirinya.
Penyuntikan harus dilakukan pada pagi atau sore hari. Penyuntikan dilakukan pada bagian punggung atau bagian daging lele dumbo yang paling tebal dengan kemiringan lebih kurang 45o sedalam 2 cm  (Khairuman dan Amri, 2002).
Sementara pemijahan dengan induce spawning yaitu induk jantan dan induk betina pada pemijahan ini harus dipisahkan.  Setelah 10 – 12 jam dari penyuntikan, induk betina siap di  streeping (pengurutan perut ke arah lubang kelamin). Namun sebelumnya, larutan sperma harus sudah disiapkan dahulu. Telur yang keluar selanjutnya ditampung dalam wadah plastik dan pada saat yang bersamaan dimasukkan larutan sperma sambil diaduk–aduk hingga marata. Pengadukan dilakukan hati–hati dengan bulu ayam. Bila telur banyak mengandung darah, bilas campuran telur dan sperma tersebut dengan pemberian sodium klorid. Darah yang sudah terpisah dibuang. Pembilasan ini dapat dilakukan berulang–ulang sampai bersih sehingga telur siap ditetaskan (Prihartono et al., 1999).

2. Pemijahan Alami
Menurut Simanjuntak (1985), bahwa maksud dari pemijahan secara tradisional ini adalah mengawinkan induk lele di dalam kolam–kolam khusus untuk pemijahan. Usaha ini dilakukan guna memperoleh benih ikan lele secara lebih teratur sehingga proses pembudidayaannya pun dapat berlangsung terus.
Setelah kolam pemijahan siap, induk lele dumbo yang sudah matang gonad dapat dimasukkan ke dalamnya. Waktu terbaik memasukkan induk adalah siang atau malam hari. Induk jantan dan betina yang digunakan harus berukuran sama. Dalam satu bak dapat diisi sebanyak satu pasang induk (Prihartono et al., 1999).
Menurut Khairuman dan Amri (2002), bahwa induk lele dumbo jantan dan betina yang telah matang kelamin dilepaskan ke dalam kolam pemijahan sekitar pukul 10.00. Agar induk lele dumbo yang sedang dipijahkan tidak meloncat keluar, bagian atas kolam pemijahan ditutup papan, triplek, atau bilah bambu. Induk akan memiijah pada malam hari menjelang pagi hari, biasanya pukul 24.00 – 04.00. Selama proses pemijahan berlangsung, secara bersamaan induk betina akan mengeluarkan telur dan induk jantan mengeluarkan spermanya. Pembuahan akan terjadi di luar tubuh induk atau di dalam air. Salah satu kelemahan dari cara yang dilakukan petani ini adalah antara lain ketidakpastian induk untuk memijah. Kadang–kadang dalam satu malam, induk langsung memijah, kadang–kadang pada malam kedua, bahkan sering kali ditemui induk tidak mau memijah sama sekali walaupun telah dibiarkan di tempat pemijahan selama beberapa malam. Ketidakpastian pemijahan tersebut disebabkan tingkat kematangan induk dan persiapan tempat pemijahan atau manipulasi lingkungan yang kurang sesuai dengan yang diharapkan oleh induk lele dumbo.
Setelah menetas, anak lele atau larva dipelihara dalam bak tersebut selama  3 – 4 hari, pada tubuh larva akan terjadi perubahan warna dari coklat sampai berwarna hitam. Pada kondisi tersebut biasanya anak lele sudah kuat untuk dipelihara dalam kolam pendederan. Pemijahan lele dumbo secara alami ini dapat dilakukan lebih dari sepasang induk. Namun, ukuran baknya harus lebih luas. Luas bak tersebut harus sebanding dengan banyaknya induk yang akan dilepas (Prihartono et al., 1999).

Penetasan Telur
Setelah induk lele dumbo selesai memijah, keesokan harinya telur–telur yang telah menempel di kakaban diangkat secara hati–hati dan dipindahkan ke kolam penetasan. Kakaban diletakkan dengan posisi rata dan semua permukaan kakaban harus terendam di dalam air. Hal ini dimaksudkan agar seluruh telur lele dumbo juga ikut terendam. Jika ada telur tidak terendam air, dapat dipastikan telur tersebut tidak akan menetas. Selama proses penetasan, harus dilakukan pengontrolan guna mencegah binatang liar, seperti kodok atau ular, masuk ke dalam kolam penetasan, yang dapat memangsa telur atau benih lele dumbo yang sedang ditetaskan tersebut (Khairuman dan Amri, 2002).
Lele dumbo juga sama dengan lele lokal. Masa hidupnya mengalami          5 fase, yaitu embrionik (fase 1), larva/benih (fase 2), juvenil (fase 3), dewasa    (fase 4), dan masa tua (fase 5). Pada fase 1 dan 2, yaitu fase embrionik sampai membentuk larva/benih adalah saat telur berbentuk bulat dengan diameter antara 1,3 – 1,6 mm dan menetas setelah 1 – 2 hari. Kuning telur berwarna terang dan segera menetas menjadi embrio transparan. Untuk telur berdiameter 1,2 mm akan menetas setelah ± 30 jam, sedangkan yang berukuran 1,6 mm lebih akan menetas dalam waktu ± 18 jam. Dari mulai pembuahan sampai menetas membutuhkan suhu air antara 25 – 30o C. Pada fase 1 dan 2 dibutuhkan lingkungan terkontrol. Karena pada fase ini merupakan tahap paling kritis. Segala hal yang berkenaan dengan lingkungan harus diperhatikan agar perkembangan benih berlangsung sebagaimana mestinya (Indrawan, 1996).
Lele dumbo yang telah menetas dapat dilihat di permukaan dasar kolam penetasan. Benih–benih akan berkumpul di dasar bak dengan warna hijau, hitam, atau kecoklat–coklatan. Setelah telur–telur lele dumbo menetas, kakaban harus diangkat secara hati–hati. Jika pengangkatan kakaban terlambat dilakukan, telur–telur yang tidak menetas akan membusuk dan menyebabkan kualitas air menurun, yang pada akhirnya membahayakan keselamatan benih yang baru menetas (Khairuman dan Amri, 2002).

Pemeliharaan Larva
Indrawan (1996), menyatakan bahwa setelah menetas benih akan menyerap makanan yang tersimpan dalam kantong kuning telur yang dibawanya sejak lahir. Lalu setelah umur 2 hari benih akan membentuk dengan ditandai keluarnya sungut – sungut kecil. Persediaan makanan pada kuning telur akan segera habis setelah ± 4 hari. Setelah itu benih membutuhkan makanan dari luar yang sesuai dengan bukaan mulut dan kekuatan pencernaannya. Makanan yang cocok adalah jenis makanan hidup karena tidak akan mengalami pembusukan.
Pakan tambahan yang paling cocok adalah pakan alami atau pakan hidup berupa plankton. Salah satunya adalah kutu air atau lebih dikenal dengan sebutan Daphnia sp. Di samping kutu air, pakan alami lain yang cocok untuk benih ikan lele dumbo adalah cacing sutera (Khairuman dan Amri, 2002).
Menurut Soetomo (2000), bahwa ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan selama pemeliharaan larva, yakni :
1. Faktor air
Faktor–faktor yang perlu diperhatikan yang berhubungan dengan air antara lain: debit air, suhu, kejernihan, oksigen, amoniak dan derajat keasaman (pH).
2. Faktor makanan
Faktor yang berhubungan dengan makanan perlu diperhatikan. Makanan bagi ikan lele yang baru menetas adalah dari persediaan makanan yang tersimpan dalam kantong kuning telur sampai berumur 5 hari.
Makanan alami Rotifera adalah makanan yang sangat kecil ukurannya, sehingga dapat dimakan oleh larva dan benih ikan lele dewasa. Yang kedua adalah makanan alami Daphnia sp. Bibit ikan lele dalam fase larva membutuhkan makanan alami yang banyak proteinnya, untuk pertumbuhannya. Daphnia sp adalah makanan alam yang tinggi nilai gizinya. Dhapnia diberikan pada burayak pada saat benih berumur 2 minggu setelah telur menetas. Diberikan sebanyak 2 kali/hari.


Firman Pra Setia Nugraha, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Kab. Banyuwangi