Rabu, 06 Juni 2018

TEKNIK BUDIDAYA : PEMBENIHAN IKAN KOI (CYPRINUS CARPIO)


Ikan koi sebenarnya bukan jenis ikan baru di Indonesia. hanya saja waktu itu koi kalah populer bila dibandingkan dengan mas koki. Keduanya masih merupakan kerabat karena termasuk dalam famili Cyprinidae. Koi (Cyprinus carpio) berkumis sedangkan mas koki asli bentuknya mirip koi hanya saja tanpa kumis, yaituCarassius auratus.
Namun dengan perkembangan zaman sekarang ini ikan Koi berkembang dengan pesat, karena sebagian besar petani ikan dan juga para hobiis yang ada di Indonesia sudah benyak yang membudidayakan. Hal ini dikarenakan budidaya ikan Koi mudah dilakukan dan mempunyai harga jual yang tinggi.
Gambar. Ilustrasi Ikan Koi


Meski sekarang koi sudah populer, tapi tidak semua hobiis paham akan ikan cantik ini sebab tidak jarang mereka terkecoh dengan ikan mas lauk yang berwarna. Memang repot, karena antara ikan mas lauk dengan ikan Koi kedua-duanya dari spesies Cyprinus carpio. Dan mungkin tidak bisa terlalu disalahkan benar apabila para hobiis (terutama pemula) menganggap bahwa koi adalah ikan mas lauk yang berwarna.

Klasifikasi
Ikan Koi (Cyprinus carpio) masih tergolong satu species dengan ikan mas konsumsi, karena memiliki sistematika yang sama yaitu :
Ordo                  : Ostariophysi
Sub Ordo           : Cyprinoidae
Famili                : Cyprinidae
Sub Famili         : Cyprinidae
Genus                 : Cyprinus
Spesies               : Cyprinus carpio

Morfologi
Badan koi berbentuk seperti torpedo dengan perangkat gerak berupa sirip. Sirip-sirip yang melengkapi bentuk morfologi koi adalah sebuah sirip punggung, sepasang sirip dada, sepasang sirip perut, subuah sirip anus, dan sebuah sirip ekor.
Sirip dada dan sirip ekor hanya mempunyai jari-jari lunak. Sirip punggung mempunyai 3 jari-jari keras dan 20 jari-jari lunak. Sirip perut hanya terdiri dari jari-jari lunak, sebanyak 9 buah. Sirip anus mempunyai 3 jari-jari keras dan 5 jari-jari lunak.
Pada sisi badannya, dari pertengahan kepala hingga batang ekor terdapat gurat sisi (linea lateralis) yang berguna untuk merasakan getaran suara. Garis ini terbentuk dari urat-urat yang berada di sebelah dalam sisik yang membayang hingga ke sebelah luar.

Fisiologi
Koi merupakan hewan yang hidup di daerah yang beriklim sedang dan hidup pada perairan tawar. Mereka dapat hidup pada temperatur 8o C sampai 30o C. Oleh karenanya koi dapat dipelihara di seluruh wilayah Indonesia, mulai dari pantai hingga daerah pegunungan. Koi tidak tahan mengalami goncangan suhu drastis. Penurunan suhu hingga 5o C dalam tempo singkat sudah bisa membuat ikan ini kelabakan. Jika tubuhnya diselimuti lapisan putih hingga 7o C, biasanya koi akan beristirahat di dasar kolam, statis. Kadang-kadang koi dapat bertahan hidup pada suhu 2o – 3o C, tapi kebekuan air umumnya akan menyebabkan kematian, kecuali dalam kolam dipasang alat sirkulasi untuk mencegah terjadinya kebekuan. Koi asli merupakan ikan air tawar, tapi masih bertahan hidup pada air yang agak asin sekitar 10 permil(10o/oo) kandungan garam dalam air masih bisa untuk hidup koi.

Pemilihan Induk
Ciri-ciri induk yang baik dan layak untuk dipijahkan adalah sebagai berikut :
-       Induk matang kelamin.
-       Tidak cacat (sehat, berenang normal).
-       Umur minimal 2 tahun pada jantan dan 3 tahun pada betina.
-       Sisik tersusun rapi.
-       Kepala relatif lebih kecil dari badan.
-       Gerakan harus tangkas dan gesit, lincah terutama pada induk jantan.

Pemijahan
Induk dimasukkan ke dalam kolam pemijahan sekitar pukul 1600 dan akan mulai memijah tengah malam. Induk betina akan berenang mengelilingi kolam dan diikuti induk jantan di belakangnya. Makin lama gerakan mereka makin seru. Induk jantan menempelkan badannya ketika mengikuti induk betina. Pada puncaknya induk betina akan mengeluarkan telurnya dengan sekali meloncat ke udara. Aktivitas betina ini segera diikuti oleh induk jantan dengan mengeluarkan cairan sperma.
Telur-telur yang terkena sperma akan menempel pada kakaban atau bahan penempel telur lainnya dan susah lepas. Juga ada sebagian telur yang jatuh ke dasar kolam. Proses perkawinan selesai pada pagi hari, dan induk segera dipisah dengan telurnya karena jika terlambat telur bisa dimakan habis oleh induknya.

Penetasan Telur
Agar menetas dengan baik, telur harus selalu terendam dan suhu air tetap konstan. Jika suhu air terlalu dingin, penetasan akan berlangsung lama, sedangkan jika suhu air terlalu tinggi, telur bisa mati dan membusuk.
Agar telur dapat terendam semua, rangkaian kakaban harus “ditenggelamkan” ke dalam kolam. Untuk itu bisa memakai jasa gedebog pisang. Potong 3 buah gedebog pisang sepanjang 40 cm, lalu diletakkan di atas kakaban dengan ruas bambu sebagai alasnya. Agar bisa stabil, gedebog pisang diratakan salah satu sisinya.
Dalam tempo 2 – 3 hari telur sudah mulai menetas. Setelah menetas kakban diangkat dan dipindahkan ke tempat lain. Benih koi yang berumur 1 minggu masih sangat lembut. Umumnya orang menetaskan telur koi dalam happa yaitu kantong yang bermata lembut yang bisa untuk menampung benih. Di happa, benih koi lebih mudah dikumpulkan dan tidak hanyut dibawa oleh aliran air. Koi yang baru menetas masih membawa kuning telur sebagai persediaan pakannya yang pertama.

Pendederan
Setelah benih berumur 5-7 hari sejak telur menetas segera di pindahkan kekolam pendederan. Pemindahan ini sebaiknya dilakukan pada saat suhu rendah yaitu pada waktu pagi atau sore hari. Dalam pemindahan benih dikolam sebaiknya dilakukan penyesuaian suhu terlebih dahulu, agar benih tidak mengalami stress akibat perubahan suhu yang mendadak.
Kegiatan pendederan ini umumnya berlangsug 30 hari (1 bulan). Sedangkan untuk pakan yang diberikan biasnya hanya mengandalkan pada pakan alami. Untuk menutupi danpak terjadinya danpak kekurangan pakan alami, biasanya dapat di gantikan dengan pakan buatan yaitu kuning telur yang di rebus, tepung udang, susu bubuk untuk anak sapi, dan pakan tepung khusus koi.

DAFTAR PUSTAKA
Dinas Perikanan DKI Jakarta, “Pengangkutan Ikan Hidup” (Jakarta: 1987).
Pelealu N. dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Ikan Koi Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.
Susanto Heru, “Ikan Koi”. Penebar Swadaya. Jakarta : 2002.
Widjanarko, B. “Ikan Koi ’Tukang Tes’ Limbah Industri”. Suara Karya : 1989.



Firman Pra Setia Nugraha, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Pertama
Dinas Perikanan dan Pangan Banyuwangi

Selasa, 15 Mei 2018

TEKNIK BUDIDAYA : IKAN GURAME (OSPHRONEMUS GOURAME)


Budidaya ikan gurame (Osphronemus gourame) tidak semudah budidaya ikan mas dan nila. Meski dapat memijah secara alami, ikan ini perlu penanganan khusus, terutama pada saat pemijahan, penetasan dan pemeliharaan larva. Namun demikian, budidaya ikan gurame telah berhasil dikembangkan, karena peluang usahanya tetap menjanjikan.
Gambar 1. Ikan Gurame


Pematangan Gonad
Pematangan gonad ikan gurame bisa dilakukan di kolam tanah. Caranya, siapkan kolam ukuran 50 m2; keringkan selama 2 – 4 hari dan perbaiki seluruh bagian kolam; isi air setinggi 50 – 70 cm dan alirkan secara kontinyu; masukan 40 ekor induk ukuran 2,5 – 4 kg; beri pakan tambahan berupa daun talas sebanyak 2 persen dan 1 persen setiap hari.

Seleksi
Seleksi induk dilakukan dengan melihat tanda-tanda pada tubuh. Tanda induk betina yang matang gonad : berdagu (atas kepala) datar, perut agak gendut; tubuh agak kusam; gerakan lamban dan lubang kelamin kemerahan. Tanda induk jantan : berdagu menonjol, gerakan lincah, tubuh lebih terang dan bercahaya; lubang kelamin kemerahan.

Pemijahan
Pemijahan ikan gurame dilakukan di kolam tanah. Kolam tersebut harus jauh dari keramaian. Caranya : siapkan kolam ukuran 50 m2; perbaiki seluruh bagiannya; keringkan selama 3 – 5 hari; isi air setinggi 60 cm dan alirkan secara kontinyu; pasang 4 buah sosog (sarang terbuat dari bambu atau tempat sampah plastik) di empat sudut kolam; masukan 30 ekor induk betina; pasang empat buah rak bambu 5 cm di atas permukaan air; letakan ijuk atau sabuk kelapa sebagai bahan sarang; masukan pula 10 ekor induk jantan; ambil sarang sudah berisi telur (biasanya sarang sudah tertutup dengan ijuk atau sabuk kelapa dan air sekitar sarang berminyak); tetaskan di tempat penetasan.

Penetasan dalam akuarium
Penetasan telur ikan gurame dilakukan di akuarium. Caranya : siapkan sebuah akuarium ukuran panjang 80 cm, lebar 60 cm dan tinggi 40 cm; keringkan selama 2 hari; isi air setinggi 30 cm; pasang dua buah titik aerasi dan hidupkan selama penetasan; masukan telur dari sebuah sarang yang sudah dibersihkan dari sampah dan telur-telur yang busuk; penetasan akan berlangsung selama 10 hari; pada hari kelima sebagian airnya dibuang dan diganti dengan air baru; panen larva atau beni dengan sekup net dan siap ditebar ke kolam pendederan I.

Penetasan dalam baskom plastik
Penetasan telur ikan gurame bisa juga dilakukan di baskom plastik. Caranya : siapkan sebuah baskom plastik besar (volume 50 liter); keringkan selama 2 hari; isi air setinggi 20 cm; masukan telur dari sebuah sarang yang sudah dibersihkan dari sampah dan telur-telur yang busuk; penetasan akan berlangsung selama 10 hari; pada hari kelima sebagian airnya dibuang dan diganti dengan air baru; panen larva atau beni dengan sekup net dan siap ditebar ke kolam pendederan I.

Pendederan I
Pendederan pertama dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan kolam ukuran 100 m2; keringkan 4 – 5 hari; perbaiki seluruh bagiannya; buatkan kemalirnya; ratakan tanah dasarnya; tebarkan 2 karung kotoran ayam atau puyuh; isi air setinggi 40 cm dan rendam selama 5 hari (air tidak dialirkan); tebar 10.000 ekor larva pada pagi hari; setelah 2 hari, beri 0,5 – 1 tepung pelet atau pelet yang telah direndam setiap hari; panen benih dilakukan setelah berumur 3 minggu.

Pendederan II
Pendederan kedua juga dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan kolam ukuran 100 m2; keringkan 4 – 5 hari; perbaiki seluruh bagiannya; buatkan kemalirnya; ratakan tanah dasarnya; tebarkan 2 karung kotoran ayam atau puyuh; isi air setinggi 40 cm dan rendam selama 5 hari (air tidak dialirkan); tebar 8.000 ekor benih dari pendederan I (telah diseleksi); beri 1 - 2 kg tepung pelet atau pelet yang telah direndam setiap hari; panen benih dilakukan setelah berumur sebulan.

Pendederan III
Pendederan ketiga dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan kolam ukuran 100 m2; keringkan 4 – 5 hari; perbaiki seluruh bagiannya; buatkan kemalirnya; ratakan tanah dasarnya; tebarkan 2 karung kotoran ayam atau puyuh; isi air setinggi 40 cm dan rendam selama 5 hari (air tidak dialirkan); tebar 6.000 ekor hasil dari pendederan II (telah diseleksi); beri 3 – 5 kg pelet kecil (khusus gurame); panen benih dilakukan sebulan kemudian.

Pembesaran
Pembesaran ikan gurame dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan sebuah kolam ukuran 200 m2; perbaiki seluruh bagiannya; tebarkan 4 karung kotoran ayam atau puyuh; isi air setinggi 40 - 60 cm dan rendam selama 5 hari; masukan 10.000 ekor benih hasil seleksi dari pendederan III; beri pakan 3 persen setiap hari, 3 kg di awal pemeliharaan dan bertambah terus sesuai dengan berat ikan; alirkan air secara kontinyu; lakukan panen setelah 3 bulan. Sebuah kolam dapat menghasilkan ikan konsumsi ukuran 0,5 kg sebanyak 400 – 500 kg.

SUMBER:
http://bdp-unhalu.blogspot.coM
http://agusrochdianto.wordpress.com
http://ebookbrowsee.net


Firman Pra Setia Nugraha,S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Pertama
Dinas Perikanan dan Pangan Kab. Banyuwangi

Minggu, 13 Mei 2018

TEKNIK PENGOLAHAN : OTAK-OTAK IKAN BAKAR


Otak-otak merupakan produk olahan dari daging ikan lumat yang sudah dikenal masyarakat. Terdapat dua jenis olahan yaitu : Otak-otak yang dibungkus dengan daun pisang dan otak-otak tanpa dibungkus daun pisang yang biasanya ditambahkan dengan sayuran (wortel, daun bawang, bawang bombay). Dapat langsung digoreng / dikukus terlebih dahulu sebelum digoreng. Sedangkan otak-otak yang dibungkus dengan daun pisang pada umumnya dibakar atau dipanggang.

Gambar 1. Otak-otak ikan bakar


Berikut bahan dan cara pembuatan otak - otak ikan bakar :

1. Bahan
  • 500 gr daging ikan yang sudah dihaluskan
  • 50 gr tepung tapioka   
  • 20 gr tepung terigu (1 sdm)

Gambar 2. Bahan Otak-Otak Ikan Bakar

2. Bumbu-bumbu dan bahan lain
  • 1 sdt garam
  • 1 sdm gula halus
  • 4 siung bawang putih, dihaluskan
  • Santan kental secukupnya
  • ½ sdt merica halus
  • 1 btr putih telur
  • 2 tangkai daun bawang dipotong halus
  • Daun pisang untuk membungkus

 
Gambar 3. Bumbu Otak Otak Ikan Bakar


3. Cara membuat
  1. Campurkan daging ikan dengan garam, aduk / uleni hingga merata.
  2. Tambahkan putih telur, aduk hingga rata, kemudian masukkan bawang putih, merica, gula halus campuran tepung, uleni hingga rata. 
  3. Tambahkan santan kental secukupnya uleni kembali sampai adonan kalis. Taburkan daun bawang dan aduk kembali.
  4. Ambil ½ sendok makan adonan, dibungkus dengan daun pisang yang diolesi dengan minyak.
  5. Panggang diatas api hingga matang.


4. Saus kacang 
  • 250 gr Kacang tanah sangrai  
  • 15 butir Kemiri sangrai   
  • 6 buah Cabe rawit   
  • 15 buah Cabe merah   
  • 6 sdm Cuka     
  • Garam dan gula pasir secukupnya
  • 1000 ml Air hangat    
  • Semua bahan dihaluskan dan dimasak hingga mendidih.


Gambar 4. Bahan Saus Kacang Otak Otak Ikan



Firman Pra  Setia Nugraha, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Pertama
Dinas Perikanan dan Pangan Kabupaten Banyuwangi





Sabtu, 05 Mei 2018

TEKNIK PENGOLAHAN : ABON IKAN


Abon ikan merupakan suatu proses pengawetan ikan dengan menggunakan kombinasi antara perebusan/pengukusan dan penggorengan serta penambahan bumbu-bumbu tertentu. Produk yang dihasilkan mempunyai tekstur yang lembut, rasa dan aroma yang khas. Abon ikan bisa digunakan untuk makan nasi, teman makan roti, dll. Berbagai jenis abon sudah banyak beredar di pasaran. Terutama yang sering kita lihat adalah abon sapi. Bagaimana dengan abon ikan? Sangat jarang kita jumpai di toko-toko atau di pasaran lainnya, meskipun ada yang hanya sedikit. Kandungan protein dalam daging ikan yang tinggi seharusnya bisa mendongkrak minat kita untuk mengkonsumsi ikan. Amis? Tentu saja itu hal biasa, namanya juga ikan. Namun dengan berbagai teknik pengolahan hal ini tak perlu jadi masalah. Karena dengan diolah menjadi berbagai bentuk produk, amis bisa dihilangkan sehingga bisa menambah selera mengkonsumsinya. Abon salah satunya. 

Gambar 1. Abon Ikan


Bentuk produk abon ikan tak jauh beda dengan abon sapi umumnya. Bedanya hanya pada bahan baku saja. Sapi tentunya sarat dengan lemak. Sedangkan ikan rendah kandungan lemaknya, malah tinggi proteinnya. Masyarakat jaman sekarang lebih cenderung suka dengan sesuatu yang beda dan baru. Abon ikan meski masih sedikit beredar dan belum banyak yang mengenalnya, tidak menutup kemungkinan jika kita sebagai masyarakat perikanan berusaha mengenalkannya pada masyarakat lain.

BAHAN - BAHAN
Pada umumnya abon ikan dibuat dari daging ikan cakalang / tongkol, tuna, dan ikan cucut. Apabila menggunakan ikan cucut, setelah ikan disiangi, kemudian dipotong-potong sebaiknya direndam dalam air bersih (kalau bisa air yang mengalir) untuk menghilangkan bau amoniak (NH3).

Gambar 2. Jenis Ikan untuk Abon



BUMBU
Bumbu-bumbu yang digunakan untuk membuat abon ikan, ketumbar, bawang merah, bawang putih, jahe, asam, garam, gula merah akan memberikan rasa yang khas pada abon ikan. Bumbu-bumbu tersebut selain memberikan rasa pada abon ikan, juga berfungsi sebagai bahan pengawet. Abon ikan dapat bertahan sampai beberapa bulan  (3 – 4 bulan).
Bumbu-bumbu dan prosentase pemakaiannya adalah sebagai berikut : 
  • garam 3% (1 sendok makan peres)
  • gula merah 30% – 50% (300 – 360 gram)
  • ketumbar 30% (5 sendok makan)
  • bawang merah 25% (250 gr)
  • minyak goreng 1 kg
  • bawang putih 3% (10-15 siung / 30 gr)
  • asam 1% (10 gr)
  • jahe 2% (25 gr)
  • seraih / kamijara 3 tangkai 
  • laos 1% (25 gr)

Gambar 3. Bumbu-bumbu untuk membuat abon ikan


Prosentase bumbu-bumbu tersebut adalah dari berat daging ikan yang telah dicabik-cabik (serpihan). Selain bumbu-bumbu, dalam pembuatan abon ikan kadang-kadang digunakan pula santan kelapa yang kental. Tetapi abon tersebut tidak tahan lama, bila disimpan akan mengalami ketengikan (rancidy).

ALAT
Berikut alat - alat yang digunkan untuk membuat abon ikan :
  • Pisau
  • Sendok
  • Langseng
  • Kompor 
  • Irus 
  • Telenan 
  • Cobek, layah 
  • Press Abon 
  • Pan plastic 
  • Wajan

Gambar 4. Peralatan untuk membuat abon ikan


CARA MEMBUAT
  1. Ikan disiangi yaitu dipotong kepala, dibuang isi perut dan dipotong-potong melintang untuk memudahkan pengukusan, kemudian dicuci sampai bersih.
  2. Ikan dikukus sampai matang, pisahkan dari tulang dan duri, kemudian dicabik-cabik hingga menjadi serpihan-serpihan daging kecil-kecil.
  3. Bumbu-bumbu dihaluskan, lalu dicampurkan dengan daging hingga merata dan diamkan beberapa saat (pembaceman).
  4. Daging ikan yang telah dicampur dengan bumbu lalu digoreng dengan minyak panas hingga berwarna kuning kecoklatan.
  5. Setelah abon diangkat dari wajan, kemudian dimasukkan ke dalam alat press, dan ditekan-tekan sampai minyaknya keluar (sampai tuntas). Kemudian abon dapat dikeluarkan dengan menggunakan garpu. Lalu tambahkan bawang goreng pada abon yang telah matang.
  6. Dinginkan dan abon dikemas atau siap disajikan.




Firman Pra Setia Nugraha, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Pertama
Dinas Perikanan dan Pangan Kabupaten Banyuwangi

Rabu, 02 Mei 2018

PAKAN IKAN DENGAN AMPAS TAHU


Tahu tentu tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia, makanan ini merupakan lauk-pauk sehari-hari dan memiliki kandungan protein tinggi. Tahu terbuat dari kedelai yang diolah dengan cara digiling dan direbus, serta memiliki kandungan protein nabati yang cukup tinggi. Dan bagian kedelai yang tidak dapat diolah menjadi Tahu disebut ampas Tahu. Ampas Tahu sering menjadi masalah di lingkungan industri pembuatan Tahu karena ampas Tahu ini merupakan limbah produksi. Walaupun dianggap limbah, ampas Tahu dapat diolah menjadi makanan, masakan ataupun pakan bagi ikan lele. Khususnya, pengolahan ampas Tahu menjadi pakan ikan lele menggunakan proses fermentasi sehingga dalam pakan ampas Tahu mengandung alkohol. Kandungan alkohol dalam pakan ampas Tahu berfungsi sebagai pengganti hormon untuk proses sexreversal, karena penggunaan hormon untuk proses sex reversal berdampak kurang baik pada pengkonsumsi ikan yang disexreversal tersebut.

Gambar 1. Ampas Tahu


Tahu sebagai lauk pauk dan makanan kecil yang bergizi sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Dengan memiliki kandungan protein yang tinggi tetapi pada ampas Tahupun masih memiliki kegunaan yang cukup baik bagi ikan.
Kedelai merupakan bahan dasar pembuatan Tahu. Kedelai yang digunakan dalam pembuatan Tahu ini, tidak kesemua bagiannya dapat diolah menjadi Tahu. Bagian kedelai yang tidak dapat diolah menjadi Tahu, disebut ampas Tahu. Di industri–industri Tahu, ampas Tahu dianggap limbah dan tidak memilliki nilai ekonomis, sehingga banyak sekali industri Tahu yang membuang ampas Tahu dsembarang tempat tanpa ada pengolahan lebih lanjut yang dapat meningkatkan harga jual ampas Tahu. Hal inilah yang kemudian hari menimbulkan masalah sosial yang seakan susah untuk terselsaikan.
Padahal dengan melakukan pengolahan lebih lanjut, ampas Tahu akan menjadi barang yang sangat berguna dan memiliki nilai ekonomis tinggi. Ampas Tahu dapat diolah menjadi kerupuk ampas Tahu maupun pakan buatan ikan yang berbahan dasar ampas Tahu. Dengan kandungan protein yang cukup tinggi pada kedelai, jelas ampas Tahu juga memiliki kandungan protein yang tinggi pula. Protein sangat dibutuhkan oleh tubuh untuk pertumbuhan, energi, dan lain–lain.
Pengolahan ampas Tahu sebagai bahan dasar pakan buatan untuk ikan lele, sekarang ini sedang dikembangkan dan diterapkan pada budidaya lele, khususnya budidaya lele organik. Ampas Tahu selain memiliki kandungan protein yang tinggi, juga harga bahan, biaya produksi, dan proses produksinya murah meriah. Menurut Setyono (2010;2), harga per kilogram ampas Tahu ialah Rp. 500;- dan pembuatannya pun relatif mudah jika dibandingkan dengan pembuatan pakan sejenisnya.
Pembuatan pakan dari ampas Tahu menggunakan proses fermentasi. Proses fermentasi ialah proses penguraian struktur bahan organik dan pengawetan suatu bahan dengan bantuan fungi atau cendawan dan bakteri. Selain menguraikan bahan organik, hasil dari proses fermentasi juga menghasilkan kandungan alkohol dalam ampas Tahu tersebut. Kandungan alkohol yang dihasilkan pada proses fermentasi ampas Tahu, lebih kecil jika dibandingkan dengan kandungan alkohol pada proses fermentasi bahan lainnya seperti anggur, beras ketan dan lain – lain.
Kandungan alkohol yang terdapat dalam ampas Tahu ini, memiliki kekurangan dan kelebihan. Kekurangannya ialah pakan berbahan dasar ampas Tahu tidak boleh diberikan pada organisme yang akan dijadikan indukan maupun calon induk, hal ini akan menetralkan gonad sang calon induk. Dan adapun kelebihannya ialah pakan ini dapat digunakan sebagai bahankimia alternatif pengganti hormon tirosin untuk proses sexreversal. Hormon untuk proses sexreversal sangat berbahaya penggunaannya dan sekarang ini telah dilarang penggunaannya. Penggunaan hormon untuk proses sexreversal dalam proses sexreversal akan berakibat fatal bagi yang mengkonsumsi ikan yang telah disexreversal, terutama wanita, karena dapat merangsang peningkatan hormon untuk proses sexreversal secara berlebihan. Sexreversal bertujuan untuk menyamakan gender ikan budidaya agar pertumbuhan ikan budidaya menjadi lebih cepat.
Pemberian pakan ampas Tahu ini, hanya dapat diberikan pada ikan untuk pembesaran dan sexreversal saja. Pakan ini sangat disukai oleh ikan lele, hal ini dengan yang diungkapkan Setyono (2010;5) ikan lele sangat menyukai pakan yang berbahan dasar ampas Tahu karena pakan ini memiliki aroma yang sama dengan pakan buatan pabrik ternama (pakan buatan yang digemari ikan lele) dan juga kandungan proteinnya tinggi.
Pakan ampas Tahu yang diberikan kepada ikan lele, menurut penilitian terbaru, pakan ini dapat menyamakan pertumbuhan ikan sekitar 80 %. Hal ini bertujuan untuk mengurangi tingkat kanibalisme pada ikan lele. Pemberian pakan ampas Tahu merupakan pakan pokok dalam budidaya, sedangkan untuk pakan tambahan digunakan pakan buatan pabrik.
Pakan berbahan dasar ampas Tahu memiliki banyak kelebihan, diantaranya mengurangi dampak pencemaran lingkungan akibat limbah ampas Tahu, mengurangi biaya produksi budidaya, dan sebagai bahan alternatif yang aman untuk proses sexreversal. Untuk mengembangkan pemanfaatan ampas Tahu sebagai pakan buatan untuk ampas Tahu, perlu adanya perhatian dari pemerintah kepada masyarakat dan industri Tahu. Perhatian tersebut dapat dalam bentuk pelatihan-pelatihan maupun penyuluhan. Tidak hanya itu sebaiknya pemerintah juga menbimbing kelompok tani pembudidaya ikan lele untuk memanfaatkan ampas Tahu sebagai bahan dasar pembuatan pakan lele.
Dengan melakukan pengolahan lebioh lanjut, ampas Tahu akan memiliki nillai ekonomis yang cukup tinggi. Pengolahan ampas Tahu dapat berupa kerupuk, makanan ringan maupun bahan dasar pakan ikan. Dalam dunia budidaya sekarang ini, pakan ampas Tahu merupakan pakan alternatif yang sedang diminati para petani. Pakan ampas Tahu selain biaya produksinya rendah disbanding pakan sejenisnya, pakan ampas Tahu ini juga dapat mempercepat pertumbuhan ikan. Menurut hasil penilitian terbaru, karena proses pembuatan pakan ampas Tahu dengan fermentasi, dalam pakan ini mengandung yang alkohol. Kandungan alkohol dalam pakan ampas Tahu ini dapat menggantikan fungsi hormon untuk proses sexreversal untuk proses sex reversal.
Penggunaan hormon untuk proses sexreversal secara berlebihan akan memberikan dampak yang kurang baik bagi konsumen pengkonsumsi daging ikan yang pembudidayaan secara sex reversal dengan hormon untuk proses sexreversal. Dampak dari penggunaan hormon untuk proses sexreversal ini antara lain jumlah hormon untuk proses sexreversal dalam tubuh organisme penmgkonsumsi akan berlebih, sehingga sifat kejantanan dari organisme akan lebih mendominasi. Hal ini sangat berbahaya bagi manusia, misalnya wanita karena mengkonsumsi ikan yang disexreversal dengan hormon dapat menghilangkan ciri kewanitaannya, begitu juga pada laki-laki.

Nilai Gizi Ampas Tahu
Ampas Tahu lebih tinggi kualitasnya dibandingkan dengan kacang kedelai. Protein ampas Tahu mempunyai nilai biologis lebih tinggi daripada protein biji kedelai dalam keadaan mentah karena bahan ini berasal dari kedelai yang telah dimasak. Ampas Tahu juga mengandung unsur-unsur mineral mikro maupun makro yaitu: Fe 200-500 ppm, Mn 30-100 ppm, Cu 5-15 ppm, Co < 1 ppm dan Zn > 50 ppm.
Ampas Tahu dalam keadaan segar berkadar air sekitar 84,5% dari bobotnya. Kadar air yang tinggi dapat menyebabkan umur simpannya pendek. Ampas Tahu basah tidak tahan disimpan dan akan cepat menjadi asam dan busuk selama 2-3 hari, sehingga ternak tidak menyukai lagi. Ampas Tahu kering mengandung air sekitar 10,0-15,5% sehingga umur simpannya lebih lama dibandingkan dengan ampas Tahu segar.


Firman Pra Setia Nugraha, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Pertama
Dinas Perikanan dan Pangan Kabupaten Banyuwangi

Kamis, 12 April 2018

TEKNIK BUDIDAYA : IKAN SIDAT (ANGUILLA BICOLOR)



Ikan sidat (Anguilla bicolor), termasuk famili Anguillidae, ordo Apodes. Di Indonesia diperkirakan paling sedikit terdapat 5 (lima) jenis Ikan Sidat, yaitu : Anguilla encentralis, A. bicolor bicolor, A. borneonsis, A. Bicolor Pacifica, dan A. celebensis. Ikan sidat mungkin tidak dikenal oleh banyak orang di sini. Tapi, diberbagai negara ikan sidat jadi makanan primadona yang harganya sangat mahal nilai ekonominya bagus.
Gambar 1. Ikan Sidat (Anguilla bicolor)

Permintaan ekspor sidat terus meningkat, usaha budidaya Sidat masih sangat sedikit dan masih ada kendala dalam pengadaan benih ikan Sidat.. Harga jualnya juga mencengangkan. Sayangnya, teknik pendederan dan pembesaran yang menjadi kunci dihasilkannya sidat berkualitas dan layak ekspor belum banyak dikuasai.
Ikan sidat adalah salah satu jenis ikan yang bentuknya mirip belut, tapi bedanya, ikan sidat hidup di air bukan di lumpur. Selain itu ikan sidat mempunyai sirip di dekat kepalanya. Untuk proses adaptasi kehidupan benih sidat atau glass eel, dari air laut menjadi air tawar, Donny menyediakan kolam khusus yang berisi air tawar yang kemudian di beri garam tanpa yodium, agar air menjadi payau.
Selanjutya, benih sidat dimasukan ke kolam air payau buatan itu. Setelah benih sidat beradaptasi hidup di air payau, baru dipindahkan di kolam air tawar. 
Proses adaptasi ini umumnya memakan waktu 1 bulan, dan dalam proses adaptasi ini, glass eel di beri makan cacing sutera, setelah beradaptasi dan terbiasa hidup di air tawar, sidat bisa dipindahkan di kolam pembesaran," jelas lelaki yang pernah bekerja menjadi TKI di Jepang ini, sambil memperagakan cara membuat air payau buatan di kolam budidaya sidatnya.
Agar cepat besar, ikan sidat di beri makan campuran tepung ikan dan vitamin. Dengan sirkulasi air yang bagus dan pakan yang bergizi, ikan sidat dapat di penen setelah berumur 8 bulan hingga 1,5 tahun, tergantung besar kecil ukuran sidat yang diinginkan. Ikan sidat adalah sejenis belut, namun bentuknya lebih panjang dan besar. Ada yang mencapai 50 cm. Memang tidak enak dilihat. Tapi siapa sangka, konsumen asing menganggap cita rasa ikan sidat enak dan memiliki kandungan gizi yang tinggi. Kalau di restoran Jepang, ikan ini sebutannya Unagi.
Kandungan vitamin A mencapai 4.700 IU/100 gram, sedangkan hati ikan sidat lebih tinggi lagi, yaitu 15.000 IU/100 gram. Lebih tinggi dari kandungan vitamin A mentega yang hanya mencapai 1.900 IU/100 gram. Bahkan kandungan DHA ikan sidat 1.337 mg/100 gram mengalahkan ikan salmon yang hanya tercatat 820 mg/100 gram atau tenggiri 748 mg/100 gram. Sementara kandungan EPA ikan sidat mencapai 742 mg/100 gram, jauh di atas ikan salmon yang hanya 492 mg/100 gram dan tenggiri yang hanya 409 mg/100 gram.
Teknologi budidaya masih baru di Indonesia. Budidaya ikan sidat di Indonesia baru ditemukan sekitar tahun 2007 oleh Satuan Kerja Tambak Pandu Karawang, yang merupakan UPT Ditjen Perikanan Budi Daya, Departemen Kelautan dan Perikanan. Padahal ikan sidat sudah cukup lama dibudidayakan di Jepang dan Thailand. Asal tahu saja, pengembangan budidaya kedua negara menggunakan benih dari Indonesia. Melihat permintaan pasar dunia yang sangat besar seharusnya pemerintah tanggap dengan kondisi seperti ini. 
Ikan sidat tumbuh di perairan tawar (sungai dan danau) hingga mencapai dewasa, setelah itu Ikan Sidat dewasa beruaya ke laut dalam untuk melakukan reproduksi. Larva hasil pemijahan akan berkembang, dan secara berangsur-angsur terbawa arus ke perairan pantai. Ikan Sidat yang telah mencapai stadia elver (glass eel) akan beruaya dari perairan laut ke perairan tawar melalui muara sungai.
Harga ikan memang sangat menggiurkan. Harga di tingkat petani ikan sidat untuk elver dengan harga jual antara Rp. 250.000/kg. Untuk ukuran 10-20 gram berkisar antara Rp 20.000-Rp 40.000/kg, sedangkan ukuran konsumsi >500 gram untuk jenis Anguilla bicolor pada pasar lokal rata-rata        Rp 75.000/kg; jenis Anguilla marmorata Rp 125.000 -  Rp 175.000/kg.
Larva sidat (elver) berhubungan dengan musim. Diperkirakan larva Ikan Sidat dimulai pada awal musim hujan, akan tetapi pada musim tersebut faktor arus sungai dan keadaan bulan sangat mempengaruhi intensitas ruayanya.
Ikan sidat termasuk ikan karnivora. Di perairan umum ikan sidat memakan berbagai jenis hewan, khususnya organisme benthik seperti crustacea (udang dan kepiting), polichatea (cacing, larva chironomus dan bivalva serta gastropods). Aktivitas makan ikan sidat umumnya pada malam hari (nokturnal).
Ikan sidat telah dibudidayakan secara intensif di Eropa khususnya di Norwegia, Jerman dan Belanda serta Asia, yaitu : Jepang, Taiwan dan China daratan. Di negara-negara lain seperti Australia, Indonesia dan beberapa negara Eropa dan Afrika Barat umumnya produksi ikan sidat masih mengandalkan dari hasil penangkapan di alam. Ikan sidat dapat dibudidayakan di dalam ruangan tertutup (indoor) dan di luar ruangan (outdoor).
Di Indonesia dengan suhu lingkungan yang relatif konstan sepanjang tahun maka pemeliharaan ikan sidat dapat dilakukan di luar ruangan (out door). Secara praktis ikan sidat dapat dibudidayakan di kolam tanah berdinding bambu, kolam beton (bak beton), pen dan keramba jaring apung. Apa pun jenis wadah yang digunakan dalam budidaya ikan sidat yang hamus diperhatikan adalah bagaimana mencegah lolosnya ikan dari media budidaya.

Lingkungan Perairan yang Baik untuk Budidaya Ikan Sidat :
a. Suhu.
Pada pemeliharaan benih ikan sidat lokal, A. bicolor bicolor, suhu terbaik untuk memacu pertumbuhan adalah 29°C.
b. Salinitas.
Pada pemeliharaan ikan sidat lokal, A. bicolor bicolor (elver), salinitas yang dapat memberikan pertumbuhan yang baik adalah 6 – 7 ppt.
c. Oksigen Terlarut.
Kandungan oksigen minimal yang dapat ditolelir oleh ikan sidat berkisar antara 0,5 – 2,5 ppm.
d. pH.
pH optimal untuk pertumbuhan Ikan Sidat adalah 7 – 8.
e. Amonia (N H3- N) dan Nitrit (NO2-N)
Pada konsentrasi amonia 20 ppm sebagian ikan sidat yang dipelihara mengalami methemoglobinemie dan pada konsentrasi 30 – 40 ppm seluruh ikan sidat mengalami methemoglobinemie.
f. Kebutuhan Nutrien
Seperti halnya jenis ikan-ikan lain, ikan sidat membutuhkan zat gizi berupa protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral. Kadar protein pakan optimal adalah 45% untuk ikan bestir (juvenil) dan sekitar 50% untuk ikan kecil (fingerling).

Budidaya Ikan Sidat Pada Jaring Apung
a. Jaring Apung.
Satu unit jaring apung memiliki empat kolam berukuran 7 x 7 m, dengan jaring berukuran 7 x 7 x 2,5 m dan mata jaring 2,5 inchi. Untuk menghindari lolosnya ikan, disekeliling tepian kolam bagian atas diberi penutup dari hapa dengan lebar 60 cm.
b. Benih Ikan Sidat.
Benih Ikan Sidat (Anguilla bicolor) berbobot 15 – 20 gram per ekor dengan panjang 20-30 cm.. Benih Ikan Sidat diperoleh dari Pelabuhan Ratu hasil tangkapan nelayan di perairan umum.
c. Padat Penebaran.
Setiap kolam ditebar 100 kg benih Ikan Sidat.
d. Pakan.
Pakan yang diberikan adalah pakan buatan berbentuk pasta dengan kandungan :
  • Protein 47,93%
  • Lemak 10,03%
  • Seratkasar 8,00%
  • BETN 8,32%
  • Abu 25,71%

Pakan diberikan sebanyak 3% dari berat total ikan. Konversi pakan sebesar 1,96. Dengan konversi tersebut akan diperoleh laju perturnbuhan rata-rata 1,46`% dengan mortalitas   9,64 %.
e. Masa Pemeliharaan dan Panen.
Pemeliharaan ikan sidat pada kolam keramba jaring apung selama 7 – 8 bulan, dan masa. panen secara bertahap dapat dimulai pada masa pemeliharaan 4 bulan. Ukuran Ikan Sidat yang, dipanen dapat – mencapai ukuran. konsumsi yaitu 180 – 200 gram per ekor. Pemeliharaan ikan Sidat pada kolam keramba jaring apung merupakan salah satu alternatif dalam rangka penganekaragaman budidaya ikan pada kolam keramba jaring apung. Namun dalam penerapannya masih perlu diperhatikan kondisi serta kualitas perairan umum yang dipergunakan.


Firman Pra Setia Nugraha, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Pertama 
Dinas Perikanan dan Pangan Kabupaten Banyuwangi


Selasa, 10 April 2018

PEMBERIAN KAPUR TERHADAP KOLAM BUDIDAYA



Air sebagai sumberdaya alam yang diperlukan untuk hajat hidup orang banyak, bahkan oleh semua makhluk hidup. Sumberdaya air harus dilindungi agar tetap dapat dimanfaatkan dengan baik oleh manusia serta makhluk hidup yang lain. Pemanfaatan air untuk berbagai kepentingan harus dilakukan secara bijaksana, dengan memperhitungkan kepentingan generasi sekarang maupun generasi mendatang. Aspek penghematan dan pelestarian sumberdaya air harus ditanamkan pada segenap penggunaan air.

Kolam merupakan salah satu perairan tawar yang bersifat menggenang atau lentic water yang sengaja diciptakan dan dirancang sedemikian rupa untuk kegiatan budidaya perairan. Jenis biota yang dibudidayakan di dalam kolam dapat berupa ikan maupun udang. Kegiatan budidaya yang biasa dilakukan dapat berupa pembenihan maupun pembesaran.

Pengelolaan kualitas air adalah upaya pemeliharaan air sehingga tercapai kualitas yang diinginkan sesuai fungsi peruntukannya untuk menjamin agar kualitas air tetap dalam kondisis alamiahnya. Adapun yang dapat dilakukan dalam mengelola kualitas ais suatu perairan pengelolaan tanah dasar, pengapuran, dan pemupukan. Banyak hal yang dapat dilakukan namun ketiga inilah hal mendasar yang wajib dilakukan.

Pemberian kapur selain dapat membunuh hama dan parasit ikan juga dapat menaikan pH dasar kolam. Sedangkan pemupukan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan unsur hara yang diperlukan fitoplankton sebagai makanan zooplankton maupun ikan.

Gambar 1. Kapur Pertanian/Perikanan (Dolomit)

Tujuan penggunaan kapur adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian CaCO3 dalam suatu sampel untuk meningkatkan pH sehingga mendekati pH normal. 


Pengapuran merupakan salah satu upaya untuk mempertahankan kestabilan keasaman (pH) tanah dan air, sekaligus memberantas hama penyakit. Jenis kapur yang digunakan untuk pengapuran kolam ada beberapa macam diantaranya adalah kapur pertanian, yaitu kapur carbonat : CaCO3 atau [CaMg(CO3)]2 dan kapur  tohor/kapur aktif (CaO). Kapur pertanian yang biasa digunakan adalah kapur karbonat yaitu kapur yang bahannya dari batuan kapur tanpa lewat proses pembakaran tapi langsung digiling. Kapur pertanian ada dua yaitu kalsit dan Dolomit. Kalsit bahan bakunya lebih banyak mengandung karbonat, magnesiumnya sedikit (CaCO3), sedangkan dolomit bahan bakunya banyak mengandung kalsium karbonat dan magnesium karbonat [CaMg(CO3)]2. Dolomit merupakan kapur karbonat yang dimanfaatkan untuk mengapuri lahan bertanah masam. Kapur tohor adalah kapur yang pembuatannya lewat proses pembakaran. Kapur ini dikenal dengan nama kapur sirih, bahannya adalah batuan tohor dari gunung dan kulit kerang.

Dosis kapur yang akan ditebarkan harus tepat karena jika berlebihan kapur akan menyebabkan kolam tidak subur, sedangkan bila kekurangan kapur dalam kolam akan menyebabkan tanah dasar kolam menjadi asam. Peningkatan kandungan alkalinitas total pada kolam pemeliharaan ikan dapat digunakan kapur pertanian. Kolam pemeliharaan ikan sebelum digunakan dilakukan proses pengapuran dengan menggunakan beberapa jenis batu kapur yang disesuaikan dengan kualitas tanah dasar kolam pemeliharaan.

pH merupakan suatu ekpresi dari konsentrasi ion hidrogen (H+) di dalam air. Besarannya dinyatakan dalam minus logaritma dari konsentrasi ion H. Sebagai contoh, kalau ada pernyataan pH 6, itu artinya konsentrasi H dalam air tersebut adalah 0.000001 bagian dari total larutan. Penulisan 0.000001 (bayangkan kalau pH 14) terlalu panjang maka orang melogaritmakan angka tersebut sehingga menjadi -6. Tanda “-“ (negatif) dibelakang angka tersebut yang dinilai kurang praktis, maka mengalikannya lagi dengan tanda - (minus) sehingga diperoleh angka positif 6. pH diartikan sebagai "-(minus) logaritma dari konsenstrasi ion H".

pH = - log (H+) Perlu diperhatikan adalah bahwa selisih satu satuan angka pH itu artinya perbedaan kosentrasinya adalah 10 kali lipat. Apabila selisih angkanya adalah 2 maka perbedaan konsentrasinya adalah 10x10 = 100 kali lipat. Sebagai contoh pH 5 menunjukkan konsentrasi H sebanyak 0.00001 atau 1/100000 (seperseratus ribu) sedangkan pH 6 = 0.000001 atau 1/1000000 (sepersejuta). Penurunan pH dari 6 ke 5 artinya kita meningkatkan kepekatan ion H+ sebanyak 10 kali lipat. Kalau kita misalkan pH itu gula, maka dengan menurunkan pH dari 6 ke 5, sama artinya bahwa larutan tersebut sekarang 10 kali lebih manis dari pada sebelumnya.

Semua mahluk tidak dapat bertahan terhadap perubahan nilai pH, untuk itu alam telah menyediakan mekanisma yang unik agar perubahan tidak tidak terjadi atau terjadi tetapi dengan cara perlahan. Sistem pertahanan ini dikenal sebagai kapasitas pem-buffer-an.

pH sangat penting sebagai parameter kualitas air karena ia mengontrol tipe dan laju kecepatan reaksi beberapa bahan di dalam air, selain itu ikan dan mahluk-mahluk akuatik lainnya hidup pada selang pH tertentu, sehingga dengan diketahuinya nilai pH maka kita akan tahu apakah air tersebut sesuai atau tidak untuk menunjang kehidupan mereka.

Besaran pH berkisar dari 0 (sangat asam) sampai dengan 14 (sangat basa/alkalis). Nilai pH kurang dari 7 menunjukkan lingkungan yang asam sedangkan nilai diatas 7 menunjukkan lingkungan yang basa (alkalin). Sedangkan pH = 7 disebut sebagai netral. Fluktuasi pH air sangat di tentukan oleh alkalinitas air tersebut. Apabila alkalinitasnya tinggi maka air tersebut akan mudah mengembalikan pH-nya ke nilai semula, dari setiap gangguan terhadap pengubahan pH. Menaikkan pH dapat dilakukan dengan memberikan aerasi yang intensif, melewatkan air melewati pecahan koral, pecahan kulit kerang atau potongan batu kapur. Penambahan dekorasi berbahan dasar kapur seperti tufa, atau pasir koral atau dengan melakukan penggantian air.

Reaksi tanah yang akan digunakan untuk media budidaya harus netral atau basa dan tidak bereaksi asam. Tanah yang baik untuk dijadikan media budidaya harus mempunyai pH kurang lebih 6,5-8,5. Potter (1977) menggolongkan tingkat keasaman tanah menjadi 3 kelompok, yaitu :
  1. Tanah bersifat agak basa
  2. Tanah yang produktif untuk dijadikan media budidaya adalah yang mempunyai pH netral sampai basa. Tanah demikian kaya akan garam nutrien yang dapat merangsang pertumbuhan klekap menjadi cepat. Klekap dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang mempunyai kisaran pH antara 6,6-7,5. karena pada kisaran pH demikian, unsur hara dan kandungan phospor mencapai tingkat yang terbaik untuk pertumbuhan klekap.
  3. Tanah asam juga dapat terbentuk sebagai hasil pengendapan senyawa-senyawa tertentu. Proses pembentukan tanahnya sering di ikuti dengan terakumulasinya pyrit (FeS2), yaitu senyawa yang dapat menyebabkan keasaman tanah. Tanah yang mempunyai pH rendah akan menghasilkan pH air yang rendah pula. terjadinya efek pencucian yang menyebabkan pH tanah menjadi asam. Akibat yang timbul bila tanah terlalu asam adalah :
    • pH air menjadi rendah (berkisar 3-4)
    • Terjadi efek pencucian besi (Fe) dan Aluminium (Al)
    • Terjadi pengikatan unsur phospor (P) oleh besi dan aluminium sehingga pemupukan dengan phospor tidak akan berpengaruh terhadap peningkatan kesuburan tanah.

Cara mengatasi tanah asam sulfat ialah dengan pemberian kapur. Fungsi pengapuran tersebut adalah :
  • Meningkatkan pH tanah dan air.
  • Membakar jasad-jasad renik penyebab penyakit dan hewan liar.
  • Mengikat dan mengendapkan butiran lumpur halus.
  • Memperbaiki kualitas tanah
  • Kapur yang berlebihan dapat mengikat phospat yang sanagt dibutuhkan untuk pertumbuhan plankton.

Hubungan antara keasaman tanah dan tekstur tanah dengan jumlah kapur (CaO) yang dibutuhkan pada proses pengapuran :
Hasil pengapuran akan lebih baik jika dikombinasikan dengan alumunium [Al2(SO2)3. H2O]. Pemberian pupuk dilakukan pada saat cuaca cerah dan tidak ada angin, agar gumpalan-gumpalan yang telah terbentuk tidak lepas lagi. Pengapuran akan menjadikan susunan tanah menjadi lebih baik sehingga proses pertukaran dan peredaran udara di dalam tanah dapat berlangsung dengan baik. Pengapuran dapat merangsang aktivitas organisme tanah sehingga akan meningkatkan fungsi bahan organik dan nitrogen di dalam tanah. Jumlah kapur (CaO) yang ditaburkan pada proses pengapuran tanah dasar tambak tergantung dari tingkat kemasaman tanah.


Firman Pra Setia Nugraha, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Pertama
Dinas Perikanan dan Pangan Kabupaten Banyuwangi

Jumat, 06 April 2018

PEMBENTUKAN KOPERASI



PENGERTIAN KOPERASI
Secara etimologi koperasi berasal dari Bahasa Inggris cooperative yang berarti kerjasama. Jadi pengertian koperasi secara sederhana adalah organisasi atau perkumpulan orang yang bergabung secara sukarela dan mempunyai tujuan sama dalam memenuhi kebutuan serta salang bekerjasama.
Berdasarkan undang undang UU 25 Tahun 1992 Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan.


Gambar 1. Lambang Koperasi Indonesia

JENIS- JENIS KOPERASI
Koperasi menurut usahanya dapat di bedakan menjadi:
  1. Koperasi Produksi Contoh : koperasi pertanian, koperasi susu ( peternak), Koperasi perikanan dll
  2. Koperasi Konsumsi Contoh: Koperasi yang mengusahakan swalayan, toko dll
  3. Koperasi Jasa, Koperasi yang mengusahakan bisnis trasportasi misalnya :kopata, kobutri. Koperasi simpan pinjam dll
  4. Koperasi Serba UsahaKoperasi yang mempunyai banyak usaha

TUJUAN, FUNGSI DAN PERAN KOPERASI
Tujuan Koperasi
tercantum dalam UU No.25 Tahun 1992 mengenai Perkoperasian, Tujuan Koperasi yaitu untuk memajukan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, serta ikut membangun tatanan perekonomian nasional untuk mewujudkan masyarakat yang maju, adil dan makmur berdasarkan pada Pacasila dan UUD 1945.

Fungsi dan Peran Koperasi
Fungsi dan peran koperasi tercantum dalam UU No. 25 Tahun 1992¸sebagai berikut :
  1. membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya.
  2. koperasi untuk mempertinggi kualitas kehidupan manusia dan masyarakat.
  3. koperasi untuk memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional dengan koperasi sebagai sokogurunya.
  4. koperasi untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional yang merupakan usaha bersama yang didasarkan asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi

LANGKAH-LANGKAH PENDIRIAN KOPERASI
Perlu disadari pembentukan koperasi harus didasarkan kepada kebutuhan dan kesadaran. Sebelum mendirikan sebuah koperasi terlebih dahulu kita harus tahu hal-hal berikut.

Perlu apa tidak koperasi di daerah ini? Jika perlu kenapa?

Apakah sudah ada rencana usaha yang akan dijalankan?

Bagaimana persiapannya seperti modal, tempat usaha dan sebagainya?

Langkah 1 : Rapat Persiapan
Hal pokok yang harus di putuskan dalam rapat persiapan :

1. Ketentuan nama koperasi
  • Nama koperasi harus jelas lengkap dan mudah dibaca
  • Nama koperasi tidak boleh tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum kesusilaan dan perundang-undangan yang berlaku
  • Nama tidak boleh sama dengan nama organisasi massa, politik, agama, suku dan ras
  • Terdiri dari tiga suku kata
2. Menentukan Jenis Usaha Koperasi
3. Putuskan berapa besaran simpanan pokok, simpanan wajib,dan modal koperasi
4. Pemilihan pengawan dan pengurus untuk pertama kalinya (pengurus dan pngawas harus berjumlah ganjil)
5. Putuskan jangka waktu beridirnya koperasi (tertbatas/tidak terbatas)
6. Masa jabatan pengawas dan pengurus koperasi

Langkah 2 : Mencari Notaris Pembuat Akta Koperasi
  • Menyerahkas hasil rapat persiapan kepada notaris
  • Notaris membuat draft Anggaran Dasar berdasarkan rapat persiapan
Langkah 3 : Rapat Pembentukan
  • Rapat Pembentukan Koperasi harus dihadiri oleh para anggota pendiri koperasi (min 20) orang dan boleh mengundang Pemerintah Pusat atau Daerah yang membidangi Perkoperasian
  • Pejabat Pemerintah mendengarkan Draft Anggaran Dasar yang dibacakan pihak koperasi pendiri atau Notaris
Langkah 4 : Pembuatan Akta Koperasi
Akta Koperasi dibuat oleh Notaris (Kepmen 98 tahun 2004 tentang Notaris sebagai Pembuat Akta Koperasi) dan pejabat menyaksikan penandatangan akta dokumen pendirian.

Langkah 5 : Pengajuan Pengesahan Koperasi
Setelah terbentuk pengurus dalam rapat pendirian koperasi, maka untuk mendapatkan badan hukum koperasi, pengurus/pendiri/kuasa pendiri harus mengajukan permohonan badan hukum kepada pejabat terkait, sebagai berikut :
  • Para pendiri atau kuasa pendiri koperasi terlebih dulu mengajukan   permohonan pengesahan akta pendirian secara tertulis kepada diajukan   kepada Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, dengan  melampirkan :
  • Anggaran Dasar Koperasi yang sudah ditandatangani pengurus rangkap dua, aslinya bermaterai)
  • Berita acara rapat pendirian koperasi
  • Surat undangan rapat pembentukan koperasi
  • Daftar hadir rapat.
  • Daftar alamat lengkap pendiri koperasi.
  • Daftar susunan pengurus, dilengkapi photo copy KTP (untuk KSP/USP dilengkapi riwayat hidup).
  • Rencana awal kegiatan usaha koperasi
  • Neraca permulaan dan tanda setor modal minimal Rp.5.000.000 (lima juta rupiah) bagi koperasi primer dan Rp.15.000.000 (lima belas juta rupiah) bagi koperasi sekunder yang berasal dari simpanan pokok, wajib, hibah.
  • Khusus untuk KSP/USP disertai lampiran surat bukti penyetoran modal sendiri minimal Rp. 15.000.000 (lima belas juta rupiah) bagi koperasi primer dan Rp.50.000.000 (lima puluh juta rupiah) bagi koperasi sekunder yang berupa deposito pada bank pemerintah.
  • Mengisi formulir isian data koperasi.
  • Surat keterangan dari desa yang diketahui oleh camat.
  • Membayar tarif pendaftaran pengesahan akta pendirian koperasi sebesar Rp. 100.000 (seratus ribu rupiah).
  • Apabila permintaan pengesahaan akta pendirian koperasi telah dilakukan sesuai dengan ketentuan di atas kepada pendiri atau kuasa pendiri diberikan bukti penerimaan.
  • Pejabat koperasi, yaitu Kepala Dinas Koperasi dan UKM akan memberikan pengesahaan terhadap akta koperasi apabila ternyata setelah diadakan penelitian Anggaran dasar koperasi.
  • tidak bertentangan dengan Undang-undang Nomor 25 tahun 1992 tentang perkoperasian, dan
  • tidak bertentangan dengan ketertiban umum dan kesusilaan.
  1. Pejabat selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan terhitung  sejak penerimaan permohonan pengesahan badan hukum dari koperasi yang bersangkutan harus telah memberikan jawaban pengesahannya.
  2. JIKA DITOLAK dikarenakan berkas belum lengkap atau adanya perbaikan akta. Terhadap penolakan tersebut para pendiri dapat mengajukan ulang pengesahan akta pendirian koperasi dalam jangka waktu 1 bulan.



Firman Pra Setia Nugraha, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Pertama
Dinas Perikanan dan Pangan Kabupaten Banyuwangi


Selasa, 03 April 2018

TEKNIK BUDIDAYA : IKAN NILEM (Osteochilus vittatus)



Ikan nilem adalah salah satu komoditas ikan air tawar yang belum banyak di budidayakan di berbagai wilayah dan saat ini ikan nilem baru banyak dikembangkan didaerah tasikmalaya.
Ikan nilem ini mempunyai cita rasa yang sangat sepesifik dan gurih disbanding ikan air tawar lainnya karena ikan ini mengandung sodium glutamat dalam daging yang terbentuk alami yang mungkin disebkan pengaruh kebiasaan makan  pakan alami phito dan zoo plankton terutama ganggang yang tumbuh akibat pemupukan kolam.
Menurut jangkaru (1989), ikan nilem tahan terhadap penyakit, ikan nilem termasuk dalam kelompok omnivora,  di alam makanannya berupa periphyton dan tumbuhan penempel dengan demikian ikan nilem dapat berfungsi sebagai pembersih jaring apung. Potensi lain yang dimiliki  ikan nilem sampai saat ini telurnya yang sangat digemari oleh masyarakat karena cita rasanya yang gurih dan telur ikan nilem ine telah di ekspor ke Negara lain seperti Singapura, Taiwan, Malaysia dan Hongkong yang katanya sebagai pengganti kapier dan sebagai bahan pembuat saos. 
Ikan nilem juga diolah menjadi dendeng, abon, pepes dan snek ikan (baby fish) terutama yang mempunyai ukuran 5-7 gram.
Dengan pertimbangan keunggulan komperatif tersebut diatas ikan nilem sangat memungkinkan  sekali untuk dibudidayakan dan dikembangkan diberbagai wilayah.


Gambar 1. Ikan nilem (Osteochilus vittatus)


MEMILIH INDUK YANG BAIK 
Sebelum dilakukan pemijahan pemilihan induk adalah faktor penting. Keberhasilan pemijahan sangat ditentukan oleh kualitas induk dan lingkungan pemijahan induk harus memenuhi persyaratan yaitu:
Betina : Umurnya mencapai 1-1,5 tahun, berat badan sekitar 100 gram, bila diurut pelan-pelan ke arah genital ikan mengeluarkan cairan berwarna kekuning-kuningan.
Jantan : Perut mengembung dan terasa empuk ketika diraba, 8 bulan berat badan sekitar 100 gram, bila diurut perlahan-lahan kearah genital induk jantan akan mengeluarkan cairan seperti susu, dengan menejemen induk yang lebih intensif rematurasi induk ikan nilem diperlukan waktusekitar 3 bulan, dan dengan pakan yank intensif protein 30-42% sangat bagus untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas telur dan benih yang dihasilkan.

PEMIJAHAN BUATAN 
Metoda pemijahan ini adalah dengan penyuntikan menggunakan hormone reproduksi pada ikan jantan dan betina dengan tujuan agar menghasilkan pemijahan yang serentak dibandingkan dengan tanpa penyuntikan. 
Sistem ini akan memberikan hasil anakan yang dihasilkan lebih seragam dan akan memudahkan pemeliharaannya. Penyuntikan untuk ovulasi, menggunakan hormon ovaprim dengan dosis 0.3 ml/kg bobot ikan diberikan satu kali, sirip punggung. Pengeluaran telur (ovulasi) terjadi 9-11 jam setelah penyuntikan dan biasanya terjadi pada kisaran suhu air inkubasi 21-25°C.
Untuk mendapatkan jumlah sperma yang lebih banyak dapat dilakukan penyuntikan pada ikan jantan dengan ovaprim dosis 0.2 ml/kg dari bobot ikan. Pengeluaran sperma dilakukan sebelum pengeluaran telur (stripping betina), selanjutnya sperma diawetkan dalam larutan fisiologis atau larutan infuse NaCI 0.9% d encerkan 100 kali dan disimpan pada suhu antara 4-5°C (Legendre et al.1998), Pada kondisi demikian sperma nilem dapat bertahan hingga 8-12 jam dengan viabilitas > 80%.

PERSIAPAN PEMIJAHAN 
Mengkoleksi telur dengan melakukan pemijahan atau “stripping” pada bagian perut ikan betina yang sudah di ovulasi.
  1. Setelah diketaui terjadi ovulasi dibiarkan sekitar 30 menit - 1jam.
  2. Melakukan stripping dan telur ditampung dalam wadah/Waskom.
  3. Selanjutnya telur dan sperma dicampurkan dalam wadah dan diaduk secara perlahan menggunakan bulu ayam agar pembuahan dapat merata.
  4. Tambahan air sumber yang bersih sebayak 1-2 kali volume telur untuk mengaktifkan sperma.
  5. Proses pembuahan berlangsung selama 0.5 menit, setelah itu dilakukan pembilasan dengan air bersih untuk membuang sisa sperma yang mati.
  6. Telur yang dibuahi beri tanda dg inti telur berkembang 3-5 kali dari diameter awal dan berwarna transparan. Melakukan aerasi selama 24 jam digunakan sebagai media penetasan.
  7. Melakukan inkubasi telur dengan cara menebarkan telur kedalam akuarium.
  8. Telur yang dibuahi menetas dala, 23-27 jam pada suhu inkubasi 21-27°C. Penetasan dapat juga dilakukan didalam corong penetasan system air mengalir.

PEMELIHARAAN LARVA 
Pemeliharaan larva setelah menetas, larva siap diberi pakan dengan nauvili artemia setelah berumur 3-4 hari, dengan frekuensi setiap 4 jam. Selama 5 hari setelah itu ikan bias diberikan pakan buatan selama 15 hari dalam akuarium, setelah itu benih dideder kekolamk pendederan yang sudah dilakukan pemupukan, dengan pupuk TSP dan Urea masing-masing 10 g/m³, dilakukan pemupukan sebanyak ½ dosis dari pemupukan , selama pemeliharaan benih ikan diberikan pakan buatan sebanyak 4% dari bobot biomassa.
Pendederan ini berlangsung selama 3 bulan, biasanya dicapai ukuran benih 5-7 cm atau sekitar 5 gram dan siap dipanen. Hasil pemanenan ini benih diolah menjadi snek ikan/babyfish atau dibesarkan ke kolam pembesaran.
Demikian artikel tentang budidaya ikan nilem yang sangat mudah dan gampang, semoga panduan lengkap budidaya ini bisa bermanfaat bagi pembudidaya ikan nilem.


Firman Pra Setia Nugraha, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Pertama
Dinas Perikanan dan Pangan Kabupaten Banyuwangi