Sabtu, 24 Februari 2018

PERAWATAN ALAT TANGKAP IKAN


Dalam melakukan perawatan alat tangkap merupakan hal yang harus dilakukan oleh nelayan karena perawatan alat yang baik dapat memperpanjang umur alat tangkap sehingga dapat meningkatkan kinerja dan produktifitas alat tangkap ikan.

Gambar 1. Ilustrasi Perawatab Alat Tangkap Ikan

  1. Kerusakan atau penurunan kekuatan alat penangkap ikan disebabkan oleh :
  2. Pengaruh mekanis
  3. Perubahan sifat-sifat bahan karena reaksi kimia
  4. Pengerusakan oleh jasad-jasad renik
  5. Pengaruh alam

Kerusakan tidak dapat dicegah, tetapi hanya dapat menghambat yaitu memelihara dengan jalan mengawetkan agar tahan lama.

PEMELIHARAAN ALAT TANGKAP IKAN
  1. Menyimpan dalam tempat yang aman. Disimpan pada tempat yang bebas dari binatang mengerat dan bebas atau jauh dari sumber api. Perlu disimpan dalam gudang yang baik dan bersih serta jauh dari kemungkinan bahaya kebakaran.
  2. Menghindarkan dari sinar matahari terik. Bahan jaring hendaknya jangan dijemur dari sinar matahari langsung. Bila kena sinar matahari langsung akan menjadi lapuk.
  3. Alat yang baru dipakai hendaknya dicuci dengan air tawar, kemudian ditiriskan di tempat yang sejuk sampai kering. Kemudian baru diangkat dan dimasukkan dalam gudang.
  4. Tempat penyimpanan hendaknya bersih dari bekas minyak, bekas kotoran ikan dll. Hal ini untuk menghindari kerusakan secara kimia maupun jasad renik.
  5. Pemakaian alat dengan hati-hati.
  6. Terutama pada saat setting maupun hauling. Pastikan fishing ground aman dari batu karang, tonggak-tonggak dll.
  7. Bersihkan alat penangkap ikan dari sampah atau kotoran lain yang menempel, terutama gill net dan trawl.
  8. Memperbaiki kerusakan kecil sedini mungkin

Kerusakan awal kebanyakan disebabkan oleh :
  1. Pergesekan alat dengan benda lain (badan kapal dsb).
  2. Tersangkut oleh benda lain (karang, tonggak dll)
  3. Digigit atau kena sirip ikan atau gerakan ikan yang akan melepaskan diri.
  4. Sengaja disobek oleh nelayan (kerusuhan)Kerusakan tersebut biasanya disebut kerusakan mekanis. Hal ini harus segera diperbaiki. Kalau tidak akan menyebabkan kerusakan yang lebih parah sehingga akan menurunkan hasil tangkapan

CARA PENGAWETAN ALAT TANGKAP IKAN

Tujuan umum pengawetan :
  1. Untuk mempertahankan agar alat dapat tahan lama
  2. Penghematan biaya dan tenaga
  3. Memperlancar operasional

Tujuan khusus pengawetan, yaitu menjaga dan mencegah kerusakan dari kerusakan mekanis, proses kimia, jasad renik dan pengaruh alam (terutama sinar matahari).

Cara pengawetan ada 2, yaitu :
  1. Secara tidak langsung, yaitu dengan jalan pemeliharaan.
  2. Secara langsung, yaitu : a). dengan cara mencegah kontaminasi;  b). dengan cara sterilisasi; c). dengan cara kombinasi.

1. Cara mencegah kontaminasi
Dilakukan dengan cara menyamak alat penangkap ikan dengan bahan penyamak. Tujuan penyamakan, yaitu bahan dapat terlindung oleh bahan penyamak dari kontaminasi bakteri atau jasad renik lainnya. Ada 3 bahan penyamak yang biasa digunakan oleh nelayan :
a. Bahan penyamak nabati : tingi, turi dsb
b. Bahan penyamak hewani : putih telur dan darah
c. Bahan penyamak kimia : ter, coffer dan napthenase

2. Cara sterilisasi
  • Pengawetan secara ini hampir tidak pernah dilakukan oleh nelayan.
  • Tujuannya adalah untuk membunuh mikroorganisme yang melekat pada alat penangkap ikan, agar tidak merusak
  • Cara sterilisasi :
  • Menjemur alat pada panas matahari. Bahan jaring dari serat alam harus dijemur dengan sinar matahari terik, tetapi bahan dari serat sintetis tidak boleh dijemur dengan sinar matahari terik. Penjemuran pada serta alam untuk membunuh atau mencegah aktifitas miokroorganisme yang menempel pada alat jaring.
  • Perebusan. Alat direbus atau dimasukkan pada air yang mendidih, agar mikroorganisme yang menempel akan mati. Setelah direbus, lalu dijemur pada matahari sampai kering

3. Cara kombinasi. Secara tidak sadar cara ini paling banyak dilakukan oleh nelayan.


Sumber : google


Firman Pra Setia Nugraha, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Pertama
Dinas Perikanan dan Pangan Kabupaten Banyuwangi

Jumat, 23 Februari 2018

ALAT TANGKAP YANG DILARANG BERDASARKAN PERMEN KP NOMOR 2 TAHUN 2015


Berdasarkan PERMEN KP No. 2 Tahun 2015 menyatakan bahwa penggunaan alat tangkap Pukat Hela (trawls) dan Pukat Tarik (seine nets) di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia dilarang.
Penggunaan alat penangkapan ikan Pukat Hela (trawls) dan Pukat Tarik (seine nets) di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia telah mengakibatkan menurunnya sumber daya ikan dan mengancam kelestarian lingkungan sumber daya ikan, sehingga perlu dilakukan pelarangan penggunaan alat penangkapan ikan Pukat Hela (trawls) dan Pukat Tarik (seine nets).
Pukat Hela (trawls) adalah semua jenis alat penangkapan ikan berbentuk jaring berkantong, berbadan dan bersayap yang dilengkapi dengan pembuka jaring yang dioperasikan dengan cara ditarik/dihela menggunakan satu kapal yang bergerak. Pukat Hela (trawls) merupakan kelompok alat penangkapan ikan terbuat dari jaring berkantong yang dilengkapi dengan atau tanpa alat pembuka mulut jaring dan pengoperasiannya dengan cara dihela di sisi atau di belakang kapal yang sedang melaju (SNI 7277.5:2008). Alat pembuka mulut jaring dapat terbuat dari bahan besi, kayu atau lainnya. 

Gambar 1. Ilustrasi Pukat Hela (trawls)


Pengoperasian alat penangkapan ikan pukat hela (trawls) dilakukan dengan cara menghela pukat di sisi atau di belakang kapal yang sedang melaju. Pengoperasiannya dilakukan pada kolom maupun dasar perairan, umumnya untuk menangkap ikan pelagis maupun ikan demersal termasuk udang dan crustacea lainnya tergantung jenis pukat hela yang digunakan. Pukat hela dasar dioperasikan di dasar perairan, umumnya untuk menangkap ikan demersal, udang dan crustacea lainnya. Pukat hela pertengahan dioperasikan di kolom perairan, umumnya menangkap ikan pelagis.
Pukat Tarik (seine nets) adalah kelompok alat penangkapan ikan berkantong (cod-end) tanpa alat pembuka mulut jaring, pengoperasiannya dengan cara melingkari gerombolan (schooling) ikan dan menariknya ke kapal yang sedang berhenti/berlabuh jangkar atau ke darat/pantai melalui kedua bagian sayap dan tali selambar. (SNI 7277.6:2008). Pengoperasian Pukat tarik (seine net) dilakukan dengan cara melingkari gerombolan ikan pelagis atau ikan demersal dengan menggunakan kapal atau tanpa kapal. 

Gambar 2. Ilustrasi Pukat Tarik (seine net)

Pukat ditarik ke arah kapal yang sedang berhenti atau berlabuh jangkar atau ke darat/pantai melalui tali selambar di kedua bagian sayapnya. Pengoperasiannya dilakukan pada permukaan, kolom maupun dasar perairan umumnya untuk menangkap ikan pelagis maupun ikan demersal tergantung jenis pukat tarik yang digunakan. Pukat tarik pantai dioperasikan di daerah pantai untuk menangkap ikan pelagis & demersal yang hidup di daerah pantai. Dogol dan lampara dasar dioperasikan pada dasar perairan umumnya menangkap ikan demersal. Payang dioperasikan di kolom perairan umumnya menangkap ikan pelagis.

Sumber : PERMEN KP No. 2 Tahun 2015. Tentang Larangan Penggunaan Alat Penangkap Ikan Pukat Hela (Trawls) dan Pukat Tarik (Seine Nets) DI Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia.


Firman Pra Setia Nugraha, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Pertama
Dinas Perikanan dan Pangan Kabupaten Banyuwangi

Selasa, 20 Februari 2018

TEKNIK PENGOLAHAN : BAKSO IKAN


Bakso merupakan produk pangan yang terbuat dari daging atau ikan yang dihaluskan, dicampur dengan tepung, dibentuk bulat-bulat sebesar kelereng atau lebih besar dan dimasak dalam air panas hingga bakso tersebut mengapung. Masyarakat lebih mengenal bakso sebagai makanan sepinggan yang dihidangkan dengan pelengkap lain seperti mie, sayuran, pangsit, dan kuah. Makanan ini sangat populer dan digemari oleh masyarakat. Hal ini terlihat dari banyaknya penjual mie bakso, mulai dari restoran sampai ke warung-warung kecil dan gerobak dorong. 



Gambar 1. Bakso Ikan

Secara teknis, pengolahan bakso ikan sangat mudah dan dapat dilakukan oleh siapa saja. Dilihat dari peluang usahanya, pengolahan bakso tampil sebagai sosok bisnis yang menarik. Dilihat dari upaya pemenuhan gizi masyarakat, bakso dapat dijadikan sarana pendukung kecukupan gizi yang tepat mengingat produk ini mengandung protein yang cukup tinggi. Kualitas bakso ditentukan oleh bahan baku, berbagai macam tepung yang digunakandan perbandingannya di dalam adonan. Sedangkan faktor lain yang mempengaruhi kualitas bakso diantaranya adalah bahan-bahan tambahan yang digunakan serta cara memasaknya.
Melihat daging yang digunakan sebagai bahan baku mahal, maka penganekaragaman bahan dasar pembuatan bakso perlu diupayakan agar bakso tetap berkualitas dan hargapun dapat terjangkau oleh semua lapisan masyarakat. Salah satu cara untuk mengurangi ketergantungan terhadap daging adalah mencari bahan pengganti dengan memanfaatkan bahan makanan lain untuk pembuatan bakso. Dalam kesempatan ini alternatif bahan baku yang dipilih adalah ikan.

BAHAN BAKU
Ikan Segar

Gambar 2. Ilustrasi Ikan Segar


ALAT
Berikut adalah peralatan yang digunakan dalam pembuatan bakso :

Gambar 3. Peralatan Pembuatan Bakso Ikan


BAHAN TAMBAHAN

1. Tepung Tapioka
Tepung tapioka digunakan sebagai bahan tambahan dalam pembuatan bakso, tepung yang digunakan dalam pembuatan bakso berfungsi sebagai pengikat dan perekat bahan lain. Kualitas tepung yang digunakan sebagai bahan makanan sangat berpengaruh terhadap makanan yang dihasilkan. Tepung yang baik kualitasnya dapat dilihat berdasarkan ciri-ciri yaitu berwarna putih, tidak berbau apek, teksturnya halus. Agar baksonya lezat, teksturnya bagus, bermutu tinggi, jumlah tepung yang digunakan sebaiknya sekitar 10-20% dari berat daging.

Gambar 4. Contoh Tepung Tapioka


2. Putih Telur
Telur yang digunakan dalam pembuatan bakso ini adalah telur ayam dan bagian telur yang digunakan adalah putih telur yang berfungsi sebagai pengikat bahan-bahan lain dalam adonan, pemberi rasa lezat, dan memberi tekstur adonan yang rata dan kalis. Banyaknya putih telur sekitar 60% dari berat telur. Telur memiliki daya emulsi sehingga menjaga kestabilan adonan.

Gambar 5. Putih Telur


3. Air Es
Air es diperlukan didalam pembuatan bakso karena berfungsimembantu pembentukan adonan dan memperbaiki tekstur bakso.Penggunaan air es juga berfungsi untuk menambahkan airkedalam adonan sehingga adonan tidak kering selama pembentukanmaupun selama perebusan. Penambahan juga berfungsimeningkatkan rendemennya.

Gambar 6. Air Es


BUMBU :
  • Prosentase bumbu berdasarkan berat daging ikan lumat
  • Tapioka   20 %
  • Lada / merica  0,1 %
  • Bawang putih  2 %
  • Garam   3 %
  • Putih telur (untuk 1 kg daging lumat = 2 putih telur)


CARA PEMBUATAN :
  1. Fillet ikan, ambil dagingnya dengan cara dikerok menggunakan sendok;
  2. Gilinglah dengan alat penggiling daging;
  3. Timbanglah beratnya untuk mengetahui prosentase bumbu;
  4. Masukkan garam ke dalam daging ikan lumat sambil diuleni hingga rata. Tambahkan bumbu-bumbu halus merica dan bawang putih, putih telur, campur rata;
  5. Masukkan tapioka sedikit demi sedikit sambil diuleni hingga tercampur rata;
  6. Cetak adonan bentuk bulat;
  7. Masukkan bulatan, bakso tersebut ke dalam air mendidih. Rebus hingga matang (sampai bakso mengapung di permukaan air);
  8. Angkat dan dinginkan.



Firman Pra Setia Nugraha, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Pertama
Dinas Perikanan dan Pangan Kabupaten Banyuwangi

Kamis, 08 Februari 2018

PENANGANAN RAJUNGAN DI ATAS KAPAL


Penanganan rajungan diatas perahu dilakukan dalam bentuk segar dan perebusan. Perlakuan yang baik adalah menjaga dan membawa rajungan sampai ke pembeli dalam waktu yang sesingkat-singkatnya sehingga daging rajungan terjaga kualitas kekenyalannya maupun aromanya.



Gambar. Penanganan rajungan diatas kapal

1). Rajungan Segar
Penangkapan Rajungan segar dengan 1 trip > 1 hari memerlukan coolbox untuk menyimpan hasil tangkapan rajungan segar supaya tetap terjaga tingkat kesegarannya, penanganan rajungan dalam bentuk segar (raw materials) di simpan dalam wadah pada suhu sekitar 0 – 4 derajat celsius dan dipertahankan sampai masuk ke miniplant untuk proses perebusan (cooking). Tubuh rajungan diusahakan tetap utuh dan tidak terintrusi air es hingga penyusunan rajungan dalam wadah teratur tidak tergencet, dalam lingkungan dingin, tidak terbuka oleh sinar panas matahari dan bebas dari pengaruh bahan pencemar. Di atas perahu sudah disediakan box sebagai wadah penyimpanan rajungan atau wadah lain yang sama perannya untuk menjaga kesegaran rajungan dan lebih ringan atau lebih mudah dipindahkan. Adapun tahapan penangan rajungan segar adalah sebagai berikut :
·        Jenis-jenis rajungan hasil tangkap Bubu Rajungan yang dipilih adalah ukuran komersial (> 150 gram).
·       Apabila kapal bubu rajungan berukuran kecil (< 5 GT), digunakan cold-box portable ukuran kapasitas mulai dari 50 kg, 100 kg dan 200 kg yang dilengkapi dengan lubang penirisan (drain hole) untuk membuang air lelehan es. Dengan ukuran kecil ini penempatannya di kapal bubu rajungan lebih luwes, yang penting ditempat yang terlindung dari cahaya matahari langsung.
·       Bak pendinginan (chilling) dan pencuci rajungan ukuran 0,5 – 2 m3, sebagai tempat mencuci sekaligus chilling rajungan setelah dilepas dari Bubu Rajungan saat hauling, dimana bak ini akan diisi air laut yang diberi es. Sebaiknya bak ini bertutup dan berisolasi agar dapat menghemat pemakaian es. Perbandingan es curai dan air laut = 2 : 1.
·       Keranjang plastik. Terbuat dari bahan HDPE yang cukup kuat dengan kapasitas maksimum 25-30 kg rajungan, agar cukup ringan sehingga mudah ditangani secara manual. Keranjang ini didesign sedemikian rupa sehingga air lelehan es dapat mengalir dengan lancar dan dapat ditumpuk tanpa memberikan tekanan produk rajungan yang ada didalamnya. Keranjang ini memiliki dua fungsi yaitu untuk wadah rajungan hasil seleksi, tempat melakukan pencucian sekaligus wadah rajungan selama penyimpanannnya dalam palkah. Jumlahnya disesuaikan agar dapat menampung semua hasil produksi,
·        Terpal.untuk membuat pelindung dari panas matahari bagi area dek kapal Bubu Rajungan.

2). Rajungan Kukus
·         Penanganan rajungan segar merupakan salah satu bagian penting dari mata rantai perdagangan rajungan ataupun industrial rajungan. Penanganan rajungan pada dasarnya terdiri dari dua tahap, yaitu penanganan di atas kapal dan penanganan di darat. Penanganan rajungan setelah penangkapan memegang peranan penting untuk memperoleh nilai jual rajungan yang maksimal. Tahap penanganan ini menentukan nilai jual dan proses pemanfaatan selanjutnya serta mutu produk olahan rajungan yang dihasilkan.
·         Peralatan perebusan hasil tangkap rajungan berfungsi untuk melindungi rajungan dari kemunduran mutu daging rajungan setelah proses penangkapan sehingga memberikan peluang dapat dipertahankannya mutu dan kualitas rajungan dalam keadaan mati ataupun menjamin daging rajungan hasil tangkapan bubu tidak mengalami kemunduran mutu selama proses operasi penangkapan sehingga memberikan nilai jual rajungan yang lebih tinggi.
·         Peralatan perebusan banyak dipergunakan oleh nelayan rajungan, yang merupakan peralatan perebusan yang cukup sederhana baik kontruksi maupun penggunaan bahan peralatan perebusan. Dengan adanya peralatan perebusan diatas kapal nelayan yang cukup sederhana, maka penanganan rajungan diatas kapal bisa ditingkatkan dengan cara melakukan modernisasi peralatan perebusan sehingga higinitas dan sanitasinya dapat terjamin atau dapat lebih tinggi.

Cara perebusan meliputi :

1) Pensortiran
Pensortiran dilakukan terhadap rajungan hasil tangkapan yang akan direbus. Setelah proses pensortiran dilakukan proses pencucian dilakukan untuk mengurangi mikroba yang ada dipermukaan tubuh rajungan.

2) Pencucian
Rajungan yang sudah dikeluarkan dari bubu dicuci dengan air laut hingga bersih dari lumpur atau kotoran-kotoran yang menempel

3) Perebusan
Setelah proses pencucian dilakukan proses perebusan atau pengukusan pada suhu 80⁰ - 90⁰ C selama 20 – 40 menit sesuai dengan ukuran rajungan. Tujuan dari perebusan ini adalah menghentikan aktifitas bakteri pembusuk jamur maupun enzim sehingga dapat memperpanjang daya awet produk olahan dan mempermudah pengelupasan kulit rajungan. Dalam standard penanganan rajungan diatas perahu untuk produk yang sudah direbus harus diperlakukan dengan kriteria sesuai dengan bentuk produk rajungan yang disediakan dari atas perahu. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan standard dalam proses perebusan di atas perahu/kapal yaitu setiap 50 kg rajungan direbus dengan menggunakan air sebanyak 20 liter dan direbus selama  20 – 40 menit. Langkah selanjutnya setelah perebusan agar dianginkan selama 45 menit lalu disimpan di wadah yang dijaga kebersihannya dan terhindar dari kontaminasi bahan atau benda lain sekecil apapun hingga sampai disetor ke miniplant terdekat.

4) Penyimpanan
Rajungan yang telah direbus selanjutnya disimpan di dalam cool box menggunakan es curah (1 basket ½ balok), maksimal 3 basket @ 25 kg


Firman Pra Setia Nugraha, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Pertama
Dinas Perikanan dan Pangan Kabupaten Banyuwangi

Rabu, 31 Januari 2018

Mengenal Rumput Laut Eucheuma cottonii


Rumput Laut secara alami bisa kita temukan di hampir sepanjang pantai di Indonesia, terutama pantai yang berkarang. Ada banyak sekali jenis rumput laut yang bisa kita jumpai dan ini menjadi kekayaan hayati laut di negara kita.  Namun untuk budidaya rumput secara komersial tidak semua jenis rumput laut cocok untuk budidaya karena berbagai faktor.  Setidaknya ada empat jenis rumput laut yang paling banyak dibudidayakan di Indonesia yaitu Eucheuma cottonii,Eucheuma spinosum, Gracilaria spp dan Sargassum spp.   

Gambar 1. Eucheuma cottonii

Yang paling banyak dikembangkan dari empat jenis tadi adalah Euchemma cottonii karena permintaan pasar yang sangat luas untuk kebutuhan industri kosmetik dan farmasi. Kalau anda suka makan es rumput laut, maka yang anda makan adalah rumput laut jenis ini. Daerah pembudidaya rumput laut Euchema cottonii bisa dijumpai di Provinsi Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, Bali, Jawa Timur, Sulawesi Tenggara dan Nusa Tenggara Barat.

Secara taksonomi bilogi, Eucheuma cottonii dapat digolongkan dan diklasifikasikan sbb: 
Divisio             : Rhodophyta
Kelas               : Rhodophyceae
Ordo                : Gigartinales
Famili              : Solieriaceae
Genus             : Eucheuma
Spesies           : Eucheuma cottonii

Rumput laut merupakan jenis tumbuhan tingkat rendah yang belum memiliki akar, batang, dan daun sejati. Keseluruhan dari tanaman ini merupakan batang yang dikenal dengan sebutan thallus, bentuk thallus rumput laut ada bermacam-macam ada yang bulat seperti tabung, pipih, gepeng, bulat seperti kantong, rambut dan lain sebagainya. Thallus ini ada yang tersusun hanya oleh satu sel (uniseluler) atau banyak sel (multiseluler).
Percabangan thallus ada yang thallus dichotomus (dua-dua terus menerus), pinate (dua-dua berlawanan sepanjang thallus utama), pectinate (berderet searah pada satu sisi thallus utama) dan ada juga yang sederhana tidak bercabang. Sifat substansi thallus juga beraneka ragam ada yang lunak seperti gelatin (gelatinous), keras diliputi atau mengandung zat kapur (calcareous}, lunak bagaikan tulang rawan (cartilagenous), berserabut (spongeous) dan sebagainya.
Eucheuma cottonii dapat dibedakan dari thallusnya. Pada Eucheuma cottonii, thallusnya bercabang-cabang berbentuk silindris atau pipih, percabangannya tidak teratur dan kasar (sehingga merupakan lingkaran) karena ditumbuhi oleh nodulla atau spine untuk melindungi gametan. Ujungnya runcing atau tumpul berwarna coklat ungu atau hijau kuning. Spina Eucheuma cottonii tidak teratur menutupi thallus dan cabang-cabangnya. Permukaan licin, cartilaginous, warna hijau, hijau kuning, abau-abu atau merah. Penampakan thallus bervariasi dari bentuk sederhana sampai kompleks.
Pertumbuhan rumput laut sangat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang berpengaruh antara lain jenis, galur, bagian thalus dan umur. Sedangkan faktor eksternal yang berpengaruh antara lain keadaan fisik dan kimiawi perairan. Namun demikian selain faktor-faktor tersebut ada faktor lain yang sangat menentukan keberhasilan pertumbuhan dari rumput laut yaitu pengelolaan yang dilakukan oleh manusia.
Faktor pengelolaan yang harus diperhatikan seperti substrat perairan dan juga jarak tanam bibit dalam satu rakit apung. Laju pertumbuhan rumput laut yang dianggap cukup menguntungkan adalah diatas 3% pertambahan berat per hari. Laju pertumbuhan rumput laut berkisar antara 2-3% per hari. Pada kedalaman tidak terjangkau cahaya matahari, maka rumput laut tidak dapat tumbuh. Demikian pula iklim, letak geografis dan faktor oseanografi sangat menentukan pertumbuhan rumput laut. Metode budidaya yang digunakan adalah metode dasar dan lepas dasar atau metode terapung.

Untuk membudidyakan Rumput laut Eucemma cottonii yang harus diperhatikan adalah :

LOKASI BUDIDAYA
Lokasi yang mempunyai arus tidak terlalu keras tetapi juga tidak tenan. Untuk menghindari kerusakan secara fisik sarana budidaya maupun rumput laut dari pengaruh angin dan gelombang yang besar, maka diperlukan lokasi yang terlindung. Lokasi yang terlindung biasanya didapatkan di perairan teluk atau perairan terbuka tetapi terlindung oleh adanya penghalang atau pulau di sekitarnya. 

Gambar 2. Budidaya Eucheuma cottonii


SYARAT EKOLOGIS
Faktor ekologis suatu lokasi merupakan  faktor  terpenting, dalam menentukan keberhasilan usaha budidaya. Parameter ekologis yang perlu diperhatikan antara lain : Ketersediaan bibit, arus, kondisi dasar perairan, kedalaman, salinitas, kecerahan, pencemaran dan tenaga kerja.

A. Ketersediaan bibit
Lokasi yang terdapat stock alami rumput laut yang akan dibudidaya, merupakan petunjuk lokasi tersebut cocok untuk usaha budidaya rumput laut. Apabila tidak terdapat sumber bibit dapat memperolehnya dari  lokasi lain.  Pada lokasi dimana Euchema cottonii bisa tumbuh, biasanya terdapat pula jenis lain seperti Gracilaria, dan Sargassum.

B. Arus
Rumput laut merupakan organisma yang memperoleh makanan melalui aliran air yang melewatinya atau melalui sintesa bahan makanan di sekitarnya dengan bantuan sinar matahari. Gerakan air yang cukup akan menghindari terkumpulnya kotoran pada thallus, membantu pengudaraan, dan mencegah adanya fluktuasi yang besar terhadap salinitas maupun suhu air. Suhu yang baik untuk pertumbuhan rumput laut berkisar 25 –29oC.  Arus dapat disebabkan oleh arus pasang surut, maupun karena angin dan ombak. Besarnya kecepatan arus yang baik antara : 20 – 40 cm/detik. Suatu lokasi yang memiliki arus yang baik biasanya ditumbuhi karang lunak dan padang lamun yang bersih dari kotoran dan miring ke satu arah.

C.  Kondisi dasar perairan
Perairan yang mempunyai dasar pecahan-pecahan karang dan pasir kasar, dipandang baik untuk budidaya rumput laut Euchema cottonii. Kondisi dasar perairan yang demikian merupakan petunjuk adanya gerakan air yang baik, sedangkan apabila dasar perairan yang terdiri dari karang yang keras, menunjukkan dasar itu terkena gelombang yang besar dan apabila dasar perairan terdiri dari lumpur, menunjukkan gerakan air yang kurang.

D.  Kedalaman air.
Kedalaman perairan yang baik untuk budidaya rumput laut Euchema cottonii dengan metoda lepas dasar  adalah 30 – 60 cm pada waktu surut terendah, dan 1 - 15 m untuk sistim apung, dengan metode rakit bambu, metode jalur dan long-line. Kondisi ini untuk menghindari rumput laut mengalami kekeringan dan mengoptimalkan perolehan sinar matahari.

E.  Salinitas.
Euchema  adalah alga laut yang bersifat stenohaline, relatif tidak tahan terhadap perbedaan salinitas yang tinggi. Salinitas yang baik berkisar antara 28 - 34 ppt dengan nilai optimum adalah 33 ppt. Untuk memperoleh perairan dengan salinitas demikian perlu dihindari lokasi yang berdekatan dengan  muara sungai.

F. Kecerahan.
Rumput laut memerlukan cahaya sebagai sumber energi guna pembentukan bahan organik yang diperlukan bagi pertumbuhan dan perkembangannya yang normal. Lokasi yang potensial hendaknya dipilih yang memiliki kecerahan air  tinggi.
Air yang keruh biasanya mengandung lumpur dan dapat menghalangi tembusnya cahaya di dalam air, dan dapat menimbun permukaan thallus, sehingga akan mengganggu  pertumbuhan dan perkembangannya. Lokasi yang baik bagi budidaya rumput laut memiliki kecerahan lebih dari 1,5 m pada pengukuran dengan alat secchi disk.

G.  Pencemaran.
Lokasi yang telah tercemar, baik yang berasal dari limbah rumah tangga, aktivitas pertanian, maupun limbah industri harus dihindari untuk budidaya rumput laut, Sebaiknya dihindari pula lokasi budidaya yang berdekatan dengan muara sungai, karena terutama pada saat musim penghujan, merupakan sumber sampah dan kotoran lumpur. Kondisi ini akan menutupi permukaan thallus rumput laut dan akan mempengaruhi pertumbuhannya.

H.  Tenaga kerja.
Dalam memilih tenaga kerja yang akan ditempatkan di lapangan sebaiknya dipilih yang bertempat tinggal berdekatan dengan lokasi budidaya, dan memiliki kemauan bekerja. Hal ini dapat menghemat biaya.


Firman Pra Setia Nugraha, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Kab. Banyuwangi

Rabu, 24 Januari 2018

PEMBESARAN IKAN PATIN JAMBAL (Pangasius djambal)

Kegiatan yang dilakukan pada pembesaran ikan patin merupakan inti dari budidaya ikan tersebut. Kegiatan tersebut terdiri dari seleksi benih, penebaran benih dan pakan. Kegiatan tersebut akan diuraikan pada sub sub bab selanjutnya.

Media Pembesaran Patin
Media pembesaran dapat patin dilakukan di Keramba Jarang Apng (KJA). Hal ini sesuai dengan habitat aslinya dimana komoditi ikan Patin Jambal merupakan ikan yang berasal dari Daerah Aliran Sungai (DAS). Pemanfaatan areal sungai relatif masih rendah sehingga budidaya ikan patin jambal mempunyai peluang yang sangat besar untuk dikembangkan.
Menurut Ditjenkanbud (2001) bahwa kecepatan arus yang ideal untuk pembesaran yaitu 15-30cm/detik. Susanto dan Amri (2002) juga menyarankan bahwa dipilih sungai yang berarus lambat untuk pemeliharaan ikan patin, sehingga sungai layak untuk dijadikan tempat budidaya. Selain itu juga pastikan tidak terdapat bangunan pabrik yang limbahnya dapat mencemari air sungai.

Konstruksi Keramba Jaring Apung
Pembesaran ikan patin jambal dilakukan dengan menggunakan Keramba Jaring Apung, ukuran keramba yang digunakan untuk memelihara ikan tersebut yaitu 3 x 4 x 2 m. Konstruksi KJA terdiri dari kerangka rakit, kantong jaring dan pelampung.

Kerangka KJA
Kerangka KJA yang digunakan terbuat dari kayu jenis bulian. Kayu ini mempunyai ketahanan hingga lima tahun sehingga para pembudidaya di daerah tersebut banyak menggunakan kayu tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Jangkaru (1995) bahwa digunakan jenis kayu yang tahan lama.  Kayu jenis tersebut memang sangat bagus digunakan sebagai kerangka KJA, hal ini dapat terlihat dari KJA yang telah digunakan lebih dari empat tahun masih layak untuk digunakan. Kemudahan untuk memperoleh kayu jenis ini juga menjadi salah satu keuntungannya. Selain itu diasumsikan bahwa kayu ini adalah salah satu jenis kayu yang apabila terendam dalam air maka tekstur kayunya akan semakin padat sehingga tidak mudah lapuk.
Ukuran kerangka rakit yaitu 3 x 4 x 2 m, dilihat dari tinggi kerangka dan dibandingkan dengan kedalaman sungai yaitu empat meter maka kemungkinan ikan patin terkontaminasi sisa pakan dan sisa metabolisme sangatlah kecil, karena masih ada jarak sekitar dua meter dari dasar jaring ke dasar perairan. Jadi ukuran kerangka rakit sudah layak karena dilihat dari tinggi kerangka sudah sesuai dengan kedalaman sungai. Konstruksi kerangka yang berbentuk bujur sangkar juga sudah baik sehingga dalam peletakkan drum dapat diletakkan seimbang.
Gambar 1. Kerangka Keramba Jaring Apung

5.2.2 Jaring
Jaring yang digunakan terbuat dari bahan polietilen. Jaring  tersebut terbuat dari benang yang relatif halus dibanding jaring lain dan berdiameter 2 mm, seperti yang dikemukakan juga oleh Kordi (2005). Pada KJA idealnya mempergunakan jaring tersebut karena jaring tersebut lebih halus bila dibandingkan dengan jaring yang lain dan juga jaring tersebut tidak memiliki simpul yang dapat merusak tubuh ikan.
Ukuran mata jaring yang dianjurkan menurut Kordi (2005) yaitu sebesar 2 inchi atau 1 inchi hal ini berbeda seperti yang ada ditempat praktek dikarenakan ukuran mata jaring yang dianjurkan oleh Kordi (2005) sangat kasar untuk digunakan pada patin jambal dan dapat melukai badan ikan maka dari itu digunakan jaring yang berukuran mesh size 2 mm karena bahannya halus dan tidak melukai badan ikan.
Ikan patin jambal mempunyai kulit badan yang licin dan sangat sensitif terhadap permukaan yang kasar sehingga untuk menghindari terjadinya luka pada tubuh ikan patin maka digunakanlah jaring tersebut. Di tempat praktek hanya ada dua jenis jaring yang dijual di pasaran sehingga tidak banyak pilihan untuk menggunakan jaring yang lebih baik lagi yaitu jaring yang bahannya halus tetapi mempunyai mesh size jaring  lebih besar dari 2 mm. Penggunaan jaring tersebut memang kurang tepat  untuk digunakan sebagai kantong jaring pemeliharaan ikan patin jambal, karena ukuran mesh sizenya yang kecil sehingga kandungan oksigennya akan menjadi rendah.

Pelampung
Pelampung yang digunakan adalah drum plastik. Drum plastik tersebut diletakkan di keempat sudut rakit dengan cara diikatkan dengan tali pada kerangka rakit sehingga tidak bergeser. Drum bekas selain mudah didapat juga harganya relatif murah dibanding pelampung yang lain. Pelampung drum bekas mempunyai daya tahan selama lima tahun.
Penggunaan drum plastik sebagai pelampung dikarenakan sudah umum digunakan pada KJA di tempat praktek. Drum plastik juga mudah diperoleh dan memiliki daya apung yang baik. Selain itu keuntungan lain dari drum plastik yaitu tidak mengalami korosif atau pengkaratan, karena apabila korosif ini terjadi bisa berdampak negatif terhadap kualitas air (air tercemar). Sehingga sangat bagus digunakan drum dari bahan plastik sebagai pelampung karena tahan lama, murah dan mudah diperoleh.
Gambar 2. Posisi Pelampung KJA

Persiapan Keramba Jaring Apung
Persiapan KJA yang dilakukan sebelum benih ditebar yaitu diperiksa terlebih dahulu kondisi jaring untuk mengetahui apakah jaring tersebut koyak atau tidak. Diharapkan dengan mengetahui kondisi jaring dapat menghindari benih yang lolos karena jaring yang koyak. Selanjutnya yaitu  apabila jaring tersebut telah dipergunakan, terlebih dahulu sebaiknya dilakukan pembersihan jaring dengan cara menyikat jaring guna membuang kotoran-kotoran yang ada dan menempel pada jaring, baik itu kotoran sisa pakan, sisa metabolisme ikan dan lumpur-lumpur yang mengendap di jaring. Hal tersebut sudah baik untuk dilakukan selain untuk membersihkan jaring serta sirkulasi oksigen juga bisa berjalan dengan baik .
Tahap selanjutnya yaitu jaring dijemur untuk membunuh bakteri yang menempel pada jaring. Penjemuran jaring dilakukan selama 1-2 hari. Setelah selesai dijemur barulah jaring dapat dipergunakan kembali.
Gambar 3. Penjemuran Jaring


Seleksi benih
Benih-benih yang akan dibesarkan di jala apung, keramba, ataupun hampang harus diseleksi terlebih dahulu sebelum ditebarkan. Seleksi benih dilakukan menurut kesehatan dan ukurannya. Tujuan seleksi benih adalah untuk mendapatkan benih-benih ikan yang sehat dan berukuran seragam agar pertumbuhan selama pemeliharaan dapat seragam. Berdasarkan kesehatannya, benih yang dipilih harus tidak terdapat cacat, baik karena luka pada saat pengangkutan ataupun akibat infeksi patogen. Benih ikan yang sehat tampak segar dan berenang gesit (Djarijah, 2001).


Penebaran benih
Kepadatan penebaran merupakan keterkaitan antara jumlah ikan yang ditebarkan dengan daya tampung optimal jala apung. Kepadatan penebaran yang umum digunakan yaitu 5-10 kg/m3. Penentuan ukuran ikan yang akan ditebarkan berkaitan dengan ukuran mata jaring. Apabila penentuan ini salah maka ikan yang akan ditebarkan justru dapat meloloskan diri. Kejadian ini sering kali karena ukuran tubuh ikan lebih kecil daripada lebar mata jaring. Oleh karena itu, ada patokan umum yang biasanya digunakan oleh peternak ikan untuk membesarkan ikan patin di jala apung. Penebaran ikan yang berukuran 50-100 gr/ekor memerlukan mata jaring yang berukuran 2 inci. Apabila ukuran yang digunakan lebih kecil maka ukuran mata jaring yang digunakan juga lebih kecil, misalnya 1 inci (Susanto dan Khairul Amri, 2005).
Penebaran benih ikan sebaiknya dilakukan pada sore hari atau pagi hari saat kondisi perairan tidak terlalu panas. Agar ikan tidak stress, sebelum ikan di tebarkan, perlu  dilakukan aklimatisasi (Penyesuaian kondisi lingkungan) sekitar 5-10 menit. (Siregar,2002).

Pakan
Pemberian pakan tambahan pada proses pembesaran patin di keramba sangat mutlak untuk memacu pertumbuhan. Pakan tambahan itu berupa pellet atau sisa-sisa kegiatan dapur. Jumlah pakan tambahan biasanya 3-4% dari bobot total ikan per hari. Pellet ini ada yang dibuat sendiri (pellet lokal) dan ada pula pellet buatan pabrik (pellet komersial). Pakan tambahan lainnya juga bisa diberikan adalah limbah ikan, udang-udangan, moluska dan bekicot. Pemberian pakan jenis ini sesuai dengan pakan ikan patin di alam (Susanto dan Amri, 2005).
Dalam pemberian pakan, efisiensi penggunaan pakan menjadi penting karena sangat mempengaruhi tingkat keuntungan. Ikan budidaya mempunyai konversi pakan yang berbeda, tergantung dari jenis, umur, ukuran ikan, pakan dan kondisi lingkungan. Ikan patin yang dipelihara sistem intensif (di kolam dan keramba jaring apung), konversi pakannya antara 1,4-4,0 (Kordi, 2005).
Agar penggunaan pakan lebih efisien serta menjaga lingkungan hidup ikan tetap optimal, maka teknik pemberian pakan terbaik perlu diterapkan. Pada prinsipnya tujuan penerapan teknik pemberian pakan adalah untuk menekan sedikit mungkin pakan terbuang percuma, sehingga petani ikan memetik keuntungan yang besar. Dalam pemberian pakan ada lima hal yang perlu diperhatikan, yaitu cara pemberian pakan, saat atau waktu pemberian pakan, jumlah (porsi) pakan, frekuensi dan tempat pemberian pakan (Kordi, 2005).
Untuk mengetahui baik atau tidaknya kualitas pakan yang dihasilkan bagi pertumbuhan dibutuhkan nilai konversi pakan. Semakin baik nilai konversi pakan tersebut maka pakan yang diberikan dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan secara efisien. Konversi pakan atau FCR (Food Convertion Ratio) merupakan perbandingan antara pakan yang digunakan dengan daging ikan yang dihasilkan (Ditjenkan Budidaya, 2004).

Kualitas Air
Kualitas air dalam budidaya ikan adalah setiap peubah (variabel), yang mempengaruhi pengelolaan dan sintasan, perkembangbiakan, pertumbuhan atau produksi ikan. Air yang baik adalah yang mampu menunjang kehidupan ikan dengan baik (Huet, 1979 dalam Purnamawati, 2002).

Temperatur
Suhu air pada umumnya ditentukan oleh suhu udara, sedangkan suhu udara dipengaruhi oleh ketinggian lokasi dari muka laut. Semakin tinggi lokasi di atas muka laut semakin rendah suhu udaranya dan sebaliknya (Jangkaru, 1993). Suhu air merupakan salah satu sifat fisika yang dapat mempengaruhi nafsu makan ikan dan pertumbuhan badan ikan. Perubahan suhu yang mendadak menyebabkan ikan mati, meskipun kondisi lingkungan lainnya optimal (Purnamawati, 2002). Menurut Kordi (2005) suhu untuk pemeliharaan ikan patin yang optimal yaitu 25-33oC.

Kecerahan
Kecerahan merupakan ukuran transparansi perairan, yang ditentukan secara visual dengan menggunakan Secchi disk. Secchi disk dikembangkan oleh profesor secci pada sekitar abad 19, yang berusaha menghitung tingkat kekeruhan air secara kuantitatif. Tingkat kekeruhan air tersebut dinyatakan dengan suatu nilai yang dikenal dengan kecerahan Secchi disk (Jeffries dan Mills, 1996 dalam Effendi, 2003). Perairan yang aman bagi ikan patin adalah perairan yang dapat ditembus oleh sinar matahari hinggga kedalaman lebih dari 40 cm.

Derajat keasaman (pH)
Derajat keasaman atau pH merupakan ukuran konsentrasi ion hidrogen yang menunjukkan suasana asam atau basa suatu perairan. Derajat keasaman suatu perairan dipengaruhi oleh konsentrasi CO2 dan senyawa yang bersifat asam (Lesmana, 2002). Menurut Khairuman dan Sudenda (2002), ikan patin mempunyai toleransi yang panjang terhadap derajat keasaman yaitu antara 5,0-9,0 dan derajat keasaman yang optimum adalah 7,0. pH antara 6,5-9 merupakan kadar optimum untuk pertumbuhan ikan dan pH 11 merupakan titik mati basa (Boyd, 1981 dalam Purnamawati 2002).

Oksigen terlarut (DO)
Kandungan oksigen yang optimal untuk pemeliharaan ikan patin yaitu antara      5-6 ppm (Kordi, 2005). Peningkatan kandungan oksigen dalam air dapat dilakukan dengan aerasi, filter mekanis dan penambahan bahan penyegar. Dengan aerasi berarti oksigen atau udara bebas dialirkan ke dalam air sehingga dapat menempati rongga-rongga yang ditinggalkan oleh gas yang lebih ringan yang terusir. Dengan filter mekanis berarti mengurangi kandungan bahan organik dan koloid dalam air sehingga memungkinkan oksigen atau udara bebas memasuki rongga dalam air. Dengan penambahan bahan penyegar berarti memasukkan bahan yang dapat mengikat gas-gas dalam air sehingga rongga yang ditinggalkan dapat diisi oleh oksigen atau udara bebas (Jangkaru, 1993).

Laju/Kecepatan Arus Air
Laju/kecepatan (rate) pertukaran air di dalam sebuah keramba berbanding langsung dengan laju aliran air dan jarak linier yang melintasi keramba; oleh karenanya, semakin kecil keramba semakin besar laju pertukaran air potensialnya. Laju aliran air sebesar 1 m/menit akan berganti air satu kali dalam satu menit dalam keramba dengan lebar sisi 1-m (1-m3), tetapi hanya satu kali dalam tujuh menit dalam keramba dengan lebar sisi 7-m (98-m3) Schimittou, et al., (2004). Ditjenkanbud (2001) mengatakan bahwa kecepatan arus yang ideal untuk pembesaran adalah antara 15-30 cm/detik.

Pemanenan
Pemanenan pada keramba jaring apung dimulai dengan melepaskan tali ris disetiap sudut kantong bagian dasar atau mengangkat pemberat kantong. Ruang gerak ikan disempitkan  dengan cara menggeser sebatang bambu yang ditempatkan diantara mulut kantong dengan kerangka rakit. Populasi ikan yang sudah terkumpul ditangkap dengan seser, tangguk atau tangan kosong. Kepadatan ikan dalam kantong jaring diatur sehingga ikan tidak menjadi panik. Hal ini dilakukan dengan menggeser batang bambu sedikit demi sedikit sebanding dengan jumlah ikan yang telah diangkat (Jangkaru, 1995).


DAFTAR PUSTAKA
Cahyono, B. Budidaya Ikan di Perairan Umum.Kanisius. Yogyakarta. 2001. Hal 16
Cholik F, A. G. Jagatraya, Poernomo, A. Jauzi. 2005. Akuakultur Tumpuan Harapan Masa Depan Bangsa, Masyarakat Perikanan Nusantara dan Taman Akuarium Air Tawar Taman Mini Indonesia Indah. Jakarta.Hal 154.
Departemen Kelautan dan Perikanan Provinsi Jambi. 2006. Profil Pengembangan Kawasan Budidaya Patin Ekspor di Provinsi Jambi. Jambi. Hal 6-7.
Direktorat Jendral Perikanan. 2001. Pembesaran Ikan Kerapu Macan di Keramba Jaring Apung. Departemen Kelautan Dan Perikanan Balai Budidaya Laut Lampung. Hal 10.
Djarijah, A. S. 2001. Budidaya Ikan Patin. Kanisius. Yogyakarta. Hal 23
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air. Kanisius. Yogyakarta.Hal 56-60
Effendi, MI. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama. Bogor. Hal 115
Hardjamulia, A. 2000. Teknologi Pembenihan Ikan Patin (Pangasius spp.). Makalah pada temu aplikasi paket teknologi pertanian IPPTP. Banjarbaru, tanggal 28-29 februari. Hal 6
Jangkaru, Z. 1993. Pengembangan Perikanan Kolam di Wilayah Beriklim Basah Tanpa Irigasi. Disampaikan pada Simposium Perikanan Indonesia I. Jakarta, 25-27 Agustus 1993. Hal 70
Jangkaru, Z.1995. Pembesaran Ikan Air Tawar di berbagai lingkungan Pemeliharaan. Penebar Swadaya. Jakarta. Hal 57-69
Khairuman dan D. Sudenda. 2002. Budidaya Ikan Patin Secara Intensif. Agromedia Pustaka. Hal 5 dan 58
Kordi K, M. G. H. 2005. Budidaya Ikan Patin. Yayasan Pustaka Nusatama. Yogyakarta. Hal 26, 88 dan 124
Lesmana. 2001. Kualitas Air untuk Ikan Hias Air Tawar. Penebar Swadaya. Jakarta. Hal 28 
Lubis, E. 2006. Teknik Pembenihan dan Analisa Finansial Ikan Patin Siam (Pangasius Hypophthalmus) di BBAT Jambi. Karya Ilmiah Praktek Akhir Sekolah Tinggi Perikanan. Jakarta. Hal  58
Nasution. Z, Dharyati. E dan Rupawan. 1997. Adopsi Teknologi Budidaya Ikan Patin Pada Masyarakat Tani Di Desa Mariana-Sumatera Selatan. Jurnal Penelitian dan Perikanan Volume III No. 2 Balai Riset Kelautan dan Perikanan. Jakarta.Hal 37
Purnamawati. J. 2002. Perananan Kualitas Air terhadap keberhasilan budidaya ikan di kolam. Warta penelitian perikanan Indonesia. Hal 14
Purnomo.K, Kartamihardja E.S, Koeshendradjana S.2003. Pertumbuhan, Mortalitas, dan Kebiasaaan Makan Ikan Patin Siam (Pangasius hypophthalmus) Introduksi Di Waduk Wonogiri.  Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Volume 9 No. 3. Balai Riset Perikanan dan Kelautan. Jakarta. Hal 17
Rangkuti, F. 2001. Buissness Plan Teknik Membuat Perencanaan Bisnis dan Analisis Kasus. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Hal 59-65
Rochdianto. 2002. Budidaya Ikan di Jaring Terapung. Swadaya. Jakarta. Hal 46
Schimittou H.R, M.C Cremer dan Jiang Zhang.2004. Beberapa Prinsip dan Praktek Budidaya Ikan Pada Kepadatan Tinggi Dalam Keramba Volume Rendah. American Soybean Association. Hal 17
Slembrouck J, Oman Komarudin, Maskur dan Marc Legendre. 2005. Petunjuk Teknis Pembenihan Ikan Patin Indonesia, Pangasius Djambal. Karya Pratama. Jakarta. Hal 14.
Suparman, M. 2006. Studi Tentang Usaha Pembesaran Udang Galah (Macrobium roseenbergi) Pada Pembudidaya Udang Galah di Minggir Sleman Yogyakarta Sekolah Tinggi Perikanan. Jakarta.Hal 35
Susanto, H dan K, Amri. 2002. Budidaya Ikan Patin. Penebar Swadaya. Jakarta. Hal 6 dan 37
Soeharto, I. 1997. Manajemen Proyek Dari Konseptual sampai Operasional. Erlangga. Jakarta.Hal 433-435
Umar, H. 2003. Studi Kelayakan Bisnis. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Hal 197-20


Firman Pra Setia Nugraha,S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Kab. Banyuwangi